(Khutbah Jum’at)

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا،

أَمّا بَعْدُ فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah berkenan memberikan berbagai keni’matan bahkan hidayah kepada kita.

Shalawat dan salam semoga Allah tetapkan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan baik sampai akhir zaman.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, mari kita senantiasa bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, menjalani perintah-perintah Allah sekuat kemampuan kita, dan menjauhi larangan-laranganNya.

Untuk meningkatkan taqwa, marilah kita merenungkan tentang betapa banyaknya perusakan terhadap Islam. Dalam hal ini mari kita cermati adanya 3 golongan yang merusak Islam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (11) أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ  [البقرة/11، 12]

11. Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”
12. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS Al-Baqarah/2: 11, 12).

Kerusakan yang mereka perbuat di muka bumi bukan berarti kerusakan benda, melainkan menghasut orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang orang-orang Islam.

Imam Al-Baghawi dalam tafsirnya معالم التنزيل (Ma’aalimut Tanziil) menjelaskan: وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ Dan bila dikatakan kepada mereka yaitu kepada orang-orang munafik, atau dikatakan kepada orang-orang Yahudi. Artinya, kepada mereka (munafiqin atau yahudi) itu orang-orang Mu’min berkata:  : لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi” dengan kekafiran dan membengkokkan manusia dari iman kepada Muhammad صلى الله عليه وسلم dan Al-Qur’an. Dan dikatakan (pula), artinya: janganlah kalian kafir, karena kekafiran itu adalah kerusakan paling dahsyat dalam agama.

قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Mereka menjawab dengan perkataan ini secara dusta, sebagaimana perkataan mereka, kami beriman, sedangkan mereka adalah berdusta.

أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ  Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan terhadap diri mereka sendiri dengan kekafiran dan terhadap manusia dengan membengkokkan dari iman. { وَلَكِنْ لا يَشْعُرُونَ } tetapi mereka tidak sadar, artinya mereka tidak tahu bahwa mereka itu merusak, karena mereka mengira bahwa yang mereka berada pada golongan kekufuran itu adalah baik. Dan dikatakan (maksudnya): mereka tidak menyadari akan adanya adzab yang disediakan Allah untuk mereka. (Tafsir Al-Baghawi/ Ma’aalimut tanziil, juz 1 halaman 66).

Syaikh Al-jazairi dalam tafsirnya, Aisarut Tafaasir mengemukakan, di antara hidayah ayat-ayat ini adalah:

  1. Mencela pengakuan yang dusta, yang pada umumnya mengaku-aku dengan dusta itu tidak terjadi kecuali dari sifat-sifat orang munafiqin.
  2.  Berbuat baik di bumi ini adalah dengan berbuat taat kepada Allah dan rasul-Nya. Sedang berbuat kerusakan di bumi adalah dengan bermaksiat kepada Allah dan rasul-Nya صلى الله عليه وسلم.
  3. Para pembuat keruskan di bumi selalu menghalalkan perusakan mereka dengan dalih bahwa mereka berbuat kebaikan, bukan perusakan. (Aisarut Tafaasir oleh Al-Jazaairi, juz 1 halaman 11).

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, Pengakuan yang dusta diiringi penghalalan perbuatan merusak agama itulah dua bahaya sekaligus yang sangat mencelakakan.

Kenapa?

Karena perbuatan itu jelas bukan sekadar untuk diri mereka sendiri namun sasarannya justru para manusia. Ketika mereka melancarkan pengakuan yang dusta, sasarannya agar manusia tertipu. Dan ketika menghalalkan perusakan, agar perusakan itu diikuti, bahkan diterapkan bersama-sama. Padahal ketika diikuti justru kerusakan agama lah yang terjadi, karena telah dibengkokkan, walau masih atas nama agama. Sehingga tampaknya adalah perbaikan (yaitu agama yang lurus), jalan bagi para manusia agar selamat di dunia dan akherat, namun sebenarnya sudah dibengkokkan bahkan telah rusak keyakinannya itu.

Betapa bahayanya.

Satu contoh nyata.

Seorang mahasiswi di Pascasarjana UIN (Universitas Islam Negeri, dahulu IAIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, mengungkapkan sebuah fenomena baru di UIN yang membuatnya trenyuh.

Sebelum menempuh pendidikan di pascasarjana UIN, Mahasiswi ini adalah lulusan Universitas Indonesia. Fenomena yang dimaksudnya itu, berhubungan dengan masalah penulisan dalam sebuah karya ilmiah. Misalnya, para mahasiswa pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tidak diperkenankan menulis kata Allah dengan lanjutan SWT (subhanahu wa ta’ala); tidak boleh menulis kata Muhammad dengan diakhiri SAW (shallallahu ‘alaihi wa sallam); tidak boleh menulis Muhammad dengan sebutan Nabi.

Pelarangan itu menurut Prof  Dr S yang sehari-hari mengurus kampus pascasarjana UIN, karena yang menganggap Muhammad sebagai Nabi hanya orang Islam, sedangkan non-muslim tidak menganggap Muhammad Nabi. Begitu juga dengan Allah, yang mengakui Allah itu subhanahu wa ta’ala  hanya orang Islam, sedangkan mereka yang bukan Islam, tidak demikian.

Menurut Mahasiswi ini pula, dalam sebuah karya ilmiah di Pascasarjana UIN tidak boleh ada kalimat-kalimat Islam sebagai agama yang sempurna atau Islam sebagai agama yang haq, dan kalimat-kalimat sejenis itu. Jika kalimat seperti itu ditemukan di dalam karya ilmiah (makalah, tesis atau disertasi), maka akan langsung dicoret! Mahasiswi pascasarjana UIN ini sangat menyayangkan adanya aturan seperti itu. Apalagi, sepertinya Islam tidak dihargai, namun sebaliknya, pandangan orang-orang kafir menjadi lebih dimuliakan dan dihargai.

Berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam benak Mahasiswi ini akibat adanya ketentuan yang tidak lazim tersebut: “… mengapa sebuah universitas Islam yang terkenal menjadi anti-pati terhadap penulisan-penulisan seperti itu? Seolah penulisan seperti itu adalah hal yang memalukan dan aib di hadapan warga dunia. Sejak kapan pelarangan tersebut menjadi peraturan? Apakah ada aturan resminya? Atau ada SK Rektor atau dari Depag (Departemen Agama/ kini Kementerian Agama) ada instruksi demikian? UIN memang memiliki cita-cita besar untuk menjadi universitas internasional, dan saya acungi jempol akan mimpi tersebut. UIN memang ingin karya-karyanya diterima oleh masyarakat dunia, saya tidak menolak harapan tersebut. Tapi kita tidak bisa meninggalkan identitas sebagai Universitas Islam.” Begitu tulis Mahasiswi ini dalam satu situs.kemudian dikutip di situs lain. ( https://www.nahimunkar.com/gejala-bahaya-laten-neo-komunisme-di-uin/

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, kalau ada waktu, boleh dicari makalah dari pihak petinggi perguruan tinggi Islam itu yang sudah dipublikasikan, niscaya akan menemui “garis kebijakan” yang mengikuti pemikiran pembenci Islam itu. Namun anehnya, tidak terdengar adanya tindakan kongkret yang memberi hukuman terhadap mereka yang jelas-jelas anti Allah SWT dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk disifati sesuai dengan yang digariskan Allah Ta’ala itu. Sebagaimana tidak ditindaknya oknum-oknum yang sampai menghalalkan pernikahan antara wanita Muslimah dengan lelaki kafir, dan bahkan menghalalkan homo sekalipun. Tidak ditindak dan apalagi dibuang dari perguruan tinggi yang beralbel Islam lagi negeri itu.

Apakah itu berarti bekerjasama dan melindungi dosa dan pelanggaran, atau memang menjalankan misi kemunafikan yang memang “tugasnya” adalah amar munkar nai ma’ruf, yang jelas perlakuan itu semua adalah telah diingatkan dalam ayat-ayat:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ [المائدة/2]

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS Al-Maaidah: 2).

Tentang diamnnya pihak penguasa terhadap kemunkaran yang membahayakan itu apakah artinya kerjasama dan melindungi, yang jelas telah diingatkan dalam ayat:

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (67) وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا هِيَ حَسْبُهُمْ وَلَعَنَهُمُ اللَّهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ [التوبة/67، 68]

67. Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.

68. Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela’nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal. (QS At-Taubah/9: 67).

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, di masyarakat yang justru kemunkaran diusung beramai-ramai dan diketahui secara rahasia umum bahwa itu dilindungi bahkan mungkin dibiayai dan dinaikkan pangkatnya, maka ketika ada petinggi yang secara naluri manusianya berucap mengingatkan agar jangan pakai rok mini, tahu-tahu dia diprotes keras. Bahkan sampai dengan memperagakan pakai rok mini beramai-ramai dan mengecam petinggi yang mengingatkan itu. Padahal dia karena prihatin adanya wanita yang diperkosa bahkan dibunuh dan dirampas hartanya dalam angkutan kota, sedang kejadiannya bukan hanya satu kali dan korbannya pun berjatuhan. Namun, apa hendak dikata, di negeri yang kemunkaran dimanjakan ini, petinggi itu sampai minta maaf atas nasehatnya yang menginginkan agar tidak pakai rok mini itu. Sedemikian dahsyatnya kekuatan pihak munafiqin dan munafiqot istilah Al-Qur’an dalam memaksakan kemunkaran di negeri ini, sampai seorang petinggi pun harus minta maaf kepada mereka, lalau mereka masih mengatakan tidak cukup hanya minta maaf. Astaghfirulahal  ‘adhiem, walaa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adhiem.

Padahal, tidak usah mengusung kemunkaran secara ramai-ramai, atau tidak usah membuat keputusan yang akan menghalangi Ummat untuk meyakini Islam (seperti kasus penulisan di paskasarjana tersebut) , ketika berucap yang mengakibatkan murkanya Allah Ta’ala pun sudah ada ancamannya. Sebagaimana ditegaskan dalam hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam masuk neraka atas orang yang hanya gara-gara ia mengucapkan satu perkataan.

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ يَنْزِلُ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ .

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Adakalanya seorang hamba mengucapkan satu kalimah (satu kata) yang menyebabkan dia tergelincir ke dalam Neraka yang jarak dalamnya antara timur dan barat. (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لَا يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ *.

Dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya bisa jadi seseorang mengucapkan suatu perkataan yang disangkanya tidak apa-apa, tapi dengannya justru tergelincir dalam api neraka selama tujuh puluh musim.” (HR At-Tirmidzi, ia katakan ini hadits hasan gharib dari arah ini, dan Ahmad – 6917).

Jama’ah jum’ah rahimakumullah, kemunkaran dan kemaksiatan yang diusung kemudian dibiarkan bahkan kemungkinan sekali dilindungi itu jelas-jelas membahayakan bagi Ummat Islam. Sehingga maksiat dan aneka kemunkaran justru beretengger di mana-mana dan dapat memaksa siapa saja. Padahal itu kita tahu bahwa memang itu kemunkaran dan kemaksiatan. Itupun ternyata tidak banyak yang berani untuk mengubahnya apalagi memberantasnya. Di sinilah letak di antara ujian bagi Muslimin, siapa sebenarnya yang memegang teguh Islam ini. Sehingga ada bukti-bukti dalam amaliahnya dalam membela Islam.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, kondisi perusakan Islam yang tampak seperti itu, sangat memprihatinkan. Dan orang mudah mengerti serta faham bahwa itu munkar, buruk, dan itu pakai rok mini adalah maksiat, apalagi mengobarkannya itu lebih lagi. Maka perlu dihadapi, agar masayarakat ini tidak tambah rusak lagi.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, masih ada perusakan Islam yang sebenarnya tidak kalah dengan maksiat itu. Bahayanya juga tidak kalah dibanding yang kasus di paskasarjana itu, dan bergeraknya juga di lingkungan Ummat Islam. Perusakan Islam itu terjadi karena seolah hamba ini yang tugasnya hanya mengikuti syari’at ini, tahu-tahu berani secara lancang membuat syari’at baru. Bukan mencukupkan diri untuk mengikuti apa yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun membuat-buat yang baru lagi. Sebenarnya ini tidak lebih ringan bahayanya dibanding maksiat, namun tidak mudah orang menyadarinya, hingga para pengusungnya berani “jualan” di rumah-rumah Allah, tidak sekadar seperti pengusung rok mini yang dalam membela kemaksiatannya mereka berteriak di jalanan.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, perlu diperhatikan dalam hadits ditegaskan:

   عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلَّا كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ الْإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ.

Dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah SAW bersabda, Tidak ada seorang nabi pun yang diutus Allah kepada suatu ummat sebelumku, melainkan dari umatnya itu terdapat orang-orang yang menjadi pengikut dan sahabatnya, yang mengamalkan Sunnahnya dan menaati perintahnya. (Dalam riwayat lain dikatakan, Mereka mengikuti petunjuknya dan menjalankan Sunnahnya.) Kemudian setelah terjadi generasi pengganti yang buruk, dimana mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan dan mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan, maka orang-orang yang memerangi mereka dengan tangannya, niscaya dia termasuk orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang memerangi mereka dengan lisannya, niscaya dia termasuk orang-orang yang beriman.Demikian juga dengan orang yang memerangi mereka dengan hatinya, niscaya dia termasuk orang yang beriman. Selain itu, maka tidak ada keimanan sebesar biji sawi pun._ (HR. Imam Muslim).

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, keburukan yang harus diperangi itu wujudnya dalam hadits itu adalah:

يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ

Mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan dan mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan.

Mulut mereka mengatakan sesuatu (kebaikan/ yang diperintahkan) namun mereka tidak mengerjakannya. Sedang yang mereka kerjakan justru yang tidak diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa banyaknya kejadian seperti itu sekarang. Bahkan mengerjakan hal-hal yang tidak diperintahkan itupun masih pula mereka pertahankan dan kobarkan. Apabila ada yang mengusiknya, maka dikobarkanlah permusuhan terhadap yang ingin menegakkan Islam sesuai dengan tuntunan aslinya itu.

Kenapa jadi rusak seperti itu?

Dalam atsar sahabat disebutkan:

عَنْ زِيَادِ بْنِ حُدَيْرٍ قَالَ قَالَ لِى عُمَرُ : هَلْ تَعْرِفُ مَا يَهْدِمُ الإِسْلاَمَ؟ قَالَ قُلْتُ : لاَ. قَالَ : يَهْدِمُهُ زَلَّةُ الْعَالِمِ وَجِدَالُ الْمُنَافِقِ بِالْكِتَابِ وَحُكْمُ الأَئِمَّةِ الْمُضِلِّينَ. )رواه الدارمي، وقال الشيخ حسين أسد: إسناده صحيح.(

Dari Ziyad bin Hudair, ia berkata, Umar telah berkata kepadaku: Apakah kamu tahu apa yang merobohkan Islam? Ia (Ziyad) berkata, aku berkata: Tidak. Ia (Umar) berkata: Yang merobohkan Islam adalah tergelincirnya orang alim (ulama), bantahan orang munafik dengan al-Qur’an, dan keputusan pemimpin-pemimpin yang menyesatkan. (Riwayat ad-Darimi, dan berkata Syaikh Husain Asad: isnadnya –pertalian riwayatnya—shahih).

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, ketika 3 unsur perusak Islam (yaitu ulama yang tergelincir –pada kebatilan atau kesesatan–,  orang munafik yang membantah dengan dalih Al-Qur’an, dan para pemimpin yang keputusannya menyestkan)  itu bersatu padu, maka benar-benar dahsyat perusakannya terhadap Islam. Dan itu terjadi sekarang, bahkan secara sistematis serta dibiayai, hingga ada kuburan di Jombang yang dibiayai pakai APBN dan APBD sampai 180 Miliar rupiah. Yang duitnya adalah hasil utang dari luar negeri dan menarik pajak setinggi-tingginya. Itu demi apa yang dalam hadits tersebut:

 يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ

Mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan dan mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, dengan adanya perusakan Islam secara sistematis itu, apa yang perlu dilakukan?

Di antaranya Allah Ta’ala menegaskan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [المائدة/105]

105. Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk[453]. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Qs Al-Maaidah: 105).
[453]. Maksudnya: kesesatan orang lain itu tidak akan memberi mudharat kepadamu, asal kamu telah mendapat petunjuk. Tapi tidaklah berarti bahwa orang tidak disuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.

Semoga Allah Ta’ala menjaga diri kita dari aneka perusakan dan kemunkaran, dan semoga Allah menguatkan untuk memberantasnya, sehingga Ummat Islam menjadi masyarakat yang Allah ridhoi karena taat dan patuh kepadaNya dan taat pula kepada rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aimen ya Rabbal ‘alamien.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ .

Khutbah Kedua

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ.

أَمَّا بَعْدُ؛ وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ قَالُوا سَمِعْنَا وَهُمْ لاَ يَسْمَعُونَ

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . وَصَلى الله وسَلم عَلَى مُحَمد تسليمًا كَثيْرًا . وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.