The Men From Jombang

Jombang adalah salah satu Kabupaten di Jawa Timur yang menjadi lumbung padi bagi Provinsi Jatim. Hampir lima puluh persen lahan di Jombang dimanfaatkan sebagai areal persawahan, untuk ditanami padi, jagung, kedelai dan buah-buahan.

Tidak hanya terkenal sebagai daerah penghasil beras, Kabupaten Jombang juga terkenal sebagai sentra buah-buahan, seperti Durian Bido, jeruk nipis dan sebagainya. Tapi yang lebih penting dari itu, dari Jombang ini sering lahir sosok yang namanya selalu membuat berita (news maker), baik di tingkat nasional maupun internasional.

Verry Idam Henyansah alias Ryan

Salah satu di antaranya, dan hingga kini masih menjadi sorotan pers adalah Verry Idam Henyansah alias Ryan. Pria kemayu yang lahir di Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Jombang, pada 01 Februari 1978 ini, mendadak sontak terkenal karena menjadi pelaku utama pembunuhan berantai yang memakan korban belasan orang.

Awal mulanya, warga Jakarta menemukan mayat terpotong-potong dalam koper (12 Juli 2008) di jalan Kebagusan, Jakarta, yang ternyata setelah diidentifikasi pihak kepolisian merupakan jasad Heri Santoso, teman kencan Ryan (sesama pengidap penyakit homoseks). Heri dibunuh Ryan karena dibakar oleh api cemburu. Sebabnya, Heri menyatakan ingin berkencan dengan Noval Andreas, juga lelaki pengidap penyakit homoseks, yang selama ini menjadi pasangan cinta Ryan.

Dari kasus Heri Santoso ini, polisi terus megembangkan penyidikan, hingga akhir Juli 2008, terungkap 11 kasus pembunuhan berantai yang dilakukan Ryan. Yaitu:

01. Fauzi Suyanto (29), warga Nganjuk.

02. Agustinus Setyawan alias Wawan (28), warga Jombang yang dibunuh pada Agustus 2007.

03. Guruh Setio Pramono (Nganjuk, Jatim), dibunuh pada Agustus 2007

04. Muhammad Ahsony alias Sony (30), warga Desa Slawe, Kecamatan Tarik, Kabupaten Sidoarjo, karyawan PT Tjiwi Kimia, Sidoarjo, yang dibunuh pada Nopember 2007

05. Zainal Abidin alias Zeki (21) yang dibunuh pada Januari 2008.

06. Graddy yang berdarah Manado (marga Tumbuan), dibunuh sekitar Januari 2008.

07. Nanik Hidayati (28) warga Desa Kepuhkembeng, Peterongan, yang dibunuh pada April 2008

08. Silvia (3), putri Nanik Hidayati, juga dibunuh pada April 2008

09. Aril Somba Sitanggang (Malang, Jatim) dibunuh April 2008.

10. Vincentius Yudi Priono (Wonogiri, Jateng), dibunuh April 2008.

11. Heri Santoso, dibunuh dan dimutilasi hingga tujuh potongan di sebuah apartemen yang terletak di Jl Margonda Depok, pada 11 Juli 2008, kemudian dibuang di Jl Kebagusan, Jakarta dan terungkap pada 12 Juli 2008.

Diduga, masih banyak lagi korban Ryan yang belum terungkap, hal ini bila didasarkan pada adanya laporan orang hilang yang diterima kepolisian, yang jumlahnya mencapai dua puluh lebih, dan terkait dengan Ryan (sebelum hilang, terakhir terlihat bersama Ryan).

Ryan yang merupakan anak dari pasangan Siyatun-Ahmad Sadikun ini, ketika bersekolah di SDN 02 Jatiwates (1984-1990), Jombang, dikenal sebagai murid yang pintar dan kerap mendapat rangking di kelas, juga sangat menghormati guru dan berperilaku sopan.

Begitu juga ketika Ryan melanjutkan sekolah ke SMPN Tembelang (1990-1993), ia dikenal sebagai siswa yang cerdas, cekatan dan pandai bergaul. Meski bukan pengurus OSIS, Ryan banyak terlibat dalam kegiatan OSIS terutama di bidang kesenian. Ryan menjadi siswa yang paling sibuk setiap ada kegiatan kesenian seperti menari atau teater, sebagai panitia atau dia sendiri yang manggung. Ryan juga kerap membantu kawan-kawan perempuannya berdandan di kamar rias.

Setelah lulus dari SMPN Tembelang, Ryan melanjutkan ke SMAN 01 Jombang, hanya sebulan, sebelum akhirnya pindah ke SMAN 01 Kabuh, namun hanya bertahan enam bulan, kemudian pindah lagi ke SMAN 03 Jombang.

Sejak SMA Ryan kerap bergaul dengan kaum homoseksual, dan mulai bergaya hidup mewah. Untuk menutupi perilaku seks menyimpangnya, Ryan belajar ngaji di sebuah pondok pesantren selama beberapa bulan, dan sempat mendapat tugas mengajar ngaji pada anak-anak di sekitar. Namun, seusai ia bergiat di ponpes, Ryan kembali bergaul dengan kalangan homoseksual dengan gaya hidup mewah. Belajar mengaji dan mengajar ngaji hanya kedok untuk menutupi perilaku menyimpangnya belaka.

Sebagaimana layaknya beberapa tokoh nasional asal Jombang (seperti Cak Nun, Gus Dur, dan Cak Nur), Ryan juga tergolong cerdas. Kecerdasannya itu terbukti mampu mengelabui aparat kepolisian. Misalnya, ketika Ryan diperiksa Kepolisian Resor Jombang, Jawa Timur, dalam kasus pembunuhan yang terjadi September 2007. Korbannya, Asrori, warga Desa Kalang Semanding, Kecamatan Perak, Jombang, Jatim. Saat itu Asrori ditemukan tewas di kebun tebu. Dalam kasus tersebut, polisi menangkap tiga orang tersangka, yang salah seorang di antaranya adalah Ryan. Bahkan, Ryan sempat diperiksa namun dilepas kembali karena tidak ditemukan bukti keterlibatannya.

Contoh lainnya, ketika penyidik Polda Metro Jaya merespon kasus hilangnya Aril Somba Sitanggang (34) yang dilaporkan keluarganya pada Mei 2008, dan dalam salah satu upayanya pihak kepolisian memeriksa Ryan yang diduga terkait dengan hilangnya Aril, namun akhirnya ia dilepaskan karena tidak cukup bukti. Terbukti kemudian, ternyata Aril menjadi salah satu korban pembunuhan berantai yang dilakukan Ryan.

Dari sini terbukti, Ryan tidak hanya pintar di sekolah, tetapi juga pintar melakukan pembunuhan berantai, dan pintar membuat alibi, sehingga ia dengan penampilan kemayunya bisa mengecoh aparat penyidik.

Hasil pemeriksaan psikiater Kepolisian Daerah Jawa Timur menyimpulkan, Ryan tidak mengalami gangguan kejiwaan yang berat (psikotis/psikosa). Menurut psikiater Polda Jatim AKBP dr Roni Subagio di Surabaya, Kamis (31 Juli 2008), sense of reality (daya realitas) Ryan sangat normal. Artinya, pembunuhan berantai dan mutilasi dilakukan Ryan secara sadar bahkan ia tahu akibatnya. Ryan juga tahu mana yang benar dan mana yang salah.

Berdasarkan pemeriksaan psikiatri pada 29 Juli 2008 lalu, disimpukan bahwa Ryan memiliki ciri-ciri kepribadian yang impulsif, sangat sensitif, mudah tersinggung, dan mudah marah, sering dimanifestasikan dengan tindakan melempar, memukul, marah-marah, dan tindak kekerasan lainnya. Ryan juga mempunyai keinginan agar terlihat tidak normal supaya bisa bebas dari jerat hukum.

Hasil pemeriksaan psikiatri juga menyimpulkan, bahwa Ryan mengalami gangguan orientasi seksual berupa homoseksualitas. Dalam hubungan homoseksualitas itu, Ryan lebih menyukai peran sebagai perempuan.

Hukuman berat bagi pelaku homo ataupun lesbi

Haram dan dosa serta adzab atas pelaku homoseks telah dijelaskan di antaranya dalam Al-Qur’an Surat An-Naml ayat 54 – 58.:

وَلُوْطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتًوْنَ الْفَاحِشَةَ وَأَنْتًمْ تُبْصِرُوْنَ ( 54) أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُوْنَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُوْنِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ (55) فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلاَّ أَنْ قَالُوْا أَخْرِجُوْا ءَالَ لُوْطٍ مِنْ قَرْيَتِكُمْ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُوْنَ (56) فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلاَّ امْرَأَتَهُ قَدَّرْنَاهَا مِنَ الْغَابِرِيْنَ (57) وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا فَسَاءَ مَطُرٌ الْمُنْذَرِيْنَ (58) النمل : 54-58

54. Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia Berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah[1101] itu sedang kamu memperlihatkan(nya)?”

55. “Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)”.

56. Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan: “Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; Karena Sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (menda’wakan dirinya) bersih[1102]”.

57. Maka kami selamatkan dia beserta keluarganya, kecuali isterinya. Kami telah mentakdirkan dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).

58. Dan kami turunkan hujan atas mereka (hujan batu), Maka amat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang diberi peringatan itu. (An Naml: 54-58).

[1101] perbuatan keji: menurut Jumhur Mufassirin yang dimaksud perbuatan keji ialah perbuatan zina, sedang menurut pendapat yang lain ialah segala perbuatan mesum seperti : zina, homosek dan yang sejenisnya. Menurut pendapat Muslim dan Mujahid yang dimaksud dengan perbuatan keji ialah musahaqah (homosek antara wanita dengan wanita).

[1102] perkataan kaum Luth kepada sesamanya. Ini merupakan ejekan terhadap Luth dan orang-orang beriman kepadanya, Karena Luth dan orang-orang yang bersamanya tidak mau mengerjakan perbuatan mereka.

Homoseks adalah laki-laki mendatangi (melakukan perbuatan seks dengan laki-laki). Sedang lesbi adalah seorang wanita mendatangi wanita lainnya (melakukan perbuatan seks).

( 1138 ) – وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : { مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ , وَمَنْ وَجَدْتُمُوهُ وَقَعَ عَلَى بَهِيمَةٍ فَاقْتُلُوهُ وَاقْتُلُوا الْبَهِيمَةَ } رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْأَرْبَعَةُ وَرِجَالُهُ مُوَثَّقُونَ , إلَّا أَنَّ فِيهِ اخْتِلَافًا .

.–الجزء :4 (سبل السلام) الصفحة :25

Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Nabi saw bersabda: ٍSiapa-siapa yang kamu dapati dia mengerjakan perbuatan kaum Luth (homoseksual, laki-laki bersetubuh dengan laki-laki), maka bunuhlah yang berbuat (homoseks) dan yang dibuati (pasangan berbuat homoseks itu); dan barangsiapa kamu dapati dia menyetubuhi binatang maka bunuhlah dia dan bunuhlah binatang itu._ (HR Ahmad dan Empat (imam), dan para periwayatnya orang-orang yang terpercaya, tetapi ada perselisihan di dalamnya).

Dalam Kitab Subulus Salam dijelaskan, dalam hadis itu ada dua masalah. Pertama, mengenai orang yang mengerjakan (homoseks) pekerjaan kaum Luth, tidak diragukan lagi bahwa itu adalah perbuatan dosa besar. Tentang hukumnya ada beberapa pendapat: Pertama, bahwa ia dihukum dengan hukuman zina diqiyaskan (dianalogikan) dengan zina karena sama-sama memasukkan barang haram ke kemaluan yang haram. Ini adalah pendapat Hadawiyah dan jama’ah dari kaum salaf dan khalaf, demikian pula Imam Syafi’i. Yang kedua, pelaku homoseks dan yang dihomo itu dibunuh semua baik keduanya itu muhshon (sudah pernah nikah dan bersetubuh) atau ghoiru muhshon (belum pernah nikah) karena hadits tersebut. Itu menurut pendapat pendukung dan qaul qadim As-Syafi’i.

Masalah kedua tentang mendatangi/ menyetubuhi binatang, hadits itu menunjukkan haramnya, dan hukuman atas pelakunya adalah hukum bunuh. Demikianlah pendapat akhir dari dua pendapat Imam As-Syafi’i. Ia mengatakan, kalau hadits itu shahih, aku berpendapat padanya (demikian). Dan diriwayatkan dari Al-Qasim, dan As-Syafi’I berpendapat dalam satu pendapatnya bahwa pelaku yang menyetubuhi binatang itu wajib dihukum dengan hukuman zina diqiyaskan dengan zina.. (Subulus Salam, juz 4, hal 25).

Dari ayat-ayat, hadits-hadits dan pendapat-pendapat itu jelas bahwa homoseks ataupun lesbian adalah dosa besar. Bahkan pelaku dan pasangannya di dalam hadits dijelaskan agar dibunuh. Maka tindakan dosa besar itu wajib dihindari, dan pelaku-pelakunya perlu dijatuhi hukuman.

Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun

Pada masanya (sekitar pertengahan tahun 1970-an hingga akhir 1998-an), Emha Ainun Najib, kelahiran Jombang, 27 Mei 1953 ini, begitu populernya. Ia pintar membuat puisi, menulis kolom, bahkan nembang/ menyanyi. Bakat berkeseniannya menurun kepada anak lelakinya Sabrang Mawa Damar atau biasa disapa Noe, vokalis kelompok musik Letto.

Meski lahir di Jombang, namun Emha lebih dikenal sebagai Budayawan Yogya. Sejak lulus SD di Jombang (1965), Emha melanjutkan pendidikan di Yogyakarta (SMP Muhammadiyah dan SMA Muhammadiyah, bahkan UGM –Universitas Gajah Mada).

Kiprah berkeseniannya tidak lepas dari sikap kritis terhadap pemerintah (kala itu Soeharto), yang diekspresikannya melalui berbagai media kesenian seperti Teater. Antara lain, Emha pernah mementaskan karya teaternya bertajuk Geger Wong Ngoyak Macan (1989), tentang pemerintahan Soeharto yang dikiaskannya dengan Raja. Bahkan ketika Emha nyantri di Pondok Modern Gontor Ponorogo Jawa Timur ia pernah melakukan demonstrasi melawan pemerintah (Soeharto) (?), sehingga ia harus menerima resiko dipecat. Karena dipecat, maka Emha pun pindah ke SMA Muhammadiyah I Yogyakarta sampai tamat. Namun demikian, di penghujung kekuasaan Soeharto, Emha sempat tampil bareng di atas panggung bersama sang ‘Raja’ untuk takbir bersama pada malam Idul Fitri kala itu.

Lingkup pergaulan Emha memang sangat luas, tidak saja bisa bergaul dengan ‘Raja’ tetapi juga dengan kalangan penganut aliran dan paham sesat seperti Syi’ah. Di tahun 1997 Emha berpartisipasi aktif pada acara yang diadakan kalangan syi’ah, yaitu acara Doa Kumail. Di situ, Emha memberikan ceramah, sambil merintih-rintih, dan benar-benar menangis, di hadapan sekitar 200 hadirin, yang memadati gedung pertemuan Darul Aitam, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Acara pembacaan Doa Kumail adalah bagian dari peringatan peristiwa Karbala, untuk memperingati wafatnya Husein ra, yang wafat dalam perjalanan menuju Kufah (Irak). Kalangan syi’ah menganggap wafatnya Husein ra sebagai syahid. Namun anehnya hanya Husein ra yang dianggap syahid, padahal yang wafat bukan hanya Husein ra. (lihat tulisan berjudul Mas, Sampeyan Syi’ah? nahimunkar.com, May 28, 2008 9:19 pm).

Meski sejak lahir beragama Islam, bahkan selalu lekat dengan julukan cendekiawan Muslim, namun Emha ada kalanya suka menggunakan istilah-istilah yang tidak lazim bagi kalangan Islam, yaitu ‘pelayanan’ yang biasa digunakan kalangan Nasrani. Bahkan bersama kelompok musiknya yang bernama Kiai Kanjeng, Emha dan kawan-kawan menampilkan gaya Gospel (ajaran Injil atau berita gembira dari Yesus) sambil bershalawat. Oleh karena itu, Emha tidak terlalu gandrung menggunakan istilah berdakwah, tetapi melayani. ‘Itu hanya bentuk pelayanan. Pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan hanya secara vertikal, tapi horizontal.’

Emha dan kelompok musik Kiai Kanjeng pernah melakukan pelayanan di Mesjid Cut Meutia, Jakarta Pusat, tepatnya pada hari Sabtu tanggal 14 Oktober 2006, dalam sebuah acara bertajuk Pagelaran Al-Qur’an dan Merah Putih Cinta Negeriku, setelah shalat tarawih. Pada saat itu Emha dan Kiai Kanjeng-nya memadukan (medley) antara lagu Malam Kudus (yang biasa dinyanyikan umat Nasrani dalam rangka peringatan Natal) dengan Shalawat: ‘Sholatullah salamullah, ‘ala thoha Rasulillah, sholatullah salamullah, ’ala yaasin Habibillah.’

Ketika itu, Emha dan Kiai Kanjeng mendapat tepukan yang sangat meriah. Sebelum membuat bingung sebagian jamaah, maka Emha pun berujar, ‘Tidak ada lagu Kristen, tidak ada lagu Islam. Saya bukan bernyanyi, saya ber-shalawat.’

Tapi, apa ada aturan yang membenarkan nyanyi-nyanyi di Mesjid setelah shalat tarawih, dengan diiringi berbagai alat musik?

Hukum Nyanyian dan Mendengarkannya

Hukum nyanyian dan mendengarkannya adalah haram serta munkar. Dan merupakan penyebab penyakit hati dan kerasnya hati. Sebagian besar ulama sepakat akan pengharamannya dan mereka menyebutkan dalil-dalil pengharamannya sebagai berikut:

1. Firman Allah SWT di dalam Surat Luqman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ(6)وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ ءَايَاتُنَا وَلَّى مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ(7)

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalanAllah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepada ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di telinganya; maka beri khabar gembiralah dia dengan adzab yang pedih.” (QS Luqman: 6-7).

Al-Wahidi dan para mufassir lainnya berkata bahwa yang dimaksud dengan lahwal hadiits (perkataan yang tidak berguna) pada ayat tersebut adalah nyanyian; menurut perkataan Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Mujahid, dan Ikrimah.

Dan diriwayatkan dari Ibnud Mas’ud bahwasanya ia berkata: “Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, bahwasanya nyanyian itulah yang dimaksud dengan lahwal hadiits.”

2. Sabda Rasulullah saw:

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ (رواه البخاري).

Layakununna min ummatii aqwaamun yastahilluunal hirro wal hariiro wal khomro wal ma’aazifa.

Sesungguhnya pasti akan ada dari golongan ummatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamar, dan ma’azif (musik).” (Hadits Riwayat Al-Bukhari).

3. Dari Abi Hurairah ra, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَرَوَى اِبْن أَبِي الدُّنْيَا فِي كِتَاب الْمَلَاهِي عَنْ أَبِي هُرَيْرَة مَرْفُوعًا ” يُمْسَخ قَوْم مِنْ هَذِهِ الْأُمَّة فِي آخِر الزَّمَان قِرَدَة وَخَنَازِير , فَقَالُوا يَا رَسُول اللَّه أَلَيْسَ يَشْهَدُونَ أَنْ لَا إِلَه إِلَّا اللَّه وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ قَالَ بَلَى وَيَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَحُجُّونَ , قَالُوا فَمَا بَالهمْ ؟ قَالَ اِتَّخَذُوا الْمَعَازِف وَالدُّفُوف وَالْقَيْنَات فَبَاتُوا عَلَى شُرْبهمْ وَلَهْوهمْ فَأَصْبَحُوا وَقَدْ مُسِخُوا قِرَدَة وَخَنَازِير

Ibnu Abid Dun-ya meriwayatkan dalam kitab Al-Malahi, dari Abu Hurairah secara marfu’ (dari Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam(: “Akan ada segolongan dari ummat ini yang menyerupai kera dan babi di akhir zaman.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulallah, bukankah mereka bersyahadat bahwasanya tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan-Nya? Rasulullah saw bersabda: “Ya, bahkan mereka berpuasa dan mengerjakan shalat serta berhaji.” Kemudian ditanyakan, “Maka apakah gerangan penyebabnya?” Beliau bersabda: “Mereka itu mengambil ma’azif (musik-musik/ bunyi-bunyi merdu –alat-alat musik), dan genderang serta biduanita; maka mereka terus tenggelam semalam suntuk dengan minuman dan permainannya sehingga di pagi hari mereka menyerupai kera dan babi.” (Ighotsah al-Lihfaan, jilid 1 halaman 262, dikutip dalam buku Sifat Sholat Nabi saw dan Dzikir-Dzikir Pilihan oleh Syaikh Muhammad binShalih Utsaimin dan Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Pustaka Al-Kautsar, cetakan II, 1996, halaman 53-55).

Demikianlah haramnya musik, tetapi anehnya dalam kasus Emha ini, dia memainkan nyanyian itu di masjid dan di Bulan Ramadhan lagi, serta dioplos dengan nuansa nyanyian gerejani, lalu dikilahi bahwa dia tidak bernyanyi tetapi bershalawat.

Dari sisi lain, nampaknya Emha menganut pluralisme agama. Pada sebuah kesempatan, Emha dengan tegas menyatakan mendukung pluralisme. Bagi Emha, pluralisme bukan menganggap semua agama itu sama, karena Islam berbeda dengan Kristen, dengan Buddha, dengan Katolik, dengan Hindu. ‘Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua’.

Rupanya Emha tidak bisa membedakan antara pluralitas dengan pluralisme, sebuah paham sesat yang menganggap semua agama adalah sama. Atau ia sedang bertaqiyah?

Abdurrahman Wahid alias Gus Dur

Sebutan ‘Gus’ adalah sapaan khas untuk anak Kiai. Karena Abdurrahman kecil adalah anak dari Kiai Wahid Hasyim, maka ia pun dipanggil Gus. Namun, kenyataanya hingga sudah beranak-cucu, Abdurrahman tetap saja dipanggil Gus (Dur). Apakah ini merupakan suatu penghormatan, atau justru sindiran, bahwa Abdurrahman tetap diposisikan sebagai anaknya Kiai yang tidak pernah beranjak dewasa, wallohu a’lam.

Abdurrahman Addakhil bin Wahid Hasyim bin Hasyim Asy’ari lahir di Denanyar (Jombang) tanggal 4 Agustus 1940. Saat tulisan ini digarap, Durahman berusia 68 tahun. Ayahnya, Wahid Hasyim, dan ibunya Solechah. Dari hasil pernikahannya dengan Sinta Nuriyah (dulu konon nama istri Durahman ini adalah Siti Nuriyah), dihasilkan empat anak perempuan yaitu Alisa Qotrunada, Zannuba Arifah (lebih populer dengan sebutan Yenni Wahid), Anisa Hayatunufus, dan Inayah Wulandari. Sang putri bungsu Durahman ini, saat sang bapak masih menjadi Presiden, ia sempat merayakan ulang tahun di hotel berbintang (Hotel Borobudur), dan setiap hari berganti-ganti warna rambut (lihat Kompas edisi Minggu, 14 Januari 2001).

Selama menjadi Presiden RI, Durahman terbukti mempraktekkan perbuatan yang tergolong kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN). Menurut UU No. 28 Tahun 1999 tentang Penyeleggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme; terutama dalam Pasal 1 ayat (4) tertulis: ‘Solusi adalah permufakatan atau kerjasama secara melawan hukum antar Penyelenggara Negara atau antara Penyelenggara Negara dan pihak lain yang merugikan orang lain, masyarakat atau negara.”

Sedangkan yang dimaksud dengan Penyelenggaraan Negara (sebagaimana diatur dalam Pasal 2), adalah Pejabat Negara pada lembaga Tertinggi Negara; Pejabat Negara pada Lembaga Tinggi Negara; Menteri; Gubernur; Hakim; Pejabat lain yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; Pejabat lain yang memiliki fungsi strategis dalam kaitannya dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Durahman selama menjadi Presiden terbukti mempraktekan KKN berupa Buloggate dan Bolkiahgate. Buloggate menyangkut uang ratusan miliar rupiah milik Bulog dan Yanatera Bulog. Sedangkan Bolkiahgate menyangkut uang senilai US$ 2 juta dolar (sekitar 17 miliyar rupiah), yang merupakan dana hibah Sultan Hasanal Bolkiah (Sultan Brunai Darussalam) kepada rakyat Aceh. Namun dana hibah itu tidak dimasukkan ke dalam kas negara (seperti diatur oleh Undang-undang No. 20 tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak). Bahkan mayarakat Aceh tidak menerima hibah dimaksud. Sebagai Presiden, Durahman mengangkat Hasyim Wahid (adik bungsunya) menjadi Staff Ahli BPPN yang menjalankan fungsi sebagai ‘debt colector’.

Ketika menjadi Presiden RI inilah berbagai skandal seks (?) Durahman yang selama ini tertutup rapat justru terungkap. Skandal seks (?) Durahman ternyata tidak saja terjadi dengan Aryanti, tetapi juga dengan beberapa wanita lainnya, seperti Siti Farikah yang juga terlibat Buloggate. Ketika kursi kekuasaannya digoyang-goyang oleh berbagai kasus yang dibuatnya sendiri, Durahman bukannya bertobat kepada Allah SWT, justru melakukan ruwatan untuk dirinya sendiri. Ruwatan adalah perbuatan menyekutukan Allah. Bukan hanya itu, Durahman juga pontang-panting menugaskan sejumlah orang kepercayaannya mencari sebilah keris, yang dipercaya dapat mempertahankan kekuasaan Durahman dari goyangan rakyat Indonesia.

Meski akhirnya terguling dari kursi kekuasaan, namun Durahman tetap saja mampu membuat berita. Antara lain, Durahman menuding bahwa Al-Qur’an sebagai kitab suci paling porno. (Lihat tulisan berjudul Gerombolan Porno dalam AKKBB, nahimunkar.com, June 24, 2008 1:41 am).

Nurcholish Madjid alias Cak Nur

Satu lagi tokoh kelahiran Jombang yang pandai membuat berita, yaitu Nurcholish Madjid atau biasa disapa Cak Nur (lahir 17 Maret 1939, meninggal 29 Agustus 2005). Sampai akhir hayatnya, Cak Nur masih tercatat sebagai Peneliti Senior, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Namun jarang ngantor. Meski begitu, dalam urusan gaji, terus mengalir ke kantongnya. Cak Nur makan gaji buta?

Cak Nur jarang ngantor di LIPI, karena kesibukannya luar biasa banyak. Antara lain, sejak 1985 menjadi Dosen pada Fakultas Pasca Sarjana, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Selama dua periode (1987-1992 dan 1992-1997) Cak Nur menjadi anggota MPR RI. Selama delapan tahun (1990-1998) menjadi angggota Dewan Pers Nasional. Tahun 1993 (selama beberapa tahun) menjadi anggota Komnas HAM. Sejak 1998 Cak Nur menjadi Rektor Universitas Paramadina Mulya, Jakarta. Ketika ICMI lahir, Cak Nur menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Penasehat ICMI (1990-1995). Belum lagi ditambah dengan seabreg kegiatannya yang bersifat internasional.

Kemampuan psikologis Cak Nur juga luar biasa, sehingga ia bisa meyakinkan Habibie (presiden kala itu) sedemikian rupa, sehingga Habibie menjatuhkan pilihan kepada Cak Nur untuk menerima penghargaan Bintang Maha Putera (1998), yang membuatnya layak dimakamkan di TMP (Taman Makam Pahlawan) Kalibata Jakarta. Habibie memang seorang teknokrat handal, namun ia amat awam di bidang politik praktis, apalagi di bidang pergerakan Islam. Sehingga sosok Cak Nur begitu luar biasa baginya.

Selain Cak Nur yang dianugerahi Bintang Maha Putera adalah Imaduddin Abdurrahim alias Bang Imad, yang juga teman dekat Habibie. Bang Imad meninggal dunia pada hari Sabtu, tanggal 02 Agustus 2008, dan telah dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. Tokoh lainnya, yang pernah mendapat anugerah Bintang Maha Putera adalah Amien Rais, mantan Ketua PP Muhammadiyah, mantan Ketua MPR RI yang mendukung aliran sesat Ahmadiyah. Kelak, Amien Rais juga berhak dimakamkan di TMP Kalibata.

Cak Nur menjadi salah satu tokoh news maker, karena pernyataan-pernyataannya yang nyeleneh. Di tahun 1985 (tepatnya tanggal 1 April), Harian Pelita menyeleggarakan sebuah Seminar, yang salah satu narasumbernya adalah Cak Nur. Di dalam makalahnya, Cak Nur menerjemahkan kalimah thoyyibah Laa Ilaaha illal laah menjadi Tiada tuhan (t kecil) selain Tuhan (T besar). Terjemahan ngawur itu diprotes salah seorang peserta, bahkan dikategorikan sebagai terjemahan yang haram. Dua hari kemudian, wartawan Harian Pelita, Hartono Ahmad Jaiz, menurunkan tulisan yang mempersoalkan terjemahan ngawur Cak Nur itu.

Namun, sekitar lima belas tahun sebelumnya, dua tahun setelah Cak Nur meraih gelar sarjana dari IAIN (kini UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, tepatnya tanggal 3 Januari 1970, ia sudah berani menggebrak melalui pidatonya bertajuk Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Ummat. Intinya, Cak Nur melontarkan gagasan sekularisasi, yang kemudian dibantah oleh Prof Dr HM Rasjidi, mantan Menteri Agama RI yang pertama.

Selain menawarkan gagasan sekularisasi, Cak Nur juga mengecam dengan keras konsep negara Islam. Menurut Cak Nur, ‘Dari tinjauan yang lebih prinsipil, konsep ‘Negara Islam’ adalah suatu distorsi hubungan proporsional antara agama dan negara. Negara adalah salah satu segi kehidupan duniawi yang dimensinya adalah rasional dan kolektif, sedangkan agama adalah aspek kehidupan yang dimensinya adalah spiritual dan pribadi.”

Lontaran gagasannya itu dilanjutkannya pada tanggal 30 Oktober 1972, saat ia memberikan ceramah di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dengan judul Menyegarkan Faham Keagamaan di Kalangan Umat Islam Indonesia.

Cak Nur juga pernah mengatakan, ‘Iblis kelak akan masuk surga, bahkan di tempat yang tertinggi karena dia tidak mau sujud kecuali kepada Allah saja, dan inilah tauhid yang murni._ Pernyataan itu dilontarkan Cak Nur dengan mengutip pendapat Ibnu Arabi yang pernah dimuat sebuah majalah yang terbit di Damaskus (Syria). Peristiwa itu terjadi pada forum pengajian Paramadina, 23 Januari 1987. Padahal, menurut firman Allah melalui surat Al-Baqarah ayat 34, iblis itu makhluk yang takabur dan kafir:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ(34)

‘Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.’

Ibnu Arabi sendiri telah dianggap kafir dan murtad oleh sejumlah ulama, akibat tulisan-tulisannya yang sangat bertentangan dengan aqidah Islam. Inti ajaran Ibnu Arabi didasarkan pada teori wihdatul wujud (menyatunya makhluk dengan Tuhan) yang menghasilkan wihdatul adyan (kesatuan agama, tauhid maupun syirik) sebagai sinkretisme dari teori-teori al-ittihad (manunggal, melebur jadi satu antara si orang sufi dan Tuhan) dengan mengadakan al-ittishal atau emanasi. Yang jelas, Ibnu Arabi banyak dipengaruhi oleh filsafat Masehi atau Nasrani.

Di tahun 1971, Cak Nur pernah melontarkan jargon Islam, Yes! Partai Islam, No! dalam rangka menggembosi partai Islam. Namun di tahun 2003, jargon Cak Nur berubah menjadi Islam, Yes! Partai Islam, Yes! dalam rangka menggalang dukungan dari partai Islam (antara lain PKS), soalnya Cak Nur kala itu bersyahwat mau mencalonkan diri jadi Presiden RI periode 2004-2009.

Sikap tidak konsisten Cak Nur juga terlihat ketika ia yang selama ini menjajakan pluralisme agama, justru gundah gulana ketika putrinya Nadia hendak menikah dengan lelaki Yahudi. Agustus 2001, Cak Nur mengirimkan e-mail kepada Nadia, isinya: ‘Kalau sampai terjadi perkawinan antara Nadia dengan David, itu termasuk dosa terbesar setelah syirik.”

Kalau gagasan pluralisme agama yang dijajakan Cak Nur dan kawan-kawannya itu merupakan konsep yang baik dan benar, seharusnya Cak Nur tidak perlu gundah-gulana sampai mengatakan perkawinan antara Nadia yang Muslimah dengan David yang Yahudi merupakan dosa besar setelah syirik. Sebaliknya, kalau gagasan itu memang tidak baik dan tidak benar, mbok ya jangan dijajakan kepada orang lain. Ini namanya kurang ajar.

Kenapa pemikirannya sangat rancu seperti itu?

Perlu ditelusuri, Nurcholish Madjid kuliah di Chicago Amerika, bertemu dengan guru besar Prof Fazlurrahman, seorang yang pendapatnya tentang Islam telah dipersoalkan oleh para Ulama di Pakistan hingga dia pergi ke Amerika sampai meninggalnya. Sebelum itu, Nurcholish Madjid di saat masih jadi santri di tingkat menengah (lanjutan pertama dan lanjutan atas) digencar dengan bahasa Arab dan Inggeris. Begitu kelas lima, sebagaimana pengakuan sebagian pengelola pesantren, langsung diberi pelajaran Kitab Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd, yakni fiqih perbandingan antar pendapat para ulama.

Perlu diketahui, perbandingan pendapat antara para ulama fiqih itu perbedaannya memang tampak sekali, bahkan dapat saling bertentangan, atau jauh berbeda satu sama lain. Masing-masing memiliki landasan atau rujukan dalil. Namun perlu diketahui, perbedaan pendapat di situ hanyalah masalah ijtihadiyah, dalam masalah yang memerlukan ijtihad Ulama, masalah cabang (bukan pokok) dan dalilnya samar, tidak jelas, dan kemungkinan bukan hanya satu makna. Maka perbedaan antara pendapat para ulama di situ sifatnya biasa saja, dan ditolerir. Berbeda dengan masalah yang pokok, yang dalilnya sudah jelas, dan tidak memungkinkan makna lain, maka tidak mentolerir perbedaan. Siapa yang berbeda dengan dalil yang sudah pasti lagi jelas, maka berarti menyimpang alias sesat.

Jadi ada perbedaan yang ditolerir, dan ada yang tidak. Ketika yang dipelajari itu langsung mengenai aneka perbedaan yang sifatnya ditolerir, sedang para santri belum tahu betul bahwa sebenarnya di dalam Islam itu ada yang masalah ijtihadi yang boleh berbeda, tetapi selain itu ada yang sifatnya qoth’I (pasti) dan tidak boleh berbeda; kemudian santri disuguhi pelajaran yang isinya perbedaan-perbedaan ijtihadi dalam kitab Bidayatul Mujtahid, maka terbentuklah cara berfikir santri bahwa di dalam Islam itu semua perbedaan adalah boleh-boleh saja.bahkan kadang dikilahi dengan apa yang disebut hadits, padahal tak ada asal usulnya menurut ahli hadits, yaitu ikhtilaafu ummatii rohmah. (Perbedaan ummatku adalah rohmat). Akibatnya sangat fatal, dan contoh kongkretnya adalah Nurcholish Madjid itu. Dan tidak sedikit yang kini sampai tidak membedakan antara yang mukmin dengan yang kafir, semua dianggap akan masuk surga. Ini adalah pendapat kufur.

Kenapa sampai separah itu?

Ini di antaranya karena kurikulum di IAIN atau perguruan tinggi Islam di Indonesia, mata kuliahnya yang membentuk cara berfikir dan berpandangan dalam Islam itu bermetode model Barat, yaitu memahami Islam tetapi metodenya sosiologi agama dan antropologi agama. Yaitu agama itu hanya dianggap sebagai fenomena social, gejala yang terjadi di masyarakat. Maka kalau sudah menampilkan gejala-gejala social yang ada ya sudah. Tidak ada perujukan kepada dalil dan cara pemahaman dalil yang benar yaitu mengikuti pemahaman salaful ummah (generasi sahabat Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam). Akibatnya, semua aliran yang sesat pun dianggap sah-sah saja, dan tidak perlu dinilai sesatnya. Ini jelas manhaj (system pemahaman) yang tidak Islami, bahkan melindungi kesesatan serta kekafiran, dan menimbulkan pendapat yang kufur, bahkan lebih dari itu adalah menumbuhkan generasi yang pemahamannya kafir. Maka wajib ditinjau kembali kurikulum yang telah merusak cara pemahaman Islam itu, dan telah membuahkan doktor-doktor yang merusak Islam itu.

Wahid Hasjim

Tokoh asal Jombang yang lahir pada tanggal 1 Juni 1914 ini, merupakan ayah kandung dari Abdurrahman Ad-Dakhil (Gus Dur, mantan Presiden RI ke-4). Wahid Hasjim meninggal dunia di Cimahi pada tanggal 19 April 1953. Meski antara Durahman dengan Wahid Hasjim mempunyai pertalian darah yang kuat, namun dalam hal menyikapi syari’at Islam keduanya berada pada posisi yang berseberangan.

Beberapa bulan sebelum meninggal, tepatnya tanggal 4 Februari 1953, Wahid Hasjim dalam kapasitasnya sebagai Ketua PBNU melayangkan surat protes kepada Presiden Soekarno. Pasalnya, Soekarno dalam salah satu pidatonya di Amuntai (Kalimantan Selatan) mengatakan: ‘Kalau kita dirikan negara berdasarkan Islam, banyak daerah yang penduduknya tidak beragama Islam akan melepaskan diri, misalnya Maluku, Bali, Flores, Timor, Kai, dan juga Irian Barat yang belum masuk wilayah Indonesia tidak akan mau ikut dalam Republik.’

Wahid Hasjim sebagaimana tercermin dalam surat protesnya itu, dengan tegas mengatakan: ‘Pernyataan bahwa pemerintahan Islam tidak akan dapat memelihara persatuan bangsa dan akan menjauhkan Irian, menurut pandangan hukum Islam, adalah pernyataan mungkar yang tidak dapat dibenarkan syariat Islam dan wajib bagi tiap-tiap Muslim menyatakan ingkar atau tidak setujunya.’

Keberpihakan Wahid Hasjim yang tegas kepada konsepsi negara Islam justru dipungkiri oleh anaknya sendiri, Abdurrahman Ad-Dakhil, yang biasa disebut Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Ketika memberikan kata pengantar pada buku Ribka Tjiptaning berjudul Aku Bangga Jadi Anak PKI, Durahman antara lain mengatakan bahwa ayahnya ‘Menentang negara agama, karena hal itu akan membedakannya dari kedudukan warga negara non-Muslim.’

Padahal, menurut BJ Boland dalam bukunya berjudul Pergumulan Islam di Indonesia, Wahid Hasjim merupakan sosok yang paling radikal: ‘Ternyata bahwa Wahid Hasjim memang memanfaatkan rancangan Pembukaan yang diusulkan tersebut sebagai titik tolak untuk pengaturan lebih lanjut menuju suatu negara Islam.’

Bahkan menurut Boland, Wahid Hasjim menyarankan agar diadakan ketentuan, bahwa hanya orang Islam yang boleh dipilih sebagai presiden atau wakil presiden Republik Indonesia. Wahid Hasjim ketika itu juga menyarankan agar pasal mengenai agama harus berbunyi: ‘Agama negara adalah Islam, dengan jaminan kemerdekaan bagi penganut agama lainnya untuk menganut agama mereka.’

Ketika itu, gagasan Wahid Hasjim didukung oleh Sukiman yang kelak memimpin Masyumi, sedangkan Djajadiningrat dan Wongsonegoro (tokoh kebatinan) menyatakan keberatan dengan gagasan Wahid Hasjim. Gagasan itu juga ditolak oleh Agus Salim, dengan alasan: ‘Jika presiden harus seorang Islam, lalu bagaimana dengan wakil presiden, para duta, dan sebagainya, lalu bagaimana duduknya janji kita untuk melindungi agama-agama lain?_ (lihat buku Hartono Ahmad Jaiz berjudul Gus Dur Menjual Bapak-nya, Darul Falah, Jakarta, Januari 2003).

Jadi, sudah sejak awal konsepsi negara Islam untuk Indonesia dicurigai oleh para tokoh (founding fathers) yang beragama Islam, seperti Soekarno. Anehnya, Durahman justru ikut-ikutan latah menentang gagasan bapaknya, bahkan memfitnah seolah-olah bapaknya itu menentang negara agama seraya mensejajarkan sang bapak dengan tokoh PKI segala. Benar-benar durhaka!

Kenapa terjadi demikian?

Bila ditilik dari siapa-siapa yang mendidik Gus Dur dan dia akui sangat terkesan, di antaranya adalah guru bahasa Inggerisnya waktu masih pelajar, yaitu Ibu Rubiyah seorang Gerwani (wanita PKI –Partai Komunis Indonesia) yang tentu saja anti Islam, benci kepada Islam. Pengaruh buruk dari orang apalagi yang mendidik dan mengesankan ternyata dibawa-bawa sampai tua dan bahkan membentuk pandangan hidup. Ketika pengaruh itu dari orang anti Islam, maka buahnya pun dapat dirasakan sampai sekarang. (haji/tede)