Tokoh Kubu Liberal Syafii Maarif “Bertabrakan” dengan Suara Islam

Panasnya pernyataan kubu liberal yang membela Syafii Maarif dalam konferensi pers mempersoalkan Tabloid Suara Islam (SI) tidak mencerminkan para sosok liberal yang selama ini mengesankan bahwa mereka adalah orang-orang yang mengecam kekerasan. Justru kenyataannya kini, mereka langsung menunjukkan jati diri kekerasan kata-kata maupun sikap.

Tampaknya Syafii Maarif sendiri kini jadi kikuk dalam kasus ini. Karena dengan mencuatnya kasus ini dan sikap kerasnya kubu liberal yang membela Syafii untuk “menghantam” SI justru merupakan boomerang. Paling kurang, orang akan ada yang menafsirkan, Syafii diseret teman-temannya sealiran liberal untuk berhadapan dengan pihak Islam dalam hal ini kasus dimuatnya rumor tentang apartemen mewah untuk Syafii Maarif dari Abu Rizal Bakrie yang dimuat SI dijadikan alat sebagai sumbu pemicunya.

Penafsiran semacam itu bisa terjadi, dan memang sudah terjadi, buktinya adalah tulisan yang sudah diedarkan seperti berikut ini:

Buya Syafii, Suara Islam dan Apartemen 2 Milyar

M. Shodiq Ramadhan

Chief Editor Suara Islam Online

Mantan anggota Pansel Ketua KPK Ahmad Syafii Maarif gusar. Buya Syafii, demikian tokoh pendiri  Maarif Institute ini akrab dipanggil, merasa telah difitnah oleh Tabloid Suara Islam (SI) melalui pemberitaan pada edisi 101, 19 November 3 Desember 2010.

Buya Syafii dan kawan-kawannya sangat marah karena dalam berita halaman 13 tabloid dwi mingguan itu ditulis dalam leadnya “Ada rekayasa terselubung dalam pemberian penghargaan (Award). Syafii Maarif bungkam tidak kritis lagi setelah menerima apartemen mewah senilai 2 miliar dari Aburizal Bakrie?”

Selain dua kalimat dalam lead itu, Buya Syafii juga mempersoalkan satu paragraf dalam berita. Kalimatnya berbunyi, “Di tengah perseteruan, kontroversi, dan penolakan oleh para sastrawan sampai cendikiawan atas penganugerahaan Bakrie Award, belakangan nama sekelas Ahmad Syafii Maarif seorang cendikiawan sekaligus pendiri Maarif Institute cenderung bungkam. Menurut sumber Suara Islam, Syafii Maarif bungkam tidak kritis lagi setelah menerima apartemen mewah senilai 2 miliar dari Aburizal Bakrie. Ketika Suara Islam mencoba mengkonfirmasi kebenaran hal tersebut, Syafii Maarif menolak memberikan wawancara.”

Buya Syafii pun meradang. Tak terima dengan pemberitaan itu, pada hari Rabu siang (8/12/2010) bertempat di kantor ‘bekas’ pengacara Todung Mulya Lubis, Buya Syafii menggelar konferensi pers. Selain Buya dan Todung, konferensi pers itu juga dihadiri oleh Dedy Julianto, seorang yang mengaku memiliki apartemen di Rasuna Said,  Ketua umum Pemuda Muhammadiyah Saleh Partaonan Daulay dan tentu saja Direktur Eksekutif Maarif Institute Fajar Rija Ul Haq.

Secara tegas kubu Buya Syafii menuntut kepada SI agar mencabut berita yang berjudul “Multi Accident Awward” itu, sekaligus meminta agar SI menyampaikan permohonan maaf. Jika tidak, mereka akan membawa persoalan ini ke Dewan Pers, bahkan memungkinkan juga ke ranah hukum. Todung juga menyatakan telah siap untuk mengirimkan somasi ke SI.

Di blantika dunia pers, tuntutan permintaan maaf, pencabutan berita, melaporkan ke Dewan Pers  tentu hal sudah biasa. Tapi ada yang tidak biasa dari pernyataan orang-orang dalam konferensi pers di Gedung Mayapada itu. Dedy Julianto, seorang yang dikenalkan sebagai pengusaha batu bara dan yang telah memberikan tumpangan apartemen bagi Buya Syafii, malah mengancam akan membawa persoalan ini ke polisi. Sebelumnya ia dengan kasarnya mengatakan “goblok betul tabloid ini (SI, pen)”. Untung Buya dan Todung meralat sendiri ucapan Dedy, “Kita tidak sejauh itulah. Kita tidak ingin mengkriminalisasi pers”, ucap Todung.

Nyaris mirip dengan pernyataan Dedy, adalah pernyataan yang dikeluarkan Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Saleh Partaonan Daulay. Dalam pernyataan resminya, untuk membela dan melindungi tokoh Muhammadiyah ia menyatakan Pemuda Muhammadiyah siap berhadapan dengan siapapun melalui jalur konfrontatif. Tentu pernyataan ini tidak layak keluar dari mulut seorang intelek yang bergelar doktor (Dr), MA dan M.Hum.

Gentarkah Suara Islam?

“Kita tidak gentar sedikitpun”, ucap pengacara SI Munarman dalam konferensi pers yang digelar di Kantor M.Luthfie Hakim and Partner, Menteng, Jakarta pada Kamis siang (9/12/2010). Munarman mengaku, pihaknya akan menghadapi semua tuntutan Buya Syafii cs. Mau diadukan ke Dewan Pers siap, dibawa ke jalur hukum pun juga sangat siap. “Karena kita telah menjalankan prosedur penulisan berita secara benar”, tegasnya.

Munarman justru tidak menduga, bahkan ia mengaku terkaget-kaget dan kalau mau pingsan bisa juga pingsan, ketika mendengar ada oknum ‘preman’ dalam konferensi pers yang digelar Buya Syafii yang menantang konfrontasi secara fisik. Bagaimana mungkin, ungkapan kata-kata kasar  “goblok betul”, bahkan mengajak konfrontasi fisik diucapkan disamping “dua pendekar” anti kekerasan, Buya Syafii dan Todung, yang selama ini selalu memojokkan para aktivis Islam yang melakukan amar makruf nahi munkar sebagai preman berjubah?. Karena itu Munarmkan balik menuntut Buya Syafii untuk meminta maaf ke SI.

Dari sisi penulisan berita dan kode etik jurnalistik, SI telah mematuhi dan menjalankan prosedur itu. Informasi yang sangat meyakinkan tentang hadiah apartemen Rp. 2 Milyar dari Ical ke Buya Syafii masuk ke redaksi SI melalui sumber yang terpercaya. Untuk menurunkan berita itu, SI telah berupaya mengkonfirmasi atau dalam bahasa wartawan SI, tabayun, kepada Buya Syafii. Upaya itu diiakui oleh Buya Syafii telah terjadi sejak dua bulan yang lalu. Bahkan sempat berganti wartawannya, dari Abdul Halim ke Jaka Setiawan.

Nihil. Semua upaya yang dilakukan tak mendapatkan hasil. Ditelpon tidak diangkat, di sms tidak menjawab. Malah wartawan SI sempat diancam akan dipolisikan oleh seorang staf Buya. Padahal sekedar ingin bertanya, “Benarkah Buya Syafii menerima apartemen 2 Milyar seperti informasi yang kami terima?”. Jawaban, “tidak benar, itu fitnah”, atau bahkan “benar mas” tentu bagi wartawan SI sudah cukup memuaskan. Tetapi itu tidak dilakukan Buya. Entah mengapa.

Inilah yang hingga detik ini dipertanyakan oleh Wapimred SI, M. Luthfie Hakim. Ketika ditanya seorang wartawan, apakah SI akan meminta maaf kepada Buya?. Luthfie menjawab, “Nanti dulu, yang terpenting sekarang adalah jawab dulu mengapa upaya konfirmasi dari SI tidak dijawab Buya?”. Bagi Luthfie, sikap ‘cueknya’ Buya Syafii adalah bentuk penghinaan.

“Apakah karena Syafii Maarif memandang Tabloid Suara Islam  hanya tabloid kecil yang dibaca terbatas kalangan tertentu saja sehingga tidak perlu diladeni? Atau apa? Kami sungguh merasa tidak dihargai, dilecehkan dan dianggap nobody oleh Syafii Maarif”, tanya Luthfie.

Karena itu setelah tidak berhasil mendapatkan jawaban dari Buya Syafii, akhirnya SI menurunkan tulisan yang berkaitan dengan penghargaan yang diberikan kepada sejumlah tokoh oleh Freedom Institute melalu Bakrie Awward. Freedom Institute adalah sebuah lembaga yang didanai oleh Aburizal Bakri. Yang menggelitik SI adalah sejumlah tokoh yang diberi hadiah Bakrie Award telah mengembalikan penghargaan itu, karena Ical terkait dengan kasus Lumpur Lapindo, sementara informasi yang diterima SI menyatakan bahwa Buya Syafii akhir-kahir ini diam terhadap masalah Lumpur Lapindo karena telah diberi hadiah apartemen oleh Ical. Dari sinilah  kemudian upaya “tabayun” itu dilakukan.

Karena hasil konfirmasi terhadap Buya ‘gagal’, maka SI memuat berita tentang Buya Syafii dalam kalimat menggunakan tanda tanya (?). Dan tentu saja tetap menyatakan “menurut sumber Suara Islam”, serta upaya mengkonfirmasi Syafii Maarif tapi ditolak.

Karena itu menjadi aneh kalau tiba-tiba Buya Syafii melalui pengacaranya menyatakan akan mengajukan somasi dan melakukan pengaduan ke Dewan Pers serta kemungkinan jalur hukum lainnya. Padahal Hak Jawab, sebagaimana yang diatur dalam UU Pers, belum mereka lakukan. Meski demikian, SI mempersilakan saja Buya Syafii menjalankan hak-haknya.

Redaksi SI sebenarnya telah mendengar, bahwa sesungguhnya Buya Syafii tidak ingin mengangkat persoalan ini. Kepada salah seorang redaktur senior SI dalam sebuah perbincangan di Yogyakarta, Buya Syafii mengaku tidak akan melakukan tindakan apa-apa terhadap SI. Tapi rupanya anak buah Buya Syafii dari kalangan liberal yang menginginkan masalah ini ‘dipanaskan’. Kalau sudah demikian, berarti ini merupakan percaturan lama antara dua kubu, Islam versus Liberal. Siapa yang akan menang, mari kita lihat bersama-sama. []

suara-islam.com/news, Thursday, 09 December 2010 19:15 Written by Shodiq Ramadhan

(nahimunkar.com)