Kiri: Dubes Saudi Abdurrahman Mohammad Amin al-Khayyat (VIVAnews / Muhamad Solihin). Kanan: Said Aqil Siradj ketua umum PBNU. Foto arspbrt

  • Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Abdurrahman Al-Khayyat, kecewa pada sikap Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama, K.H. Said Aqil Siradj yang menolaknya untuk pamitan sehubungan masa tugasnya di Indonesia berakhir.
  •  KH Hasyim Muzadi menyatakan, tidak lazim ketua umum PB NU menolak tamu baik besar atau kecil, yang Islam atau bukan Muslim.

“Apalagi tamu itu diplomat negara Islam, tak boleh ditolak. Itu sangat tidak baik untuk umat Nahdlatul Ulama,” kata Muzadi, yang juga mantan ketua umum PB NU periode 2000-2004.

Inilah beritanya.

***

Dubes Saudi Pamitan, Ketum PBNU Enggan Menemui

Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Abdurrahman Al-Khayyat, kecewa pada sikap Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama, K.H. Said Aqil Siradj yang menolak menerima dirinya. Padahal duta besar senior di Indonesia itu datang untuk pamitan sehubungan masa tugasnya di Indonesia berakhir.

“Saya sudah dijanjikan untuk bisa bertemu pekan lalu, tapi tiba-tiba dibatalkan. Saya tak bisa mengerti mengapa sikapnya demikian terhadap kami,” kata Al-Khayyat, di kediamannya di Jakarta, Sabtu (11/12/2011) malam. Sebelum meninggalkan Indonesia, dia menggelar resepsi untuk kalangan pers di rumah dinasnya.

“Menjadi tugas saya selaku wakil pemerintah dan bangsa Arab Saudi meningkatkan hubungan baik dengan berbagai kalangan di Indonesia, termasuk dengan organisasi Islam terbesar di Indonesia itu,” katanya.

Juga, dari pengamatannya, berulangkali ada komentar-komentar Said Aqil Siradj yang mengaitkan pemerintahan Arab Saudi dengan Wahabisme.

Dia berkata, “Kamipun tahu, beliau kerap berhubungan dengan kedutaan besar satu negara lain yang memusuhi Arab Saudi.” katanya.

Sehubungan dengan itu, tokoh NU, KH Hasyim Muzadi, yang dimintai pandangannya secara terpisah, Minggu, menyatakan, tidak lazim ketua umum PB NU menolak tamu baik besar atau kecil, yang Islam atau bukan Muslim.

“Apalagi tamu itu diplomat negara Islam, tak boleh ditolak. Itu sangat tidak baik untuk umat Nahdlatul Ulama,” kata Muzadi, yang juga mantan ketua umum PB NU periode 2000-2004.

Muzadi mengingatkan, menurut ajaran Nahdlatul Ulama, ukhuwah Islamiyah (persaudaraan/ keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan aqidah Islam) harus merata secara seimbang ke seluruh kelompok kaum muslimin.

Selama lima tahun bertugas di Indonesia, Al-Khayyat melukiskan negara terbesar di ASEAN itu sebagai “negeri indah”, di mana dirinya telah membina banyak hubungan baik dengan berbagai lapisan masyarakat maupun pejabat pemerintahan.

“Kami memuji Presiden Yudhoyono yang telah memimpin Indonesia dan mencapai kemajuan seperti sekarang. Kami yakin, Indonesia akan segera menjadi salah satu negara terpenting di dunia karena peran-peran yang dimainkannya,” katanya.

Laiknya sopan-santun dan protokoler diplomatik, dia akan berpamitan pula dengan Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa. “Menteri luar negeri Anda salah satu tokoh muda cemerlang yang dimiliki Indonesia,” katanya, dilansir Antara News.*

Red: Dija

Ahad, 11 Desember 2011

Hidayatullah.com—

(nahimunkar.com)