Ternyata Sigit dan Hendro Dijebak Densus 88

Solo (SI ONLINE)- Umat Islam harus ekstra waspada dan hati-hati kalau ada polisi Kristen yang menyatakan diri masuk Islam dengan membaca dua kalimah syahadat sehingga menjadi muallaf. Barangkali itu hanya jebakan agar umat Islam percaya dan akhirnya menjadi korban pembunuhan Densus 88. Polisi nampaknya menggunakan strategi penyusupan dengan pura-pura menjadi muallaf untuk masuk kedalam lingkaran gerakan Islam yang selama ini dikenal radikal.

Tidak menutup kemungkinan kasus mantan anggota polisi Sofyan Tsauri juga merupakan penyusupan sekaligus jebakan kepada para pemuda Islam. Pasalnya, Sofyan Tsauri  yang pura-pura militan dengan  berjenggot dan bercelana komprang dan berpicis haji, yang akhirnya menjadi sponsor pelatihan militer di Aceh dengan menyediakan dana dan berbagai jenis senjata. Bahkan Sofyan  Tsauri juga pura-pura diadili untuk meyakinkan umat Islam kalau dirinya bukan merupakan bagian dari infiltrasi polisi ke dalam tubuh ormas Islam yang dinilai radikal.

Kejadian yang mirip juga dialami Sigit Qordowi dan Hendro Yunanto yang dibunuh secara kejam oleh Densus di Sukoharjo beberapa waktu lalu. Bahkan penjual angkringan, Nur Iman, juga ikut dibunuh karena menjadi saksi kunci terbunuhnya Sigit dan Hendro.

Sebuah sumber pergerakan Islam di Solo kepada SI Online menjelaskan, Sigit Qordowi sebagai pemimpin tim Hisbah awal mulanya tidak radikal. Sigit bersama anggota tim Hisbah memang sering memimpin operasi anti kemaksiyatan seperti perjudian, minuman keras, pelacuran dan sebagainya. Tetapi tiba-tiba ada seorang polisi yang mengaku muallaf dan terus berusaha mendekati Sigit dan Hendro. Apapun keperluan Sigit dan Hendro selalu dicukupinya. Akhirnya Sigit dan Hendro berubah menjadi radikal setelah berkenalan dengan polisi muallaf tersebut.

“Sebenarnya teman-temannya di tim Hisbah sudah memperingatkan Sigit dan Hendro akan perilaku polisi muallaf yang selalu mendorong  agar berbuat radikal termasuk diadakan baiat. Tetapi keduanya tidak percaya karena kebaikan selama ini dari sang polisi muallaf,” ungkap sumber itu kepada SI Online.

Akhirnya pada suatu malam sang polisi muallaf menelpon Sigit dengan memberitahu kalau di Desa Sanggrahan Sukoharjo sedang ada perjudian. Karena merasa ditelphone oleh sahabatnya, Sigit mengajak Hendro dengan berboncengan sepeda motor untuk mendatangi tempat perjudian itu dengan maksud untuk membubarkannya. Tetapi ternyata itu hanya jebakan Densus dan menjadi telephone kematian untuk keduanya.

Menjelang keduanya tiba di TKP, anggota Densus sudah mengepungnya dan akhirnya membunuhnya dengan cara yang sadis. Terbukti 10 peluru bersarang di tubuh Hendro termasuk sebuah peluru yang menembus jidatnya. Bahkan di kedua pipi Hendro terdapat lebam-lebam seperti sehabis dipukuli. Sementara pada jenazah Sigit, sayangnya pihak keluarganya tidak membuka kain kafannya. Seandainya dibuka, barangkali kondisinya lebih parah dari Hendro. (*)

Rep: Abu Ihya

Solo (SI ONLINE)- Wednesday, 25 May 2011 07:52 | Written by Shodiq Ramadhan

(nahimunkar.com)