Syi’ah dan Artalyta Suryani


Syi’ah sudah jelas merupakan induk kesesatan. Derivat dari paham, ajaran dan doktrin sesat Syi’ah bisa ditemui pada berbagai aliran dan paham sesat yang beredar di dunia termasuk Indonesia. Dalam bahasa sederhana, JIL (Jaringan Islam Liberal) itu derivat Syi’ah, begitu juga dengan Ahmadiyah, LDII, dan sebagainya merupakan derivat Syi’ah. Perlu kajian khusus yang mengupas Syi’ah sebagai induk kesesatan dan seluruh derivatnya. Paling kurang, seluruh aliran sesat pasti menentang Sunnah, sedangkan menentang Sunnah itu adalah pokok dari Syi’ah.

Apa hubungan antara Syi’ah dengan Artalyta Suryani? Yang jelas, Artalyta Suryani (perempuan) yang nonpri dan non Muslim ini tidak berpaham Syi’ah. Namanya menjadi terkenal karena ia menjadi tokoh utama dalam skandal penyuapan jaksa Urip Tri Gunawan (41 tahun), sebesar 660.000 dollar AS atau setara dengan Rp 6,1 miliar.

Peristiwa tertangkapnya Urip oleh KPK terjadi sekitar tiga hari setelah Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kemas Yahya Rahman mengumumkan penghentian pemeriksaan perkara Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) pemegang saham Bank Central Asia Anthony Salim dan Bank Dagang Nasional Indonesia Sjamsul Nursalim.

Sejak Juli 2007, sebelum dinon-aktifkan, Urip menjabat sebagai ketua tim pemeriksa untuk kasus BLBI II yang menangani kasus pelanggaran penggunaan dana BLBI yang dikucurkan kepada Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI), milik konglomerat Sjamsul Nursalim. Dan Artalyta alias Aying adalah orang kepercayaan Sjamsul Nursalim.

Jaksa Urip Tri Gunawan tertangkap tangan di salah satu rumah milik Sjamsul Nursalim di kawasan elit Simprug, Jakarta Selatan, pada Ahad petang (02 Maret 2008). Sjamsul Nursalim sendiri tidak mukim di situ, karena ia bersembunyi (bermukim) di Singapura, untuk menghindari jeratan hukum. Sjamsul adalah pemegang saham utama BDNI, yang mempunyai total utang BLBI sebesar Rp28,1 triliun.

Artalyta sebagai orang kepercayaan Sjamsul selain pandai –dan berhasil– melakukan lobby kepada petinggi negara, juga lincah mendekati elite partai. Menurut catatan detikcom (04 Mar 2008), Artalyta pernah masuk ke dalam jajaran pengurus DPP PKB (Partai Kebangkitan Bangsa, partainya wong NU –Nahdlatul Ulama) sebagai Bendahara menggantikan Erman Soeparno, yang kala itu diangkat menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans).

Selama ini, Artalyta memang menjalankan fungsi dan peranan sebagai public relation untuk kelompok Sjamsul Nursalim, salah satu konglomerat hitam yang sudah mendapat SP3 dari pemerintah, ia juga menjalankan fungsi dan peranan melakukan lobby kepada tokoh pemegang kekuasaan, sejak sebelum SBY (Soesilo Bambang Yudhoyono) jadi presiden, seperti Presiden Gus Dur (Abdurrahman Wahid) dan Presiden Megawati.

Pada 15 April 2007 lalu, Presiden SBY menghadiri resepsi perkawinan putra dari Artalyta yaitu Rommy Dharma Satriawan, yang berlangsung di Hall A23 Pekan Raya Jakarta. Selain SBY, hadir juga Agung Laksono, dan beberapa petinggi nasional, juga petinggi Partai Demokrat.

Kehadiran Presiden Republik Indonesia pada sebuah resepsi perkawinan seperti itu tentu menunjukkan betapa si pemilik hajat adalah sosok penting dan bermakna bagi SBY sang presiden. Meski kehadiran SBY hanya sebentar, namun sempat berfoto dengan kedua mempelai dan keluarganya, tetap menunjukkan bahwa ada hubungan spesial di antara mereka.

Dan yang lebih penting, peristiwa tersebut apakah memungkinkan bahwa SBY dan konglomerat (hitam) ada kaitan. Dari sisi lain, kenyataan sekarang, mengapa upaya pemberantasan korupsi, termasuk BLBI, berjalan seperti tebang pilih, mengutamakan yang kecil-kecil, padahal kasus korupsi yang jauh lebih besar jumlah rupiahnya (triliunan) jauh lebih bermakna untuk membangkitkan ekonomi nasional.

Nampaknya kita tidak bisa berharap SBY mau dengan serius menyelesaikan kasus BLBI. Buktinya, SBY tidak hadir di gedung DPR-MPR saat interpelasi BLBI, namun ia menghadiri acara Cap Go Meh yang diselenggarakan Metro TV Februari lalu.

Bila pejabat sekelas jaksa Urip Tri Gunawan saja diamplopi 660 ribu dolar AS (atau setara dengan Rp 6,1 miliar), maka bagaimana lagi seandainya yang pangkatnya lebih tinggi.

Kasus penyuapan jaksa Urip Tri Gunawan ini kemungkinan ibarat puncak gunung es, hanya sebagian kecil yang tampak di mata, namun sesungguhnya jauh lebih dahsyat di bawah permukaan.

Boleh jadi, keluarga Sjamsul Nursalim pun akan berkilah bahwa kasus penyuapan itu tanpa sepengetahuan mereka sehingga mereka tidak bertanggung jawab atas itu semua, dan seluruh beban dipikulkan pada pundak Artalyta.

Seharusnya, tertangkapnya Artalyta bisa dijadikan pintu tol menuju penangkapan Sjamsul Nursalim, dan dijadikan momentum mengungkap kembali kasus BLBI, serta memenjarakan pejabat dan konglomerat hitam yang terlibat kasus ini, termasuk mengusut seluruh mantan presiden sebelum SBY.

Menurut Kompas edisi 04 Maret 2008, Artalyta Suryani adalah Wakil Komisaris Utama di PT Indonesia Prima Property Tbk, perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan perumahan hotel dan apartemen, pusat pertokoan dan perkantoran. Sedangkan jabatan Komisaris Utamanya dipegang oleh mantan Kapolri Jenderal (Purnawirawan) Dibyo Widodo. Perusahaan ini berkantor di Wisma Diners Club Lantai 3, Jalan Jenderal Sudirman Kavling 34, Jakarta.

Yang menarik, webmaster situs Islam swaramuslim.net atau swaramuslim.com berkantor di sini. Ia masih kerabat dekat Sjamsul, dan bekerja di PT Indonesia Prima Property Tbk sebagai salah satu anak buahnya Artalyta. Dari tempat inilah swaramuslim dioperasikan, sejak beberapa tahun lalu. Dan yang telah sama-sama kita ketahui, sang webmaster adalah salah satu penganut (pendukung) paham Syi’ah, sebagaimana bisa dilihat dari beberapa gelintir materi yang pernah dipublikasikan situs tersebut.

Secara langsung dan tegas memang tidak ada kaitan apa-apa antara Artalyta dengan paham sesat Syi’ah. Namun dari data-data di atas, setidaknya kita jadi menduga-duga, apakah ada kaitan invisible?

Selama ini swaramuslim diposisikan sebagai salah satu situs Islam garis keras, radikal, fundamentalis, yang sekali-kali menjajakan Syi’ah. Sebagian besar isinya merupakan copy paste dari situs lain seperti hidayatullah.com. Materi tentang (dukungan atau bahkan penyebaran) Syi’ah biasanya dibuat sendiri oleh sang webmaster, atau kontribusi dari luar yang juga pendukung Syi’ah.

Masih ingat kasus pelarangan jilbab di superstore SOGO? Harian Republika 24 Januari 2002 memberitakan tentang muslimah bernama Misye yang bekerja di SOGO (Jakarta Pusat), namun karena ia tetap berjilbab, maka pihak manajemen SOGO pun memberikan alternatif: terus bekerja atau mengundurkan diri. Misye akhirnya memilih mundur dari SOGO demi mempertahankan berjilbab.

SOGO kala itu adalah salah satu superstore paling terkemuka, yang sebagian sahamnya dimiliki Sjamsul Nursalim. Salah seorang manajemen yang bersikap diskriminatif terhadap muslimah berjilbab seperti Misye tadi, ternyata masih kerabat dekat Sjamsul Nursalim yang tak lain juga kerabat amat dekat dari webmaster swaramuslim tadi.

Sikap manajemen SOGO kala itu terkesan seperti menantang perang, karena larangan itu terjadi di era reformasi. Apalagi bila dibandingkan dengan negara super sekuler seperti Amerika Serikat, di sana karyawati yang bekerja di lingkungan pemerintahan federal AS saja dibolehkan mengenakan jilbab, menjalankan shalat lima waktu, membaca al-Qur’an dan sebagainya (Republika, 10 Agustus 1997). Ketentuan itu bahkan dibuat secara detil (tertulis) dan dikeluarkan secara resmi oleh Bill Clinton (Presiden AS kala itu). Begitulah kenyataannya, ternyata keluarga Sjamsul lebih anti Islam dibanding pemerintah sekuler super teroris Amerika Serikat.