Takut Kena Kutukan, Massa Usir Peserta Kongres Gay-Lesbian dan Menutup Kantor Gay di Surabaya

Massa menggeruduk Hotel Oval di Surabaya agar kongres gay-lesbian se-Asia yang tak diberi izin oleh polisi itu tak jadi berlangsung. Massa ini memang berniat mengusir para peserta konferensi agar hengkang dari Surabaya. Alasannya, mereka khawatir kehadiran mereka akan membuat Sang Pencipta murka.

Sementara itu warga pun berniat untuk menutup kantor GAYa Nusantara di Surabaya yang ternyata markas kaum penyimpangan sex yang dalam Islam sangat dilarang bahkan hukumannya hukum bunuh itu.

Inilah berita-beritanya:

Takut Kena Kutukan, Peserta Konferensi Gay-Lesbian Diusir

Jum’at, 26 Maret 2010 | 18:18 WIB

TEMPO Interaktif, Surabaya – Forum Umat Islam (FUI) Surabaya menggeruduk hotel Oval yang terletak di Jalan Diponegoro Surabaya, tempat menginap peserta konferensi Gay dan Lesbian.

Massa ini memang berniat mengusir para peserta konferensi agar hengkang dari Surabaya. Alasannya, mereka khawatir kehadiran mereka akan membuat Sang Pencipta murka.

“Dulu zaman nabi Lut pernah ada kaum seperti ini berkumpul dan Allah marah akibatnya bumi dibalik. Kami tidak ingin kehadirin pecinta sesama jenis ini membuat Allah marah,” kata Arukat Jaswadi, koordinator FUI, Jumat (26/3).

Karennya, massa FUI ini mendesak seluruh peserta meninggalkan Surabaya hari ini juga. Jika tidak, FUI mengancam tetap akan bertahan di hotel dan akan mengusir paksa peserta konferensi.

Dari pantauan Tempo, hingga sore ini, massa dari FUI masih bertahan di Lobby hotel. Sedangkan beberapa peserta kongres tampak kebingungan karena tak berani masuk hotel.

Rencananya, konferensi memang bakal diadakan hari ini. Sekitar 70 dari 150 peserta yang diundang pun sudah datang di Surabaya. Namun, karena tak izin dari kepolisian tak turun, konferensi urung digelar. “Meski tidak konferensi, akhirnya kita ketemuan saja,” kata BJD Gayatri, seorang peserta konferensi.

Dari catatan Gayatri yang juga pendiri Koalisi Perempuan ini, meski urung konferensi, akhirnya peserta melakukan pertemuan biasa.

ROHMAN TAUFIQ

http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2010/03/26/brk,20100326-235911,id.html

Peserta Kongres Gay Dipaksa Keluar Hotel

Benny Christian

27/03/2010 05:38

Liputan6.com, Surabaya: Penolakan terhadap kongres gay-lesbian dan transgender di Surabaya, Jawa Timur, terus berlanjut. Puluhan pemuda dari beberapa ormas Islam dan elemen mahasiswa mendatangi Hotel Oval yang menjadi tempat menginap peserta kongres, Jumat (26/3). Mereka memaksa pihak hotel untuk memberitahukan seluruh tamu konggres yang menginap di hotel itu untuk keluar.

Namun, permintaan ini tidak dipenuhi pengelola hotel karena tamu yang menginap berasal dari mancanegara. Tak lama kemudian terjadi kesepakatan antara polisi, pengelola hotel, dan elemen ormas Islam untuk mengeluarkan puluhan peserta domestik dari hotel. Sedangkan peserta dari mancanegara dibolehkan menginap di hotel sesuai dengan jadwal mereka.

Untuk memastikan kesepakatan ini, beberapa anggota ormas, perwakilan mahasiswa, serta polisi masih berjaga di hotel untuk mengawasi puluhan tamu mancanegara yang juga peserta konggres. Pasalnya, dikhawatirkan mereka akan kembali menggelar gathering sehingga melanggar kesepakatan yang dibuat [baca: Kongres Gay-Lesbian Dibatalkan].(ADO)

Polisi Tak Beri Izin Kongres Lesbian-Gay

Ismoyo

24/03/2010 17:13

Liputan6.com, Surabaya: Kongres ke-4 International Lesbian, Gay, Bisexsual, Trans dan Intersex Association atau ILGA, yang menurut rencana akan digelar di Surabaya akhir Maret ini, terancam gagal. Polisi tak akan memberikan izin dengan alasan keamanan [baca: Konferensi ILGA Ke 4 akan Diadakan di Indonesia]

“Polisi tidak mengeluarkan izin kegiatan tersebut karena rawan,” ujar AKBP Sri Rahayu, Kabag Bina Mitra Polwiltabes Surabaya. Rencana kongres para Lesbian dan Gay ini memang menuai protes, salah satunya dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). MUI berpendapat kongres ini bisa memicu konflik atau gesekan di masyarakat. “Kami tidak setuju, itu rawan konflik,” kata Ketua MUI Jatim Abdussomad Buchori.

Sebaliknya, panitia kongres tampaknya bersikeras agar kongres dapat dilaksanakan sesuai rencana. “Kita tetap akan mengupayakan akan menggelar acara tersebut dengan melakukan lobi-lobi,” ujar Penanggung jawab ILGA Rafael. Pantia kongres ILGA kemarin sudah melakukan pertemuan dengan MUI Jawa Timur tapi upaya tersebut tampaknya belum membuahkan hasil. Sementara kegiatan di kantor Gaya Nusantara yang merupakan komunitas kaum gay dan lesbian di Surabaya, masih tetap berjalan seperti biasa.(MLA)
http://berita.liputan6.com/sosbud/201003/269247/Polisi.Tak.Beri.Izin.Kongres.Lesbian.Gay

Warga Berencana Usir Penghuni Sekretariat GAYa Nusantara

detikcom – Jumat, 26 Maret

Sebuah bangunan rumah berlantai II di Jalan Mojo Kidul 1/11 A Surabaya sejak tiga tahun ditempati dan digunakan sebagai Sekretariat GAYa Nusantara. Selama ini, warga tidak tahu aktivitas mereka, hanya mengetahui keluar masuk laki-laki dan kadang perempuan. Warga pun siap mengusirnya.

Ketua RT 2 RW 5, Mojo Kidul, Pudjo Utomo mengatakan, pihaknya tidak tahu siapa yang menyewa rumah di nomor 11 A itu. Pihaknya juga tidak mengetahui apa pekerjaan penghuni rumah itu.

“Kita tidak tahu apa aktivitas mereka. Kita tidak tahu untuk tempat gitu-gituan. Penghuninya banyak keluar masuk berganti-ganti kadang ada laki-laki kadang perempuan, juga ada laki-laki berpakaian perempuan. Mereka sepertinya tidak bekerja,” kata Pudjo kepada wartawan di depan Sekretariat GAYa Nusantara, Jumat (26/3/2010).

Kehadiran komunitas gay, lesbian, biseks dan transgender, membuat kekhawatiran bagi warga sekitar, khususnya anak-anak mereka. Pudjo mengatakan pihaknya berencana untuk membubarkan mereka, namun sebagian warga tak menghiraukannya.

“Kita punya rencana agar mereka pindah dari sini. Warga juga resah. Bagaimana kalau anak-anak kita seperti itu. Tapi mau minta dukungan pada siapa. Sebagian warga tidak ada yang mau mendobraknya,” ujarnya.

Setelah adanya kejadian penyegelan sekretariat GAYa Nusantara, kini pihaknya mulai lega, karena ada dukungan dari kelompok Forum Umat Islam (FUI) Jatim.

Bahkan kunci gembok pintu pagar dari massa FUI diberikan ke pihaknya. “Kuncinya saya pegang. Kalau mereka mau masuk, akan kita laporkan ke MUI, apakah diizinkan masuk atau tidak,” jelasnya.

Sementara itu, pemilik warung rujak yang berada di depan mulut Jalan Mojo Kidul I, mengaku penghuni di rumah nomor 11 A itu ramah. “Orangnya ramah sering menyapa kami. Kelihatannya laki-laki tapi bicaranya seperti perempuan. Kita tidak tahu kalau tempat itu dijadikan kantor,” tandasnya.

http://id.news.yahoo.com/dtik/20100326/tid-warga-berencana-usir-penghuni-sekret-b1ae096.html

Terhadap kegiatan penyimpangan sex yang sangat melanggar norma agama maupun tata susila ini, orang-orang yang bergaya sok berkilah dengan HAM akan berceloteh bahwa penyimpangan sex dan perusakan moral manusia itu adalah hak asasi manusia. Astaghfirullah! Bahkan kadang dibumbui lagi, bahwa itu adalah kebebasan berserikat. Masih pula ditambahi dengan: Perlu adanya perlindungan terhadap kaum minoritas..

Itu semua adalah tipuan belaka. Karena kejahatan itu tidak boleh dilindungi tetapi harus diberantas. Melindungi kejahatan berarti merupakan kejahatan pula. Oleh karena itu, mumpung kejahatan semacam ini masih bisa dibatalkan acaranya, perlu diintensipkan pemberantasannya. Sebelum penyakit social itu akan mewabah dan mendatangkan adzab serta kutukan dari Allah Ta’ala.

Makin cepat dan intensip diberantasnya, makin baik, insya Allah! (nahimunkar.com).