JAKARTA – Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali banyak mendapat masukan dari masyarakat perihal tayangan sahur di televisi yang didominasi lawakan ketimbang nuansa ibadahnya.

“Memang saya dapat keluhan seperti itu tayangan imsak Ramadhan lebih banyak lawaknya daripada pesan-pesan Ramadhan, pesan-pesan keagamaan,” kata Suryadharma usai mengikuti buka puasa bersama di kediaman Ketua DPR RI Marzuki Alie di kawasan Widya Chandra Jakarta Selatan, Jumat (5/8/2011), malam.

Oleh karena itulah, Suryadharma meminta media terutama televisi melakukan evaluasi terhadap kritik-kritik masyarakat itu.

“Jadi kita harapkan semua pihak memberikan manfaat bagi keimanan masyarakat dengan penanaman nilai-nilai kedalam masyarakat itu sendiri. Yang Ramadhan betul-betul bisa membawa masyarakat kita ke arah lebih baik lagi,” ujarnya.

Menurut dia apa yang ditampilkan televisi dengan tayangan lawakan saat sahur itu hanya bersifat menghibur semata.

“Tidak menanamkan nilai apapun, seperti nilai ibadah. Kita juga serba salah kalau media dilarang dikatakan nanti membatasi kebebasan pers gitu yah. Namun demikian kita harap semua pihak juga mendengar apa yang dikeluhkan masyarakat,” papar dia.


TRIBUNNEWS.COM, – Jumat, 5 Agustus 2011 20:14 WIB

 Penulis: Hasanudin Aco  |  Editor: Johnson Simanjuntak

***

Lawakan itu dikecam Nabi SAW

Ada hadits yang mengecam orang yang berbicara dengan tujuan agar orang tertawa.

عن بَهْزُ بْنُ حَكِيمٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ بِالْحَدِيثِ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ فَيَكْذِبُ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ (الترمذي وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ)

Dari Bahz bin Hakim, bahwa bapaknya telah bercerita kepadanya dari kakeknya, ia berkata, aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Celakalah bagi orang yang berbicara dengan satu pembicaraan agar menjadikan tertawanya kaum, maka ia berdusta, celakalah baginya, celakalah baginya.” (HR At-Tirmidzi, hadits hasan).

 

Perbuatan melawak yang jelas-jelas agar orang menertawakan apa yang dibicarakannya itu dikecam Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan diucapkan berulang, وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ (,celakalah baginya, celakalah baginya. Tentu saja perbuatan itu dimurkai Allah Ta’ala. Dalam hal sesuatu yang dimurkai Allah ta’ala, kalau itudilakukan untuk mendapatkan simpati manusia ataupun untuk mengejar rating atau apapun, maka tetap mendapatkan ancaman keras.

Yaitu anncaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

 « مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ ».

”Barangsiapa yang mencari ridha Allah dengan (resiko mendapat) murka manusia, maka Allah mencukupinya dari manusia. Dan barangsiapa mencari ridha manusia dengan (menyebabkan) kemurkaan Allah, maka Allah menyerahkan dirinya kepada manusia.” (HR. Tirmidzi, no. 2419).

Dalam Kitab Tuhfatul Ahwadzi dijelaskan:

( وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ )أَيْ سَلَّطَ اللَّهُ النَّاسَ عَلَيْهِ حَتَّى يُؤْذُوهُ وَيَظْلِمُوا عَلَيْهِ .

Allah menyerahkan dirinya kepada manusia artinya Allah menguasakan kepada manusia sehingga mereka menyakiti dan mendhalimi dia (yang mencari  ridha manusia dengan kemurkaan Allah itu).

Ibnu Hibban meriwayatkan dalam Kitab Shahihnya, hadits yang marfu’ (riwayatnya sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

( مَنْ اِلْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسَ ، وَمَنْ اِلْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ )

Barangsiapa mencari ridha Allah dengan kemurkaan manusia maka Allah merahmatinya dan menyejahterakannya, dan Allah akan menjadikan manusia ridha kepadanya. Dan barangsiapa mencari ridha manusia dengan kemurkaan Allah maka Allah murka kepadanya dan Allah akan menjadikan manusia marah kepadanya. (HR Ibnu Hibban, Tuhfatul Ahwadzi juz 6 halaman 204).

Hadits-haditsnya jelas. Adapun kalau balasan dari ancaman dalam hadits itu belum terlaksana di dunia maka akan diunduh di akherat kelak, bila Allah tidak mengampuninya.

Bagaimana manusia berani-beraninya berupaya keras dengan diprogram bahkan dibiayai untuk menyeret manusia secara ramai-ramai agar banyak tertawa. Sedangkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang banyak tertawa.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ (ابن ماجة إِسْنَاده صَحِيح رِجَاله ثِقَات)

Riwayat dari Abi Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Janganlah kamu sekalian banyak tertawa, karena banyak tertawa itu mematikan hati. (HR Ibnu Majah, sanadnya shahih, rijalnya kuat).

As-Sindi dalam Kitab Syarah Sunan Ibnu Majah menjelaskan, “mematikan hati” itu maksudnya menjadikannya keras, tidak terpengaruh oleh nasihat-nasihat sebagaimana mayit.

Ketika Ulama dan petinggi di negeri ini telah berkali-kali mengingatkan masalah ini, apalagi dikaitkan dengan Ramadhan, bulan ibadah; namun kemungkinan tidak juga digubris, maka itu pertanda sebenarnya hanyalah untuk merusak Islam dan kaum Muslimin.

Jangan salahkan bila tahu-tahu ada yang kurang sabar sehingga bertindak dengan caranya sendiri. Ini bukan ancaman, namun hanya mengingatkan, bahwa sebenarnya hidup di dunia ini harus saling menghormati. Ketika Ummat Islam  bahkan ulamanya telah memperingatkan, bahwa itu hakekatnya adalah merugikan Islam dan Ummat, namun tampak seolah disikapi dengan ‘nantang’, maka apa boleh buat! Ummat Islam juga bisa untuk sama sekali membalas tidak hormat!

Ilustrasi: almaokay.wordpress.com

(nahimunkar.com)