Syi’ah Agama Tersendiri


Ungkapan mencampuradukkan berbagai madzhab ataupun pendekatan madzhab ataupun madzhab lima mengandung makna bahwa Syi’ah itu seakan madzhab dalam Islam. Namun dalam pengkajian Abdul Hakim Abdad, dalam seminar di Bogor 1996 dan bahkan dalam seminar di Masjid Istiqlal Jakarta 1997, Syi’ah itu bukan madzhab dalam Islam, tapi agama tersendiri, maka disebut sebagai agama Syi’ah.

Selain bukti-bukti mengkafirkan para shahabat Nabi Muhammad SAW , Syi’ah memang sangat fatal sekali penyimpangannya di bidang akidah, dan tidak sedikit sekte syi’ah yang menuhankan Sayyidina Ali. Hampir setiap meninggalnya imam mereka, ada sekte yang menganggap imamnya tidak meninggal. Sebaliknya ada juga sekte Syi’ah yang justru mengkafirkan Ali karena mau berdamai dengan Mu’awiyah ataupun membaiat Abu Bakar. Sedang Syi’ah Itsna ‘Asyariyah yang menjadi mayotitas kini dalam persyi’ahan, mempercayai imamnya yang ke-12 itu ghaib, hilang waktu kecil, dan nantinya akan muncul sebagai Imam Mahdi. Ini dampaknya amat luas bagi akidah Islam, padahal menurut WAMY, imam ke-12 itu sendiri adalah fiktif. Namun di Bangil Jawa Timur, Husein Al-Habsyi membuat buku tentang Jum’at Menurut Ahli Bait, yang isinya tidak wajib berjumatan selama belum ada Imam Mahdi.
Mendiang tokoh Syi’ah Bangil itu meresahkan umat Islam, namun kegiatannya diteruskan oleh anaknya, Hidayat, yang mengajari Syi’ah kepada orang dari luar Bangil di rumahnya. Karena ajarannya itu meresahkan masyarakat, maka Oktober 1997 lalu Hidayat digrebeg oleh pemuda-pemuda Islam ketika sedang mengajari Syi’ah.

Kasus bentrokan fisik sampai pukul-pukulan pun pernah terjadi sebelumnya antara Hidayat (Syi’ah) dan Hasan (Sunni) sampai ke polisi dan ke pengadilan. Hal yang hampir sama terjadi pula di Pasuruan, Jawa Timur Oktober 1997. Keresahan di masyarakat akibat penyebaran Syi’ah itu tampak nyata, karena bentrokan pun sampai ada penghancuran rumah. Sehingga sebenarnya lengkaplah keresahan masyarakat itu.

Kalau dalam pembukaan seminar Syi’ah di Masjid Istiqlal 1997, KH. Hasan Basri, Ketua Umum MUI mengadu bahwa Syi’ah itu meresahkan batin umat Islam, maka kini terbukti, keresahan itu bukan hanya batin tetapi lahir dan batin. Terbukti panasnya suasana bentrok fisik dan penghancuran bangunan terjadi di Bangil dan Pasuruan Jawa Timur.[1]

Perbedaan antara Ahlussunnah Wal Jamaah dengan Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah

Banyak orang yang menyangka bahwa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) dianggap sekedar dalam masalah Khilafiyah Furu’iyyah, seperti perbedaan antara NU dengan Muhammadiyyah, antara Madzhab Syafi’I dengan Madzhab Maliki.

Karenanya dengan adanya ribut-ribut masalah Sunni dengan Syi’ah, mereka berpendapat agar perbedaan pendapat tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Selanjutnya mereka berharap, apabila antara NU dengan Muhammadiyyah sekarang bisa diadakan perdekatan-perdekatan demi Ukhuwah Islamiyyah, lalu antara Syi’ah dan Sunni tidak dilakukan?

Oleh karena itu, di saat Muslimin bangun melawan serangan Syi’ah, mereka menjadi penonton dan tidak ikut berkiprah.

Apa yang mereka harapkan tersebut, tidak lain dikarenakan minimnya pengetahuan mereka mengenai akidah Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Sehingga apa yang mereka sampaikan hanya terbatas pada apa yang mereka ketahui.

Semua itu dikarenakan kurangnya informasi pada mereka akan hakekat ajaran Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah), disamping kebiasaan berkomentar, sebelum memahami persoalan yang sebenarnya.

Sedangkan apa yang mereka kuasai, hanya bersumber dari tokoh-tokoh Syi’ah yang sering berkata bahwa perbedaan Sunni dengan Syi’ah seperti perbedaan antara Madzhab Syafi’I dengan Madzhab Maliki.

Padahal perbedaan antara Madzhab Maliki dan Madzhab Syafi’i hanya dalam masalah furu’iyah, sedangkan perbedaan antara Ahlussunnah Wal Jama’ah dengan Syi’iah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah), maka perbedaan-perbedaan di samping dalam furu’ juga dalam ushul.
Rukun iman mereka berbeda dengan rukun iman kita. Rukun Islamnya juga berbeda, begitu pula kitab- kitab Haditsnya juga berbeda, bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama’-ulama’ Syi’ah bahwa al-Qur’an mereka juga berbeda dengan Alqur’an kita (Ahlussunnah).
Apabila ada dari ulama mereka yang pura–pura (Taqiyah) mengatakan bahwa Al-Qur’annya sama maka dalam menafsirkan ayat-ayatnya sanggat berbeda dan berlainan.

Sehingga tepatlah apabila ulama-ulama Ahlussunnah Wal Jamaah mengatakan : Bahwa Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) adalah satu agama tersendiri.

Melihat pentingnya persoalan tersebut, maka di bawah ini kami nukilkan sebagian dari perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah dengan akidah Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah).

1. Ahlussunnah: Rukun Islam kita ada 5 (lima):

a) asy-Syahadatain

b) as-Sholah

c) as-Shoum

d) az-Zakah

e) al-Hajj.

Syi’ah: Rukun Islam Syi’ah juga ada 5 (lima) tapi berbeda:

a) as-Sholah

b) as-Shoum

c) az-Zakah

d) al-Haj

e) al-Wilayah.

2. Ahlussunnah: Rukun Iman ada 6 (enam):

a) Iman Kepada Allah

b) Iman kepada Malaikat-malaikat-Nya

c) Iman Kepada Kitab-kitab-Nya

d) Iman Kepada Rasul-rasul-Nya.

e) Iman Kepada Yaum al-Akhir/Hari Kiamat

f) Iman Kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah.

3. Ahlussunnah: Dua kalimat Syahadat.

Syi’ah: Tiga kalimat Syahadat. Disamping Asyhadu An Laailaha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah, masih ditambah dengan menyebut dua belas imam-imam mereka.

4. Ahlussunnah: Percaya kepada imam- imam tidak termasuk rukun iman. Adapun jumlah imam-imam Ahlussunnah tidak terbatas. Selalu timbul imam-imam , sampai Hari Kiamat. Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan.
Syi’ah: Percaya terhadap imam-imam mereka, termasuk rukun iman. Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syi’ah dianggap kafir dan akan masuk neraka.

5. Ahlussunnah: Khulafaurrasyidin yang diakui (sah) adalah :

a) Abu Bakar

b) Umar

c) Utsman

d) Ali Radhiyallahu Anhum

Syi’ah: Ketiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman) tidak diakui oleh Syi’ah. Karena dianggap telah merampas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (padahal Imam Ali sendiri membai’at dan mengakui kekhalifahan mereka).

6. Ahlussunnah: Khalifah (Imam) adalah manusia biasa, yang tidak mempunyai sifat ma’shum. Berarti mereka dapat berbuat salah/dosa/lupa, Karena sifat ma’shum hanya dimiliki oleh para Nabi.

Syi’ah: Para Imam yang jumlahnya dua belas tersebut mempunyai sifat ma’shum, seperti para Nabi.

7. Ahlussunnah: Dilarang mencaci-maki para Shahabat.

Syi’ah: Mencaci-maki para Shahabat tidak apa-apa bahkan Syi’ah berkeyakinan, bahwa para shahabat setelah Rasulullah SAW wafat, mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja. Alasannya karena para shahabat membai’at Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah.
8. Ahlussunnah: Siti Aisyah istri Rasulluah sangat dihormati dan dicintai. Beliau adalah Ummul Mu’minin.

Syi’ah: Siti Aisyah dicaci-maki, difitnah, bahkan dikafirkan.

9. Ahlussunnah: Kitab-kitab Hadits yang dipakai sandaran dan rujukan Ahlussunnah adalah Kutubussittah.

a) Bukhori

b) Muslim

c) Abu Dawud

d) Turmudzi

e) Ibnu Majah

f) an-Nasa’i

(kitab-kitab tersebut beredar di mana-mana dan dibaca oleh kaum Muslimin sedunia).

Syi’ah: Kitab-kitab rujukan Syi’ah ada empat :

a) al-Kaafi

b) al-Istibshor

c) Man Laa Yahdhuruhu al-Faqih

d) at-Tahdziib

(Kitab-kitab tersebut tidak beredar, sebab kebohongannya takut diketahui oleh pengikut-pengikut Syi’ah).

10. Ahlussunnah: Al-Qur’an tetap orisinil.

Syi’ah: al-Qur’an yang ada sekarang ini menurut pengakuan ulama Syi’ah tidak orisinil. Sudah dirubah oleh para Shahabat (dikurangi dan ditambahi).

11. Ahlussunnah: Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Syi’ah: Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang cinta kepada Imam Ali. Walaupun orang tersebut tidak taat kepada Rasulullah. Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang memusuhi Imam Ali, walaupun orang tersebut taat kepada Rasulullah.

12. Ahlussunnah: Akidah Raj’ah tidak ada dalam ajaran Ahlussunnah. Raj’ah adalah besok di hari akhir zaman sebelum Kiamat, manusia akan hidup kembali. Dimana saat itu Ahlul Bait akan balas dendam kepada musuh-musuhnya.

Syi’ah: Raj’ah adalah salah satu akidah Syi’ah. Dimana diceritakan bahwa nanti di akhir zaman, Imam Mahdi akan keluar dari persembunyiannya. Kemudian dia pergi Madinah untuk membangunkan Rasulullah, Imam Ali, Siti Fatimmah, serta Ahlul Bait yang lain. Setelah mereka semuanya bai’at kepadanya, diapun selanjutnya membangunkan Abu Bakar, Umar, Aisyah. Kemudian ketiga orang tersebut disiksa dan disalib, sampai mati seterusnya diulang-ulang sampai ribuan kali, Sebagai balasan atas perbuatan jahat mereka kepada Ahlul Bait.
Keterangan: Orang Syi’ah mempunyai Imam Mahdi sendiri. Berlainan dengan Imam Mahdinya Ahlussunnah, yang akan membawa keadilan dan kedamaian.

13. Ahlussunnah: Mut’ah (kawin kontrak), sama dengan perbuatan zina dan hukumnya haram.

Syi’ah: Mut’ah sangat dianjurkan dan hukumnya halal. Halalnya Mut’ah ini dipakai oleh golongan Syi’ah untuk mempengaruhi para pemuda agar masuk Syi’ah. Padahal haramnya Mut’ah juga berlaku di zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib.

14. Ahlussunnah: Khamer/ Arak tidak suci.

Syi’ah: Khamer/ Arak suci.

15. Ahlussunnah: Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap tidak suci.

Syi’ah: Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap suci dan mensucikan.

16. Ahlussunnah: Di waktu Shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri hukumnya sunnah.
Syi’ah: Di waktu Shalat meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri membatalkan Shalat. (jadi Shalatnya bangsa Indonesia yang diajarkan Wali Songo oleh orang-orang Syi’ah dihukumi tidak sah/ batal, sebab meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri).
17. Ahlussunnah: Mengucapkan Amin di akhir Surat al-Fatihah dalam Shalat adalah sunnah.
Syi’ah: Mengucapkan “Amin” di akhir Surat al-Fatihah dalam Shalat dianggap tidak sah/batal Shalatnya. (jadi Shalatnya Muslimin di seluruh dunia dianggap tidak sah, karena mengucapkan “Amin” dalam Shalatnya).

18. Ahlussunnah: Shalat Jama’ diperbolehkan bagi orang yang bepergian dan bagi orang yang mempunyai udzur Syar’i.

Syi’ah: Shalat Jama’ diperbolehkan walaupun tanpa alasan apapun.

19. Ahlussunnah: Shalat Dhuha disunnahkan.

Syi’ah : Shalat Dhuha tidak dibenarkan. (padahal semua Auliya’ dan Shalihin melakukan Shalat Dhuha).

Demikian telah kami nukilkan perbedaan-perbedaan antara akidah Ahlussunah Wal Jamaah dan akidah Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Sengaja kami nukil sedikit saja, sebab apabila kami nukil seluruhnya, maka akan memenuhi halaman-halaman buku ini.
Harapan kami semoga pembaca dapat memahami benar-benar perbedaan-perbedaan tersebut. Selanjutnya pembaca yang mengambil keputusan (sikap).

Masihkah mereka akan dipertahankan sebagai Muslimin dan Mukminin? (walaupun dengan Muslimin berbeda segalanya)

Sebenarnya yang terpenting dari keterangan diatas adalah agar masyarakat memahami benar-benar, bahwa perbedaan yang ada antara Ahlussunah Wal Jamaah dan akidah Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) itu, disamping dalam Furu’ (cabang-cabang agama) juga dalam Ushul (pokok/dasar agama).

Apabila tokoh-tokoh Syi’ah sering mengaburkan perbedaan-perbedaan tersebut, serta memberikan keterangan yang tidak sebenarnya, maka hal tersebut dapat kita maklumi, sebab mereka itu sudah memahami benar-benar, bahwa Muslimin Indonesia tidak akan terpengaruh atau tertarik pada Syi’ah, terkecuali apabila disesatkan (ditipu).

Oleh karena itu, sebagian besar orang-orang yang masuk Syi’ah adalah orang-orang yang tersesat, yang ditipu oleh bujuk rayu tokoh-tokoh Syi’ah.

Akhirnya, setelah kami menyampaikan perbedaan-perbedaan antara Ahlussunah dengan Syi’ah, maka dalam kesempatan ini kami menghimbau kepada Alim Ulama serta para tokoh masyarakat, untuk selalu memberikan penerangan kepada umat Islam mengenai kesesatan ajaran Syi’ah. Begitu pula untuk selalu menggalang persatuan sesama Ahlussunnah dalam menghadapi rongrongan yang datangnya dari golangan Syi’ah. Serta lebih waspada dalam memantau gerakan Syi’ah di daerahnya. Sehingga bahaya yang selalu mengancam persatuan dan kesatuan bangsa kita dapat teratasi.

Selanjutnya kami mengharap kepada aparat pemerintah untuk lebih peka dalam menangani masalah Syi’ah di Indonesia. Sebab bagaimanapun, kita tidak menghendaki apa yang sudah mereka lakukan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, terulang di Negara kita.
Semoga Allah selalu melindungi kita dari penyesatan orang-orang Syi’ah dan akidahnya. Amin.
***
Dari buku H. Muhammad Najih Maimoen berjudul Membuka Kedok Tokoh-Tokoh Liberal dalam Tubuh NU Informasi, Penyimpangan dan Jawabannya, postingan www.burhaanms.co.cc

(nahimunkar.com)


[1] Lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Aliran dan Paham Sesat di Indoneasia. Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2002, halaman 134.