Turunnya Nabi Isa ‘Alaihis Salam Sebelum Qiyamat

Tentang Isa alaihis salam rasulullah dan hamba-Nya, maka Allah Ta’ala telah berfirman:

فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ ءَامَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ(52)رَبَّنَا ءَامَنَّا بِمَا أَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ(53)وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ(54)إِذْ قَالَ اللَّهُ يَاعِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ(55)

Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)”. Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai `Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya“. (QS Ali Imran; 52, 53, 54, 55).

Setelah itu Allah berfirman mengenai dustanya orang-orang Yahudi atas Allah dan rasul-rasul-Nya;

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلاَّ اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا(157)بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا(158)وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلاَّ لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا(159)

dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, `Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) `Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah `Isa.

dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, `Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) `Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah `Isa. Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (`Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti `Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka. (QS An-Nisaa’: 157, 158, 159).

Allah ‘Azza wa Jalla telah menerangkan dalam ayat-ayat ini sejelas-jelasnya keterangan bahwa Isa alaihis salam tidak dikuasai musuh-musuhnya yakni Yahudi dan lainnya dengan membunuh atau menyalib, tetapi Allah selamatkan dia dari mereka, maka mereka tidak sampai kepadanya, karena mereka hanya menyalib orang yang menyerupainya yang mereka kira itu adalah dia. Allah telah menyucikan Isa alaihis salam dari hal itu semua dan Dia angkat kepadaNya, ini semuanya termasuk hal yang telah disepakati Muslimin atasnya.

Terjadinya perbedaan pendapat di antara Muslimin hanyalah dalam menafsiri firman-Nya Ta’ala: إِنِّي مُتَوَفِّيكَ

Apakah maksudnya mati atau tidur sebagaimana firman Allah Ta’ala:

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ(42)

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (QS Az-Zumar: 42).

Dan seperti firmanNya:

وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ

Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari (QS Al-An’am; 60).

Ataukah bahwa yang dimaksud dengan attawaffa itu al-istiifa’ dengan arti bahwa Allah Azza wa Jalla mengangkatnya dengan sepenuhnya sempurna tanpa dikenai keburukan sedikitpun yang ingin ditimpakan padanya. Pendapat yang pertama yaitu penafsiran mutawaffika itu dengan matinya Isa adalah pendapat yang lemah (marjuh). Dua pendapat lainnya lebih kuat dan lebih rajih (kuat) menurut umumnya para peneliti dari mufassirin dan lainnya seperti Ibnu Jarir At-Thabari (Jami’ul Bayan 6/ 458), Al-Wahidi (Al-Wajiz: 1/ 213) Ibnu Katsir (Tafsir Al-Qur’anul ‘Adhiem 2/ 44). Hanya saja penafsiran ayat itu dengannya (dengan penafsiran yang lemah yaitu Isa as mati) tidak merusak keimanan dengan turunnya Isa alaihis salam pada akhir zaman pada zaman al-Mahdi dan peperangannya dan pembunuhannya terhadap Dajjal. Karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, sedang menghidupkan Isa dan menurunkannya ke bumi setelah zaman yang jauh ini bukanlah hal yang asing, dan tidak pula lebih menakjubkan daripada tetapnya hidup sampai zaman turunnya!! Maka tidak ada kaitan antara penafsiran ayat itu –dengan salah satu dari beberapa pendapat tersebut– dengan beriman kepada turunnya Isa alaihis salam pada akhir zaman. Karena telah ada dalil atas turunnya Isa alaihis salam itu tiga ayat dalam kitab Allah Ta’ala:

Pertama:

Firman Allah ta’ala seperti dalam ayat-ayat tersebut:

وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلاَّ لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا(159)

Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (`Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti `Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka. (QS An-Niasaa’: 159).

Makna ayat ini; dan tidaklah seseorang dari Ahli Kitab –Yahudi dan Nasrani—kecuali akan beriman secara pasti benar-benar dengan Isa sebagai nabi dan rasul sebelum matinya Isa ‘alaihis salam, dan pada hari qiyamat dia akan menjadi saksi atas mereka bahwa dia telah menyampaikan risalah dan mengakui (adanya kebatilan) dengan penyembahan atas dirinya.

Kedua:

Firman Allah ta’ala:

وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ فَلَا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ(61)

Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus. (QS Az-Zukhruf: 61).

Makna ayat itu: Sesungguhnya Isa alaihis salam adalah satu tanda dan alamat dari tanda-tanda qiyamat diketahui darinya. Maka tanda itu dinamai alamat karena diperoleh pengetahuan dengannya.

Ketiga: Firman Allah Ta’ala:

وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَمِنَ الصَّالِحِينَ(46)

dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang saleh.” (QS Ali Imran: 46).

Allah Subhanahu wa Ta’ala membilang-bilang karakteristik Nabi yang mulia ini yaitu Isa alaihis salam, Dia sebutkan di antara keajaibannya adalah berbicaranya di waktu bayi, dan tak diragukan lagi bahwa termasuk luar biasa ketika bayi yang masih dalam buain itu berbicara. Kemudian Dia sebutkan berbicaranya pada usia kuhulah; umur kuhulah yaitu permulaan umur tampak tua’ dikatakan yakni usia setelah 33 tahun. Sedangkan berbicara pada umur menginjak usia tua itu tidak ajaib apa-apa dan tidak ada kekhususan hal itu pada Isa alaihis salam, maka dalam konteks ini menunjukkan bahwa berbicaranya pada usia mulai tua yang dimaksud dalam ayat ini adalah ketika turunnya Isa alaihis salam; sebagaimana hal itu merupakan pendapat sebagian ulama salaf dan ahli bahasa (Tafsir At-Thabari 6/420), tahdzibul Lughah oleh Azhari 6/ 18, Zadul Masir oleh Ibnul jauzi 1/ 390.

Hadits-hadits tentang turunnya Isa alaihis salam yang paling shahih dan tsabat/ kuat di antaranya yang ada di shahihain, al-Bukhari dan Muslim yang keduanya diikuti dengan diterima oleh umat. Dan hadits-hadits lainnya yang shahih dan masyhur sehingga hal ini telah menjadi kesepakatan umat atasnya. Maka tidak ada perselisihan di antara kaum ahlis sunnah wal jama’ah, bahkan kaum Muslimin yang awam. (arsip multaqo ahlil hadits, Khalil bin Muhammad, 23-04-2002, 03:03 PM).

Hadits yang disepakai Imam Bukhari dan Muslim sebagai berikut:

93 حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَكَمًا مُقْسِطًا فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ وَيَفِيضُ الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ

93 Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, ia berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: Demi Allah! Sesungguhnya telah hampir masanya Nabi Isa bin Mariam turun kepada kamu untuk menjadi hakim secara adil. Dia akan mematahkan salib, membunuh babi serta tidak menerima cukai dan harta akan melimpah, sehinggalah tidak ada seorang pun yang ingin menerimanya. (Muttafaq ‘alaih).

Fatwa Syaikh Bin Baaz tentang Turunnya Nabi Isa alaihis salam

Adapun perkara Isa al-Masih Ibnu Maryam alaihis salam dan perkara Al-Masih Dajjal maka keduanya lebih jelas dan lebih terang (dibanding masalah Imam Mahdi), karena perkara di dalam kedua hal ini sifatnya pasti (qath’I). Para Ulama umat telah sepakat mengenai hal itu dan menjelaskan kepada manusia bahwa Al-Masih bin Maryam itu akan turun di akhir zaman, sebagaimana Dajjal akan keluar di akhir zaman. Dan sungguh berita-berita dari Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam telah mutawatir mengenai itu, dan semuanya shahih lagi mutawatir dengan turunnya Isa alaihis salam di akhir zaman. Dan dia akan menghukumi dengan syari’at Islam dan akan membunuh Dajjal.

(Turunnya Isa bin Maryam alaihis salam) ini adalah benar, demikian pula keluarnya Dajjal adalah benar.

Adapun orang yang mengingkari itu dan menyangka bahwa turunnya Isa bin Maryam dan wujud Al-Mahdi itu adalah perlambang kepada munculnya kebaikan; sedang wujudnya Dajjal dan Ya’juj wa Ma’juj dan apa yang serupa dengannya itu perlambang untuk munculnya kejahatan, maka perkataan-perkataan ini adalah rusak bahkan batil secara nyata, tidak layak untuk dituturkan. Maka pelakunya telah menyimpang dari kebenaran dan mengatakan perkara yang munkar dan perkara yang berbahaya, tidak ada landasannya dalam syari’ah, tidak berlandaskan atsar, dan tidak pula berlandaskan teori. Yang wajib adalah mengikuti apa yang dikatakan Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam dengan menerima, beriman, dan pasrah dengannya. Kapan saja berita dari Rasulullah Shalllallahu ‘alaihi wasallam itu shahih maka seseorang tidak boleh menentangnya dengan pendapatnya dan ijtihadnya, tetapi wajib tunduk. Sebagaimana firman Allah subhahanu wa ta’ala:

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا(65)

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS An-Nisaa’: 65).

Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan tentang Dajjal, Al-Mahdi, dan Isa al-Masih bin Maryam, maka wajib mengikuti apa yang dikatakannya dengan penerimaan, iman dengannya dan menghindari dari (mengunggulkan) keputusan akal/ pendapat dan taqlid buta yang membahayakan pelakunya dan tak berguna di dunia maupun akherat. (مجموع فتاوى و مقالات ابن باز – (ج 4 / ص 102) Kumpulan Fatwa dan Makalah Bin baaz, juz 4 halaman 102, http://www.binbaz.org). (Hartono Ahmad Jaiz)