Tips Menghindari Tabung Gas Meledak

Selasa, 27 April 2010 – 6:18 WIB

JAKARTA (Pos Kota) – Kasus kebakaran terus terjadi. Selain arus pendek (korsleting) listrik, ledakan  tabung gas elpiji diduga juga sebagai salah satu penyebab kebakaran.

Untuk mencegah kebakaran akibat meledaknya tabung gas, masyarakat yang belum paham betul sebaiknya berhati-hati saat menghidupkan kompor dan tabung gas elpiji.

“Kalau mencium aroma yang tidak sedap dan menyengat. Janganlah sekali-kali mementikan korek api, apalagi merokok,” terang Toharso, Sekretaris Perusahaan Pertamina kepada Pos Kota.

Segeralah membuka pintu lebar-lebar. Jangan jendela. Karena tekanan gas lebih besar dari udara yang ada di ruangan itu. Dengan membuka pintu, gas tersebut akan ke luar.

Setelah membuka pintu lebar-lebar, pemakai kompor gas sebaiknya mencabut regulator dan selang. Lalu bawalah tabung gas tersebut ke luar rumah.

Kemudian periksalah tabung gas tersebut dengan menggunakan air sabun. Siram valve (penutup tabung). Air sabun mengelembung busa, berarti bocor. Tandainya dengan tusuk gigi.

Bila tidak ada busa, maka ada kerusakan di valve. Sebaiknya ditukar kembali tabung gas ke agen tersebut. Karenanya, masyarakat pengguna gas elpiji harus memiliki nama dan nomor telepon agen. “Belilah gas elpiji di agen yang kami tunjuk,” ujarnya.

Sehingga tabung gas yang bocor tadi bisa ditukar kembali ke agen bersangkutan. “Kalau agen tersebut menolak mengganti tabung yang bocor, silakan lapor ke telepon 500000,” ujarnya.

Menyinggung soal tabung gas elpiji mengingat belakangan ini banyak juga beredar tabung abal-abal, Toharso menjamin masyarakat tidak perlu khawatir kalau tabung gas yang tadinya kosong lalu masuk ke Pertamina dan diisi gas, maka tabung gas tersebut masih bagus.

Yang penting, ia kembali mengingat masyarakat pengguna gas elpiji harus berhati-hati ketika menghidupkan kompor gas

Selama ini pihaknya sendiri sudah, bahkan akan terus menyosialisasikan bagaimana cara menggunakan kompor dan tabung gas elpiji ke masyarakat, termasuk lewat  televisi maupun talk show di radio. ”Ini mungkin harus diperbanyak lagi agar masyarakat lebih mengerti dan paham ,” kata Toharso. (setiawan/B) (poskota.co.id, Selasa, 27 April 2010 – 6:18 WIB).