Syekh Google Bikin Bingung Muslim Belanda

REPUBLIKA.CO.ID,Generasi muda muslim di Belanda kerap mencari jawaban di internet untuk pertanyaan-pertanyaan besar mereka. Seperti: bagaimana cara jadi muslim yang baik di negara non-muslim Belanda? Kadang mereka malah bingung dengan jawaban-jawaban yang beredar di internet. Bisakah imam ‘cyber’ membantu mereka?

Bolehkah saya berenang di laut? Bolehkah saya memandikan manula? Pertanyaan-pertanyaan macam ini membuat kening sebagian besar orang Belanda berkerut, namun bagi muslim muda, ini pertanyaan serius.

Hal yang sulit bagi seorang muslim yang baik untuk menyesuaikan Islam dengan Belanda yang sekuler. Misalnya, mereka tak boleh mengambil hipotek karena muslim tak boleh membayar atau menerima bunga. Contoh lain: Muslim harus menyumbangkan sebagian penghasilan untuk zakat yang bertujuan sosial. Tapi bolehkah menyumbang ke organisasi sosial non-muslim? Apa yang haram dan apa yang halal untuk muslim Belanda? Daftar pertanyaan mereka masih panjang.

Yasmine El Ksaihi (24 tahun) duduk di kepengurusan organisasi Poldermoskee yang mencoba menyesuaikan Islam dalam kehidupan bermasyarakat Belanda. Ia menyatakan, generasi muda muslim berperang dengan berbagai pertanyaan, terutama pertanyaan-pertanyaan soal identitas mereka.

“Mereka sedang mencari jati diri. Sembilan dari sepuluh anak muda punya latar belakang religius, namun mereka biasanya tak punya pengetahuan luas soal Islam. Justru karena mereka dikonfrontasikan dengan pertanyaan-pertanyaan kritis soal Islam, mereka jadi sibuk mencari  tahu. Dan internet adalah salah satu tempat mencari jawaban.”

Menurut El Ksaihi, kritik terhadap islam membuat anak muda muslim Belanda lebih mendalami agama ini. Tapi pencarian di internet seringkali malah menimbulkan kebingungan. Tak lama sebelum pemilu Belanda, El Ksaihi menerima e-mail dari seorang muslim muda yang memperingatkan bahwa muslim yang baik tak boleh ikut pemilu.

Pendapatnya berdasar pada larangan di Arab Saudi yang ditemukannya di internet. Sehari sebelum pemilu, pemuda yang sama kembali mengirim e-mail, mengoreksi bahwa menurut interpretasi lain, memberi suara pada pemilu adalah halal.

Denim dan Jilbab

Kebingungan muncul karena aturan Islam yang ditemukan di internet berasal dari masa lalu dan budaya lain. Fatwa ini sama sekali tidak memperhitungkan masalah-masalah yang dipertanyakan muslim di Belanda. Untuk mengombinasikan islam dengan kehidupan mereka di Belanda, anak muda membuat aturan islam mereka sendiri. Misalnya, banyak muslimah yang memakai celana denim (haram) dengan jilbab (halal).

Banyak pertanyaan muslim muda Belanda yang tak akan muncul di negara-negara muslim. Misalnya: bolehkah kerja di swalayan yang menjual alkohol? Atau bagaimana jika Anda tak bisa sholat Jumat karena harus bekerja? Apakah Anda harus berhenti kerja atau mencari alternatif lain seperti sholat di toilet? Dan halalkah sholat di toilet?

Syeh Google

Menurut politikolog Zakaria Lyousoufi mencari jawaban di internet itu malah memancing makin banyak pertanyaan baru: “Saya pikir, banyak anak muda yang bingung ketika harus memilih. Sebagian besar tak tahu harus bertanya ke mana. Sekarang memang ada internet – namun jawaban-jawaban yang ditemukan sering tidak cocok. Jawabannya terlalu tegas, terlalu blak-blakan atau tidak realistis. Banyak yang bercanda, ‘Tanya saja ke Syekh Google, pasti ketemu jawabannya.'”

Mohammed El Aissati adalah pendiri Maroc.nl, forum diskusi yang banyak dikunjungi muslim Belanda. Sama seperti Lyousoufi, ia setuju bahwa jawaban yang ditemukan internet tidak membuat anak muda jadi lebih pintar atau bijak. Menurut El Aissati, internet sama seperti pasar ikan di mana semua orang bebas teriak-teriak dan imam amatir  bebas menyebar fatwa suka-suka.

“Kadang fatwa yang ditemukan konyol sekali, seperti fatwa yang mengharamkan Youtube dan Facebook. Asalnya juga tidak jelas. Sangat menggelikan bagi pemuda abad 21 yang terbiasa hidup dengan internet untuk mendengar dari Arab Saudi bahwa sejumlah situs dilarang.”

Namun jika Syeh Google lebih banyak menimbulkan kebingungan ketimbang menawarkan jalan keluar, ke mana anak muda harus bertanya? Bagi Mohammed El Aissati jawabannya jelas: seorang imam yang bisa berbahasa Belanda, mengerti pencarian anak muda muslim Belanda dan menasihati mereka lewat internet, membentuk semacam Mekkah digital untuk generasi muda. Mereka butuh seorang imam ‘cyber’ yang tahu, apakah keju Gouda halal.

Red: Krisman Purwoko

Sumber: radio netherlands

Republika.co.id, Rabu, 11 Agustus 2010, 18:56 WIB

(nahimunkar.com)