Topeng Termahal di Dunia

Inilah profil topeng termahal di dunia, hingga untuk membelinya perlu menjual ini dan itu, menurut seorang penulis, seperti dia tuturkan berikut ini:

Citizen Journalism

29/07/2009 – 10:53

Tirani Berkedok Demokrasi

topeng1

Demokrasi mengklaim berhasil menciptakan kebebasan dan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh rakyat untuk menentukan hukum dan pemerintahan. Demokrasi juga membanggakan dirinya sebagai sistem pemerintahan terbaik yang bisa mengakomodasi aspirasi rakyat. Benarkah?

Demokrasi sebagai produk peradaban Yunani kuno dianggap sebagai sistem ideal, walau tak bisa dibantah bahwa kenyataannya jauh dari ideal. Fakta menunjukkan kegagalan demokrasi menciptakan kemajuan dan kesejahteraan umum. Alih-alih menciptakan kemajuan, demokrasi justru menimbulkan korupsi yang akhirnya menimpakan kemunduran.

Demokrasi yang dianggap sebagai prasyarat terciptanya kesejahteraan umum, ternyata lebih cenderung menciptakan kemiskinan masal. Demokrasi di dalam semua bentuk dan variasinya bukanlah jalan menuju kemakmuran. Tetapi demokrasilah yang menguras habis kemakmuran.

Untuk menyelenggarakan pesta demokrasi, pemerintah harus menyediakan uang triliunan rupiah. Belum termasuk pilkada di daerah-daerah. Dari mana pemerintah mampu menyediakan uang, sementara mesin penghasil uang negara seperti BUMN habis diobral kepada pemodal besar?

Terlepas dari perhitungan rumit sistem keuangan dan perekonomian negara, logika sederhana cukup memberikan penjelasan. Pemerintah pailit. Akhirnya terpaksa mengambil utang luar negeri dan membayar cicilannya dengan pajak. Jika utang semakin besar, pajak akan semakin tinggi.

Kini, utang negara semakin bertambah besar, walaupun konon rasio kemampuan membayar utang semakin besar. Akhirnya jalan pintas pun ditempuh dengan obral aset dan menjual BUMN lagi.

Dapatkah rakyat umum hidup layak dalam negara yang memaksakan pajak? Apakah negara mampu mengurus rakyat dengan optimal, sementara aset dan perusahaan negara yang berpotensi menghasilkan uang untuk negara, dijual begitu saja atas nama privatisasi?

Jika pola itu terus dibiarkan, maka tirani kaum pemilik modal besar akan terus berlangsung. Segelintir orang itu menjadi penguasa negara. Sementara itu, aparat tidak lebih sebagai pesuruh.

Demokrasi gagal memakmurkan rakyat banyak. Alih-alih memberikan kemakmuran merata, demokrasi justu mengantarkan kaum tirani pendusta ke tampuk pemerintahan. Tirani menggunakan kedok demokrasi untuk melegitimasi kehendak mereka sendiri. Mereka bisa mengatur pemerintahan dan menempatkan agen-agen mereka di lembaga perwakilan rakyat.

Tidaklah heran, jika kebijakan pemerintah dan wakil rakyat tidak sejalan dengan kehendak rakyat banyak, misalnya kebijakan harga BBM, undang-undang pendidikan, dan sejenisnya. Dengan kata lain, kaum tirani memaksakan kehendak mereka, lalu berlindung di balik suara rakyat.

Di sisi lain, sistem otoriter telah terbukti gagal menciptakan kesejahteraan umum. Sistem otoriter juga menimbulkan tirani negara, yang berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat mereka sendiri.

Sovyet bertindak otoriter dengan membantai jutaan rakyatnya sendiri. Bahkan mereka melakukan genocide terhadap etnis tertentu. Negara itu gagal menciptakan kemakmuran. Bahkan korupsi dan kriminal merajalela.

Kini, berbagai varian demokrasi ditawarkan, misalnya demokrasi kerakyatan, demokrasi kebangsaan, atau apalah namanya. Tetapi, semua produk varian demokrasi itu hanya fasih berbicara di tataran filosofis, namun selalu gagal di tataran praktis. Demokrasi yang mengklaim diri sebagai anti tesis kezaliman sistem otoriter, terbukti bobrok dan gagal menciptakan kemajuan umum.

Satu-satunya keberhasilan demokrasi adalah sukses menjadi kedok bagi kaum tirani untuk merampok habis harta kekayaan negara dan mengelabui rakyat banyak.

Diam-diam, jutaan rakyat semakin menunjukkan sikap apatis dan ketidakpercayaan terhadap demokrasi. Jumlah mereka, detik demi detik, semakin bertambah banyak. Kini pertanyaannya adalah berapa lama lagi demokrasi bisa bertahan?

Handi Nurf

[email protected]

Sumber: http://www.inilah.com/berita/citizen-journalism/2009/07/29/134651/tirani-berkedok-demokrasi/