Tenggelam Sepulang Ngalap Berkah dari Gua Keramat, 4 Tewas 6 Hilang

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ [يونس/106]

Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa`at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim”. (QS Yunus/ 10: 106)

n Orang berbondong-bondong mengadukan kesulitan hidupnya bukan ke Allah Ta’ala tetapi ke tempat-tempat yang dianggap keramat, entah itu lobang yang isinya mayat atau lobang bumi yang disebut gua dan aneka macam lainnya.

n Orang awam jadi korban penghancuran aqidah oleh aneka pihak dari yang berseragam sampai yang bersorban, hingga kaum awam itu berbondong-bondong mengadukan kesulitan hidupnya kepada mayat dalam kubur dan sebagainya di tempat-tempat yang dipromosikan sebagai tempat keramat.

n Hasilnya bukan kebahagiaan tetapi hancur aqidahnya dan kemungkinan di dunia ini pun tertimpa bencana.

Perahu compreng (kayu bermesin kecil) yang mengangkut 33 orang sepulang dari ritual berbau kemusyrikan dikenal dengan sebutan “ngalap” (cari) berkah ke gua Masigit Sela Nusakambangan tenggelam di Citanduy Ciamis, Ahad pagi sekitar pukul 08.30 WIB (16/5 2010).

Para pencari berkah bukan kepada Allah Ta’ala tetapi ke gua yang mereka anggap keramat itu berasal dari Kabupaten Indramayu Jawa Barat. Pada hari Ahad (16/5) sekitar pukul 08.30 WIB, mereka tenggelam, setelah perahu dengan nahkoda Ludi (48), pecah menabrak tembok penahan abrasi di Sungai Citanduy, sekitar 500 meter sebelum masuk Pelabuhan Kalipucang, Kabupaten Ciamis Jawa Barat. Dermaga Majingklak Kalipucang ini terletak tepat di muara sungai Citanduy.

Pikiran Rakyat Online memberitakan, Kapal Karunia yang membawa 33 penumpang warga Indramayu tenggelam di Kalipucang, Minggu. Sebanyak 23 penumpang selamat (bukan 24, red) korban meninggal empat orang sedang peziarah yang masih dalam pencarian sebanyak tujuh orang.

Ke 33 warga Indramayu baru selesai melaksanakan ritual ngalap berkah di Gua Masigit Sela di Pulau Nusakambangan. Minggu pagi mereka pulang kembali ke Indramayu dengan kapal carteran namum sampai di Kalipucang kapal menabrak bangunan pemecah ombak, kalap, oleng lalu tenggelam. Sebanyak 33 penumpangnya tumpah ke laut. (PR online).

Musibah tenggelamnya perahu ukuran panjang 13 meter dengan lebar 2,5 meter itu, berawal ketika 33 orang rombongan peziarah asal Indramayu, meminta diantar ke gua Masigit Sela, di Pulau Nusakambangan, Kab. Cilacap. Rombongan datang ke Kalipucang, Sabtu (15/5) sekitar pukul 03.00. Pimpinan rombongan Dasuki , pagi harinya berusaha menyewa perahu milik Ludi, dengan ongkos menuju ke lokasi Nusakambangan sebesar Rp 300 ribu.

“Perahu itu kapasitas angkut normal sebenarnya sepuluh orang, namun waktu itu semua peziarah masuk untuk satu kali angkut. Selama kurang lebih dua jam, rombongan diantar ke lokasi gua. Sebelum sampai di Masigit Sela, kami sempat mampir ke rumah juru kunci Masigit Sela, yaitu Bapak Suryo di Majingklak (Kalipucang Ciamis Jabar). Kemudian, kami bersama-sama berangkat ke Masigit Sela bersama Pak Suryo sebagai juru kunci,” kata Gani yang ikut rombongan. (A-97/A-112/K-06/das)*** (http://www.pikiran-rakyat.com/node/113609)

Berita lain menyebutkan, mereka dari Indramayu Jum’at malam naik bus hingga sudah sampai di Majingklak Ciamis, Sabtu dinihari pukul 03.00 sebelum subuh. Lalu mereka mampir ke juru kunci gua Nusakambangan Cilacap yang tinggalnya di Majingklak Ciamis untuk kemudian mereka diantar jurukunci itu ke gua dalam perjalanan perahu mesin selama 2 jam.

Mereka menginap satu malam (malam Ahad) di gua tempat ngalap berkah, dan baru kembali hampir sampai ke pelabuhan Majingklak Kalipucang lagi Ahad pagi. Namun 500 meter sebelum sampai di pelabuhan Majingklak Kalipucang Ciamis, perahu kayu bermotor yang mereka tumpangi itu ketika melawan arus deras sungai Citanduy tiba-tiba mundur dan melenceng hingga menabrak tembok penahan abrasi (pengikisan) lalu bocor, oleng dan tenggelam. Semua penumpangnya tumpah ke laut (sungai dekat laut yang dalamnya 30 meter).

Ngalap Berkah kepada apa yang mereka sebut penunggu gua

Apa yang dilakukan orang berkunjung ke gua yang dianggap keramat telah dibeberkan oleh orang yang “mempromosikan” tempat semacam itu dengan menyebutnya sebagai tempat untuk mereka yang sengaja datang untuk “ngalap” (berburu) berkah dari penunggu gua agar cita-citanya tercapai.

Perlu diingat, perbuatan itu jelas meminta atau berdoa kepada selain Allah, satu bentuk kemusyrikan, karena minta tolong kepada selain Allah mengenai hal yang khusus hak Allah. Mengabulkan cita-cita seseorang dan semacamnya atau mengenai nasib dan keberuntungan hidup hanyalah di tangan Allah. Maka dilarang meminta kepada selain-Nya. Bila minta kepada selain-Nya berarti membuat tandingan untuk menandingi Allah, dan itulah kemusyrikan, dosa paling besar. Itu sudah ditegaskan Allah Ta’ala:

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ [يونس/106] وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ [يونس/107]

Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa`at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim”.

Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Yunus/ 10: 106, 107).

Dari ayat-ayat itu, berdoa kepada selain Allah adalah syirik dan kedurhakaan paling besar. (lihat Al-Qur’an dan Tafsirnya, Depag RI, 1985/ 1986, jilid IV, juz 11 halaman 459).

Imam As-Sa’di menjelaskan: Janganlah kamu berdoa kepada selain Allah yang tidak memanfaatimu dan tidak memadhorotimu; ini sifat bagi setiap makhluk, bahwa ia tidak memanfaati dan tidak memadhoroti. Yang memanfaati dan memadhoroti itu hanyalah Dia yaitu Allah Ta’ala. Maka apabila kamu kerjakan, yaitu berdoa kepada selain Allah, yang tidak memanfaati dan tidak memadhoroti kamu, maka sesungguhnya kamu jadinya termasuk orang-orang yang dhalim, artinya orang-orang yang membinasakan diri mereka sendiri. Dan dhalim di sini adalah syirik sebagaimana firman Allah Ta’ala:

{ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ }

Sesungguhnya syirik itu adalah benar-benar kedhaliman yang besar (QS Luqman / 31: 13). Maka jika sebaik-baik makhluk (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam) –saja– seandainya berdoa kepada selain Allah pasti dia termasuk orang-orang dhalimin musyrikin, maka bagaimana pula orang selainnya?!! (TafsirAssa’di juz 1 halaman 375).

Bukti dari adanya orang-orang yang berdoa kepada gua keramat dan semacamnya, inilah apa yang dibeberkan dalam sebuah tulisan yang tampaknya mempromosikannya:

Di sekitar Kecamatan Kampunglaut yang ada di Segara Anakan, Cilacap, antara lain ada Gua Masigit Sela dan Patilasan Mbah Jaga Laut.

Gua Masigit Sela berada di sebuah tebing bagian barat Pulau Nusakambangan dan secara geografis masuk wilayah Desa Ujungalang, Kecamatan Kampunglaut.

Sebutan Masigit Sela ini mengandung arti sebagai masjid batu karena konon gua alam ini merupakan petilasan Sunan Kalijaga saat bertandang ke wilayah Nusakambangan.

Wisatawan yang mendatangi Gua Masigit Sela tidak sekadar untuk menikmati keindahan dan keunikan gua tersebut. Sebagian besar dari mereka sengaja datang untuk “ngalap” (berburu) berkah dari penunggu gua agar cita-citanya tercapai.

Sementara mengenai Patilasan Mbah Jaga Laut diyakini masyarakat Ujungalang sebagai pelindung Kampung Laut.

Konon sosok Mbah Jaga Laut merupakan seorang wiratamtama dari Kerajaan Mataram yang ditugaskan untuk menjaga keamanan Segara Anakan dari gangguan bajak laut.

Salah satu peninggalan Jaga Laut berupa jubah keramat yang kini tersimpan di tempat bernama Pasuruan yang dikenal sebagai “Patilasan Mbah Jaga Laut” di Kampung Mutehan, Desa Ujungalang.

Sama halnya dengan Gua Masigit Sela, tempat inipun banyak dikunjungi peziarah yang “ngalap” berkah demi tercapai cita-citanya. (Menggali Potensi Wisata Segara Anakan Oleh Sumarwoto)

Hari Kamis compreng ramai

Ritual berbau syirik yang menganggap tempat sebagai tempat keramat, biasanya mengkhususkan hari-hari tertentu. Tampaknya ritual ngalap berkah ke gua itupun demimikan, paling tidak hal itu dapat dilihat dari segi hilir mudiknya lalu lintas pakai compreng.

Inilah penuturan orang sana:

Compreng adalah sebutan bagi perahu yang terbuat dari papan kayu menggunakan mesin tempel dengan daya kecil. Kapal compreng bisa mengangkut maksimal 16 orang. Jenis angkutan ini mendapat izin resmi dari Dinas Perhubungan Kabupaten Cilacap untuk mengangkut penumpang.

Namun, sebagian besar armada Compreng hanya beroperasi pada hari-hari yang dimanfaatkan warga untuk berbelanja. Jalur Kampung Laut (tempat gua) ke Kalipucang (Ciamis) hanya ramai di hari Senin dan Kamis, sementara jalur ke Cilacap Sabtu dan Minggu. Di luar waktu-waktu itu, para pengelola Compreng memilih libur karena sepinya penumpang. Mereka memanfaatkan armadanya untuk mengangkut kayu bakar, mencari air bersih, atau dibiarkan tertambat di pangkalan.

http://www.kombinasi.net/?lang=id&rid=19&cid=99&sid=0&xcode=105

Ketika mereka pergi ke gua alam (bukan gua buatan) Hari Kamis, kemungkinan besar mereka bermalam di sana, malam Jum’at. Seandainya hal yang mereka lakukan itu tidak mengandung perbuatan dan niat yang berbau kemusyrikan pun, mengkhususkan malam Jum’at sebagai waktu ibadah khusus maka tidak boleh. Apalagi bila berbau kemusyrikan.

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { لَا تَخُصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ إلَّا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ } رَوَاهُ مُسْلِمٌ )

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Janganlah kalian mengkhususkan malam Jum’at dengan shalat malam di antara malam-malam yang lain, dan jangan pula dengan puasa, kecuali memang bertepatan dengan hari puasanya.” (HR Muslim – 1930)

Dalam kitab Subulus Salam dijelaskan:

الْحَدِيثُ دَلِيلٌ عَلَى تَحْرِيمِ تَخْصِيصِ لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ بِالْعِبَادَةِ بِصَلَاةٍ وَتِلَاوَةٍ غَيْرِ مُعْتَادَةٍ إلَّا مَا وَرَدَ بِهِ النَّصُّ عَلَى ذَلِكَ كَقِرَاءَةِ سُورَةِ الْكَهْفِ فَإِنَّهُ وَرَدَ تَخْصِيصُ لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ بِقِرَاءَتِهَا وَسُوَرٍ أُخَرَ وَرَدَتْ بِهَا أَحَادِيثُ فِيهَا مَقَالٌ .

Hadits itu adalah dalil atas pengharaman mengkhususkan malam Jum’at dengan ibadah, shalat, dan tilawah (bacaan) yang tidak dibiasakan kecuali apa yang ada nashnya (teks ayat atau hadits) atas yang demikian seperti membaca surat Al-Kahfi karena ada dalil pengkhususan membacanya pada malam Jum’at, dan surat-surat lainnya ada hadits-haditsnya (namun) di dalamanya ada maqol (pembicaraan/ dipersoalkan keshahihannya). (Subulus Salam, bab ifradu yaumil Jumu’ati bishaumin wa lailatiha biqiyam).

Jadi mengkhususkan ziarah kubur dan semacamnya pada malam Jum’at dengan ngalap berkah kepada isi kubur atau tempat keramat itu ada dua kesalahan menurut Islam. Pertama mengkhususkan malam Jum’at untuk ibadah tertentu dan kedua ngalap berkah kepada tempat yang dianggap keramat yang hal itu tidak syar’i.

Cerita membodohi masyarakat

Biasanya tempat-tempat yang dianggap keramat dan untuk mengadukan nasib –itu merupakan pemujaan kepada selian Allah, termasuk bentuk kemusyrikan yang mestinya diberantas tuntas namun dihidup-hidupkan— selalu dibumbui cerita dusta untuk membodohi dan menjerumuskan masyarakat. Tentang gua di Nusakambangan inipun demikian.

Inilah contohnya:

Di Gua Masigit Sela, kata salah satu jurukuncinya, terdapat lorong panjang yang konon tembus ke kesultanan Cirebon. Waduh…. Jauh banget yaaah? Gua Masigit Sela merupakan Gua yang paling terkenal di antara gua-gua yang ada. Gua ini menjadi jujugan (suka didatangi) para peziarah yang hendak melakukan semedi/meditasi beberapa hari. Mencari Inspirasi dan mengadukan nasib hidup. Kebanyakan peziarah datang dari wilayah Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Kuningan, Cirebon, Bandung dan daerah Cilacap sendiri.

Gua Masigit Sela lebih dekat ditempuh dari Pelabuhan Perikanan Majingklak, Kalipucang, Ciamis Jawa Barat. (kangnawar.com/berita-cilacap).

Orang-orang berbondong-bondong mengadukan nasib hidup bukan kepada Allah Ta’ala tetapi ke tempat yang dianggap keramat. Mereka pun sampai menginap, dan sebelumnya mereka menempuh perjalanan malam, itu semua hanya untuk melakukan praktek yang sebenarnya kemusyrikan. Dalam kasus ini, mereka dari Indramayu Jawa Barat berangkat berombongan Jum’at malam, kemudian menginap di gua Sabtu malam, dan baru pulang Ahad pagi, tetapi tahu-tahu tenggelam di Sungai Citanduy Ahad pagi.

Inilah berita tentang tenggelamnya perahu compreng yang mengangkut para pencari berkah:

Senin, 17 Mei 2010

Empat Tewas dan Tujuh Belum Ditemukan

33 Peziarah Tenggelam

CIAMIS,(GM)-
Sebanyak 33 orang peziarah asal Kab. Indramayu tenggelam, setelah perahu compreng yang mereka tumpangi karam akibat menabrak tembok penahan abrasi di Sungai Citanduy, sekitar 500 meter memasuki Pelabuhan Kalipucang, Kab. Ciamis, Minggu (16/5) sekitar pukul 08.30 WIB.

Musibah tersebut menyebabkan empat orang tewas dan tujuh lainnya belum ditemukan. Sedangkan 23 orang peziarah berhasil diselamatkan. Semua korban tewas semalam dibawa ke kampung halamannya di Indramayu.

Keempat korban tewas, Ny. Ratmini (50), warga Desa Sabrang Wetan, Kec. Anjatan Utara, Kab. Indramayu; Ny. Warti (45), warga Sabrang Wetan, Desa Anjatan Utara, Kab. Indramayu; Ny. Casminah (55), warga Kedung Mulya, Kec. Sukra, Kab. Indramayu; dan Ny. Dasem (60), warga Desa Limpas, Kec. Patrol, Kab. Indramayu.

Beberapa di antara korban selamat, terlihat masih bertahan di Puskesmas Kalipucang untuk menunggu kepastian korban yang belum ditemukan. Nakhoda perahu, Ludi (48), warga Santolo, Kec. Kalipucang, Kab. Ciamis, masih koma dan dirawat di Puskesmas Kalipucang.

Satu-satunya anak kecil yang ikut rombongan, Ellio (4,5), berhasil diselamatkan seorang penderes gula kelapa asal Rawa Apu, Kec. Patimuan, Kab. Cilacap, Jawa Tengah, ketika terapung di sungai. Korban sempat diinfus di puskesmas, namun semalam kondisinya sudah membaik.

Tujuh korban yang masih dalam proses pencarian, Warnadi (43), warga Desa Limpas, Kec. Patrol; Dasuki (50), warga Karangmalang, Kec. Anjatan Lama; Dirman (40), Dursipan (45), Dasma (50), ketiganya warga Rebeng Wetan, Kec. Anjatan Baru; dan Narwi (55), warga Karangmalang, Kec. Anjatan Lama, Kab. Indramayu.

Ziarah ke Gua Masigit

Musibah tenggelamnya perahu ukuran panjang 13 meter dengan lebar 2,5 meter itu, berawal ketika 33 orang rombongan peziarah asal Indramayu, minta diantar ke Gua Masigit Sela di Pulau Nusakambangan, Kab. Cilacap.

Rombongan datang ke Kalipucang, Sabtu (15/5) sekitar pukul 03.00 WIB. Pimpinan rombongan, Dasuki, pagi harinya berusaha menyewa perahu milik Ludi dengan ongkos menuju lokasi di Nusakambangan sebesar Rp 300 ribu.

Kapasitas angkut normal perahu itu sebenarnya sepuluh orang, namun saat itu semua peziarah naik untuk satu kali angkut. Selama kurang lebih dua jam, rombongan diantar ke lokasi gua.

“Sebelum sampai di Masigit Sela, kami sempat mampir ke rumah juru kunci Masigit Sela, yaitu Bapak Suryo di Majingklak. Kemudian kami bersama-sama Pak Suryo sebagai juru kunci,” kata Gani yang ikut rombongan.

Ketika masuk ke lokasi ziarah, kata Warkidi (45), wakil rombongan, sudah banyak orang dari luar daerah yang juga berada di tempat itu. Di antaranya dari Semarang, Bandung, dan daerah lain.

“Kami berbaur dengan mereka, termasuk menginap di gua tersebut. Kegiatan kami berwirid dan lainnya untuk mendapatkan berkah. Kami hanya diantar Pak Ludi, setelah itu perahu balik lagi,” tambah Warkidi.

Setelah menginap semalam, rombongan dijemput Minggu (16/5) pagi sekitar pukul 06.00 WIB. Ludi, kata istrinya, Ny. Sinem (45), berangkat dari Kalipucang sekitar pukul 04.30 WIB. Ia sendirian ke Nusakambangan untuk membawa rombongan.

Sekitar pukul 08.30 WIB, ketika perahu akan memasuki Pelabuhan Kalipucang, tepatnya di belokan arus Citanduy, 500 meter ke pelabuhan, tiba-tiba perahu berbalik arah terbawa arus kencang.

“Ketika berbalik arah, perahu langsung menabrak tembok penahan abrasi yang berada di bibir sungai. Waktu itu perahu langsung pecah dan kami semua tenggelam terbawa arus Citanduy. Suasana sangat mencekam. Ada yang takbir, ada juga yang berteriak minta tolong dan lainnya,” kata Ny. Sukinah (45), salah seorang korban selamat.

Ketika rombongan terbawa arus Citanduy yang sedang meluap, Jumadi (34), warga Pamotan, Kec. Kalipucang, Kab. Ciamis yang berada tidak jauh dari sungai, langsung memberikan pertolongan. “Saya sempat menolong lima orang,” katanya.

Warga lainnya juga turun memberikan pertolongan. Di antara mereka juga ada nelayan yang menggunakan perahu, lalu Tim SAR akhirnya bersama-sama turun membantu korban. Tiga korban yang diangkat, ternyata sudah tidak bernyawa. Korban tewas yang terakhir ditemukan, Dasem, sekitar pukul 15.30 di daerah Segara Anakan.

Petugas Tim SAR dari TNI Angkatan Laut Pangandaran, Serma S.A.A. Dayat Sudrajat mengatakan, Tim SAR dari TNI AL, Polair Pangandaran, Polsek Kalipucang, dan sejumlah nelayan, masih melakukan proses pencarian tujuh korban yang tenggelam. Pencarian dilakukan di Segara Anakan dan pintu pelawangan pantai selatan.

“Kami masih terus berusaha melakukan pencarian. Diharapkan korban yang terbawa arus sungai itu bisa segera ditemukan,” katanya. (A.97/A.112/K.06)**

Sumber: galamedia.com

Suburnya kemusyrikan salah siapa?

Tempat-tempat yang dianggap keramat di mana-mana dipromosikan oleh aneka pihak. Itu jelas menyuburkan kemusyrikan. Maka siapa saja yang terlibat dalam pengkeramatan tempat-tempat itu berarti terlibat pula dalam penyuburan kemusyrikan, dosa paling besar.

Bahaya paling bahaya namun tampaknya ditumbuh suburkan ini mestinya diberantas secara terus menerus oleh para Ulama, tokoh Islam, dan pihak penguasa serta Ummat Islam pada umumnya.

Majalah Fatawa memperingatkan, dalam sebuah hadits panjang, disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِى بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى تُعبَد الأَوْثَان

َ“…Kiamat tidak akan terjadi hingga sekelompok kabilah dari umatku mengikuti orang-orang musyrik dan sampai-sampai berhala pun disembah…” (Shahih Ibni Hibban Juz XVI hal. 209 no. 7237 dan hal. 220 no. 7238 Juz XXX no. 7361 hal 6, Syu’aib al-Arnauth berkata, “Sanad-sanadnya shahih sesuai dengan syarat Muslim).

Autsan dalam bentuk jamak (plural) dari watsan, artinya berhala. Watsan adalah segala sesuatu yang mempunyai bentuk badan yang biasanya dibuat dari unsur tanah, kayu, atau bebatuan seperti bentuk manusia. Benda ini dibentuk, dimuliakan, dan disembah. Kadang juga watsan mencakup sesuatu yang tidak berbentuk gambar/bentuk. Shanam adalah gambar tanpa bentuk badan.

Sesembahan ini, kalau zaman jahiliyah berbentuk patung-patung orang saleh, sekarang bisa diwujudkan dalam kuburan-kuburan atau petilasan-petilasan orang shaleh yang dianggap shaleh. Kini ada pembela kesyirikan menganggap melarang orang berdoa di kuburan merupakan bentuk kurang ajar kepada para wali, alias tidak mau menghormati orang yang layak dihormati, bahkan dicap sebagai pengikut iblis yang tidak mau menghormati Adam. Subhanallah! (Lihat Majalah Fatawa Vol. V/No. 03, Jogjakarta, Rabi’ul Awwal 1430, Maret 2009 hal. 8-11)

Siapapun yang mendukung suburnya tempat yang dianggap keramat berarti mendukung kemusyrikan. Itu artinya, disamping membodohi masyarakat masih pula merusak aqidah secara total. Sadarilah wahai para pengaku cinta kebaikan, bahwa itu semua sangat berbahaya! Mari kita bartaubat, dan kembalikanlah Ummat Islam ini ke aqidah yang dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar kita selamat di dunia dan akherat. (nahimunkar.com).