Syekh Puji Divonis Bebas

Akhirnya Pujiono Cahyo Widianto alias Syekh Puji bisa bernafas lega setelah Pengadilan Negeri Ungaran, Semarang, Selasa (13/10), memvonis bebas dalam kasus pernikahan usia dini. Majelis Hakim menyatakan bahwa tuntutan Jaksa tak jelas sehingga batal demi hukum.

Kontroversi pernikahannya mencuat ke publik setelah diketahui bahwa Syekh Puji menikahi gadis belia 11 tahun bernama Ulfa. Disinyalir pernikahan tersebut hanya berlatar belakang uang, dan kepentingan keluarga Ulfa. Tapi semua itu dibantah oleh keluarga Ulfa.

Usai sidang, Syekh Puji disambut dengan tangis haru kedua istrinya Umi Hani dan Lutfiana Ulfa,juga diikuti doa dan salawat dari para pendukung Syekh Puji.

(http://www.beritaterkinionline.com/2009/10/syekh-puji-divonis-bebas.html)

Sujud syukur

Syekh Puji langsung sujud syukur saat Hakim Ketua PN Ungaran, Hari Mulyanto, mengetuk palu. Bahkan, Syekh Puji menitikkan air mata. Tangis haru juga tampak pada wajah kedua istri Syekh Puji, Umi Hani dan Lutfiana Ulfa. Persidangan yang dipenuhi santri pondok pesantren yang diasuh Syekh Puji, Miftahul Jannah, berlangsung menarik. Sepanjang persidangan ratusan santri memanjatkan doa dan bersalawat memberikan dukungan kepada terdakwa. (http://berita.liputan6.com/hukrim/200910/247301/Syekh.Puji.Divonis.Bebas)

Kasus ini pernah disesalkan oleh pihak Polri karena polisi menjemput paksa Syekh Puji. Beritanya sebagai berikut:

Pujiono Cahyo Widianto alias Syech Puji kembali dijemput paksa oleh polisi, Selasa 14 Juli 2009 malam. Penangkapan itu berjalan dramatis, sempat adu argumentasi, Puji diseret menuju mobil polisi.

Belum sepenuhnya Puji masuk, mobil yang mengangkutnya sudah dijalankan. Penjemputan paksa dilakukan tim yang dipimpin langsung oleh Kepala Satuan Reskrim Kepolisian Semarang, AKBP Roy Hardi Siahaan. Penjemputan paksa Puji sempat dihadang ratusan karyawan dan santri pesantren milik pengusaha nyentrik itu.

Menurut Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Polri, Inspektur Jenderal Oegroseno dia menyesalkan penjemputan paksa Puji. “Penjemputan paksa saya sudah lihat di TV, kok seperti itu,” kata Oegroseno di Markas Besar Kepolisian, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Rabu 15 Juli 2009.

(http://nasional.vivanews.com/news/read/75331-mabes_polri__kok_puji_dipaksa_dan_diseret)

Berita tentang vonis bebas Syekh Puji dan dulunya dijemput paksa sebagai berikut:

Dakwaan Batal, Syekh Puji Bebas

13/10/2009 – 13:55

INILAH.COM, Ungaran – Sidang lanjutan yang mendengarkan putusan sela, membatalkan dakwaan Pujiono Cahyo Widianto. Karena itu, majelis hakim meminta JPU untuk membebaskan pria yang terkenal dengan nama Syekh Puji itu.

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Ungaran, Jawa Tengah, Selasa (13/10) dalam putusan selanya menyatakan, dakwaan atas terdakwa kasus pernikahan di bawah umur, Syekh Puji , batal demi hukum. Putusan sela No 233/Pid.B/2009/PN.Ung itu dibacakan ketua majelis Hari Mulyanto, dengan dua anggota masing-masing Salman Alfaris dan Aris Gunawan.

Tidak hanya itu, majelis hakim juga memerintahkan kepada jaksa agar terdakwa dikeluarkan dari tahanan. “Terdakwa dapat segera dikeluarkan dari tahanan,” kata Hari.

Dakwaan jaksa penuntut umum, menurutnya, tidak memenuhi sebagian yang telah ditentukan dalam pasal 143, ayat 2 huruf B KUHP. “Surat dakwaan yang pada prinsipnya mengenai persetubuhan dibatalkan karena kami nilai kurang cermat, jelas, dan lengkap,” katanya.

Ia menuturkan, dalam surat dakwaan tidak disebutkan secara jelas mengenai keadaan dan cara terdakwa melakukan perbuatan tersebut. Selain itu, JPU dalam surat dakwaan yang menyebutkan persetubuhan lebih dari sekali juga tidak diuraikan.

“Seharusnya dalam dakwaan dijelaskan secara detail kapan dan dilakukan dan tempat secara spesifik,” katanya.

Sidang kasus pernikahan di bawah umur antara Syekh Puji (Pujiono Cahyo Widianto) dengan Lutviana Ulfa (12), dengan agenda pembacaan putusan sela oleh majelis hakim dimulai pukul 10:00 WIB. Sidang berakhir pukul 11:00 WIB dihadiri seorang penasehat hukum terdakwa, Narisqa, dan juga empat jaksa penuntut umum yang diketuai oleh Suningsih.

Persidangan dilaksanakan secara terbuka untuk umum, menurut Hari, karena sesuai aturan sidang dengan agenda putusan harus sidang terbuka.

Sebelum sidang, masa pendukung Syekh Puji, yakni satri-santriwan Miftahul Jannah pondok serta karyawan PT Sinar Lendoh Terang (PT Silenter) milik Syekh Puji, memadati depan gedung Pengadilan Negeri Ungaran.

Selain itu, masa dari Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak (JPPA) Jateng, Jaringan Perempuan Yogyakarta (JPY) Yogyakarta, dan Aliansi Perlindungan Perempuan dan Anak (APPA) Jepara juga mengikuti perjalanan sidang dari luar. [*/jib]

http://www.inilah.com/berita/politik/2009/10/13/167391/dakwaan-batal-syekh-puji-bebas/

Penjemputan Paksa Syech Puji

Mabes Polri: Kok Syech Puji Diseret-seret

“Ada apa itu? Jaman sekarang sudah tidak ada seperti itu. Saya sesalkan.”

Rabu, 15 Juli 2009, 16:01 WIB

Elin Yunita Kristanti, Desy Afrianti

VIVAnews –  Dianggap tidak kooperatif selama dalam masa penangguhan penahanan, Pujiono Cahyo Widianto alias Syech Puji kembali dijemput paksa oleh polisi, Selasa 14 Juli 2009 malam. Penangkapan itu berjalan dramatis, sempat adu argumentasi, Puji diseret menuju mobil polisi.

Belum sepenuhnya Puji masuk, mobil yang mengangkutnya sudah dijalankan. Penjemputan paksa dilakukan tim yang dipimpin langsung oleh Kepala Satuan Reskrim Kepolisian Semarang, AKBP Roy Hardi Siahaan. Penjemputan paksa Puji sempat dihadang ratusan karyawan dan santri pesantren milik pengusaha nyentrik itu.

Menurut Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Polri, Inspektur Jenderal Oegroseno dia menyesalkan penjemputan paksa Puji. “Penjemputan paksa saya sudah lihat di TV, kok seperti itu,” kata Oegroseno di Markas Besar Kepolisian, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Rabu 15 Juli 2009.

Oegroseno mengatakan dia sudah menelepon bidang Profesi dan Pengamanan Polda Jawa Tengah untuk melakukan pengecekan sebelum tim Polri datang melakukan pemeriksaan. “Ada apa itu? Jaman sekarang sudah tidak ada seperti itu. Saya sesalkan, harusnya nggak seperti itu, seharusnya polisi profesional,” tambah dia.

Penangkapan paksa Puji juga disesalkan pengacaranya, Agus Astra Jaya. Menurutnya, polisi telah bertindak arogan . “Mestinya secara baik-baik dong, nggak usah ada pemaksaan ini negara hukum,” kata dia.

Puji diperkarakan dalam kasus menikahi anak di bawah umur yakni Lutviana Ulfa (12). Pengusaha nyentrik itu bahkan sesumbar akan menikah lagi dengan anak berusia lebih muda. Atas perbuatannya itu dia dianggap melanggar UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Puji bahkan sempat menjadi tahanan Kepolisian Kota Besar Semarang, Jawa Tengah, Rabu 18 Maret 2009 sebelum akhirnya dibebaskan pada Selasa 31 Maret 2009, setelah permohonan penangguhan penahanannya dikabulkan.

Puji tak sendirian, mertuanya Suroso juga ditetapkan sebagai tersangka. Suroso dini hari tadi  juga dijemput paksa polisi.

•VIVAnews(http://nasional.vivanews.com/news/read/75331-mabes_polri__kok_puji_dipaksa_dan_diseret)

Kondisi terbalik

Baru ada di dunia ini, orang menggauli isterinya, dan secara hukum Islam adalah sah, sedang meyakini agama Islam itu dilindungi Undang-undang Dasar, lha kok dijemput paksa, kemudian ditahan, kemudian diadili. Anehnya, pelacuran bahkan diberi tempat, diselenggarakan perzinaan untuk umum, dan masih dijaga lagi. Ini keadaan macam apa sebenarnya. Makanya Allah Ta’ala murka, di antaranya lokasi pelacuran seluas 7 hektare di pantai Pangandaran Jawa Barat disapu dengan bencana hingga ratusan manusianya mati seketika. Pantai Pangandaran, tempat pelacuran seluas 7 (tujuh) hektare di Jawa Barat yang direstui penguasa setempat dengan dalih pariwisata pun luluh lantak. Gempa bumi dan tsunami menghantam wilayah Jawa Barat telah meluluhlantakkan wilayah pantai Jawa Barat itu 17/07 2006. Sedikitnya 119 orang dinyatakan meninggal dunia, 84 hilang, dan 70 orang luka tersebar di lima kecamatan yakni Cimekar, Parigii, Pengandaran, Cijulang dan Sidomulis. Sedangkan kerusakan bangunan mencapai 500 rumah hancur. Sadarlah wahai manusia, sekalipun berdalih menegakkan hukum, tetapi hukum Allah Ta’ala dan hukuman-Nya lebih perlu diperhatikan. Bukan malah orang mengikuti hukum Allah Ta’ala secara sah justru diseret-seret ke tahanan kemudian ke pengadilan. Murka Allah yang telah jatuh ke negeri ini dengan aneka adzab dan bencana, perlu jadi pelajaran. Dan doa orang yang didhalimi itu tiada dinding (pembatas) antara dia dengan Allah Ta’ala. (Redaksi nahimunkar.com).