Televisi Indonesia Semakin Tidak Bermoral!

Tayangan Televisi Indonesia yang sudah dikenal paling buruk di seluruh negeri-negeri Islam, di Bulan Ramadhan ini bahkan tampak menantang. Sampai-sampai Tuhan pun diumpat dengan kata-akat wedus alias kambing.

Umpatan terhadap Allah Ta’ala dengan kata-kata wedus (kambing) itu berlangsung saat maghrib, di mana kaum Muslimin sedang berbuka puasa hari ke 6, Kamis (27/8) sekitar pukul 18.00

Apakah itu sesuai dengan standar program siaran? Tentu saja tidak. Menurut pemberitaan Tempo Interaktif, tayangan umpatan tersebut melanggar pasal 13 Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Dalam aturannya, isi siaran tidak boleh menyajikan penggunaan bahasa atau kata-kata makian yang mempunyai kecenderungan menghina/merendahkan martabat manusia, memiliki makna jorok/mesum/cabul/vulgar, serta menghina Tuhan.

Beritanya sebagai berikut:

Tuhan Diumpat ‘Wedus’, Komisi Penyiaran Tegur SCTV

Minggu, 30 Agustus 2009 | 15:13 WIB


TEMPO Interaktif, Semarang – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Jawa Tengah melayangkan surat teguran kepada stasiun televisi Surya Citra Televisi Indonesia yang menayangkan sinetron Para Pencari Tuhan. “Ada tayangan pelecehan terhadap Tuhan, tidak mendidik, dan sangat membahayakan perilaku anak-anak dalam sinetron tersebut,” kata Kepala Divisi Pengawasan Isi Siaran Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Jawa Tengah Zainal Abidin Petir dalam konferensi pers, Minggu (30/8).

KPID Jawa Tengah menilai, SCTV telah melakukan pelanggaran pada sinetron ”Para Pencari Tuhan” dimana sang pemeran Ketua Rukun Warga, Idrus, selalu mengumpat dengan kata-kata ”WEDUS”. Zainal menyatakan, ada adegan Idrus mengumpat setelah doa yang dipanjatkan kepada Allah tidak dikabulkan. ”Masa’ Tuhan diumpat dengan kata-kata-kata wedus,” kata Zainal. Zainal menyatakan, tayangan tersebut ditemukan pada Kamis (27/8) sekitar pukul 18.00. “Setelah kami pantau ternyata umpatan seperti itu seringkali dilakukan,” katanya.

Tayangan umpatan tersebut melanggar pasal 13 Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Dalam aturannya, isi siaran tidak boleh menyajikan penggunaan bahasa atau kata-kata makian yang mempunyai kecenderungan menghina/merendahkan martabat manusia, memiliki makna jorok/mesum/cabul/vulgar, serta menghina Tuhan.

KPID juga menegur stasiun Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) atas tayangan “Masihkah Kau Mencintaiku”. Zainal menyatakan telah terjadi pelanggaran berupa pengungkapan aib seseorang, mempertontonkan menantu dan mertua saling bertengkar dan memaki-maki dalam acar tersebut.
Selain itu, kata Zainal, ada kesan pembawa acara/narator Helmi Yahya dan Dian Nitami mendorong berbagai pihak yang terlibat konflik mengungkapkan secara terperinci aib masing-masing pihak yang berkonflik.

KPID juga menegur stasiun lokal, PRO TV terkait pelanggaran pada tayangan Wara Wayo (Wani po Ra-Wani to Yo). Pada kurun waktu Mei 2009 hingga Juni 2009 tayangan tersebut berisi tantangan dengan iming-iming hadiah lima puluh ribu rupiah.

Sesuai pengamatan KPID, beberapa tayangan yang tidak mendidik tersebut adalah ada orang ditantang makan Balsem 6 colek, makan ikan pindang mentah, dan adegan anak-anak sekolah disuruh ngemut jempol kaki yang sebelumnya tidak dicuci selama tiga menit. “Ini sangat tidak manusiawi, menjijikkan, dan merendahkan martabat manusia,” kata Zainal.

ROFIUDDIN

Sumber: http://tempointeraktif.com/hg/nusa/2009/08/30/brk,20090830-195168,id.html

Di waktu kapanpun, lebih-lebih pada bulan Ramadhan, mestinya bangsa ini diarahkan agar berbudi pekerti yang baik. Dengan budi pekerti (akhlaq) yang baik maka berarti imannya baik. Karena orang yang beriman itu tidak berakhlaq buruk. Dalam kaitannya dengan perkataan saja orang beriman itu tidak berkata-kata buruk. Hal itu ditegaskan oleh Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيْسَ بِاللَّعَّانِ وَلاَ الطَّعَّانِ وَلاَ الْفَاحِشِ وَلاَ الْبَذِىءِ ».

Dari Abdullah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya orang mukmin itu bukan pelaknat, bukan pencela, bukan penjorok (berkata porno) dan bukan (bermulut yang bicaranya) kotor. (HR Ahmad, kata Syu’aib Al-Arna’uth: sanadnya shahih, rijlanya tsiqot (terpercaya) rijal shahih, dan riwayat At-Tirmidzi, ia berkata ini hadits hasan gharib).

Ketika siaran televisi yang ditonton jutaan orang ternyata ditayangkan perkataan yang buruk, bahkan mencaci Tuhan dengan kata-kata wedus (kambing) maka sungguh terlalu. Kalau masalah ini tidak ditindak, maka bangsa ini akan lebih rusak lagi. Sebab kenyataannya, aliran sesat yang paling besar di Indonesia dan masih tetap berjaya sampai sekarang adalah aliran yang didirikan oleh orang yang ketika mengajar ngaji hampir selalu mengeluarkan kata-kata jorok lagi porno yang amat sangat, dan diumpatkan kepada Ummat Islam selain golongannya. Ini menurut kesaksian orang-orang yang pernah berguru belasan tahun kepada pendiri aliran sesat yang –aliran itu– pernah dilarang oleh Kejaksaan Agung 1971 dan difatwakan sesat menyesatkan oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) tetapi sampai sekarang masih tetap berjaya hanya dengan berganti-ganti nama.

Di kala aliran sesat terbesar yang pendirinya dalam mengajar ngaji saja mempraktekkan kata-kata jorok, porno, dan diumpatkan ke Ummat Islam; sampai kini aliran sesat itu dibiarkan berkeliaran, sementara itu siaran-siaran dan tayangan televisi Indonesia juga terburuk di dunia Islam, maka perusakan bertemu dengan perusakan yang dioplos dengan kesesatan, jadilah adonan perusakan yang sangat dahsyat diberondongkan ke Ummat Islam di negeri ini.

Benarlah firman Allah Ta’ala:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ قَالُواْ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ ﴿١١﴾ أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَـكِن لاَّ يَشْعُرُونَ ﴿١٢﴾

011. Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”012. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS Al-Baqarah/ 2: 11, 12).

(Redaksi nahimunkar.com).