يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا [النساء/29]

Uang Haji kok untuk Beli Mercy Staf di Arab Saudi

Pada musim haji 2009, Kementerian Agama membeli Mercy seri S350 yang harganya miliaran rupiah. Kemenag menjelaskan, mobil ini untuk staf di Arab Saudi.

KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) sudah memberi masukan, jangan ada pembelian mobil dari uang BPIH (Biaya Perjalanan Ibadah Haji, dahulu namanya ONH, Ongkos Naik Haji). Sebab menurut Undang-undang Haji, untuk operasional petugas sudah masuk APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Lagi pula pembelian mobil Mercy itu menurut KPK tidak selayaknya.

Di samping itu, untuk Siskohat (Sistem Komputerisasi Haji Terpadu) sudah masuk APBN dan APBD. Tetapi tahun 2010 ini malah mengambil dari BPIH sebanyak RP 100 miliar lebih.

Sementara itu bunga bank dari setoran awal calon haji, total dalam setahun bisa Rp1,17 triliun. Padahal para calon haji itu mengantri bisa sampai 5 tahun. Di antara bunga bank dari para calon haji yang masih mengantri itu untuk menutupi biaya kenaikan sewa pemondokan haji 2010. Haji kok komponennya dibayar pakai bunga bank, itupun dari para calon haji yang sedang mengantri. (lihat nahimunkar.com, Bunga Bank untuk Menutup Kenaikan Pemondokan Jamaah Haji,

Berita masalah ini dalam penyelenggaraan haji sebagai berikut:

Untuk staf di Arab Saudi Uang BPIH Dibelikan Mercy

Sabtu, 19 Juni 2010 – 0:39 WIB

JAKARTA (Pos Kota) – Supervisi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk perbaikan penyelenggaraan ibadah haji 2010, ternyata tidak digubris oleh Kementerian Agama (Kemenag) RI.

“Buktinya, dalam Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) 2010, Kemenag masih memasukkan komponen pembelian kendaraan petugas haji yang seharusnya dibebankan kepada APBN,” kata anggota Komisi DPR, Muhammad Baghowi, dari F-Demokrat, kemarin.

Menurutnya, KPK sudah memberi masukan, jangan ada pembelian mobil dari uang BPIH. Sebab menurut UU Haji, untuk operasional petugas sudah masuk APBN. Lagi pula pembelian mobil Mercy itu menurut KPK tidak selayaknya.

Dijelaskan Baghowi, pada musim haji 2009, Kemenag membeli Mercy seri S350 yang harganya miliaran rupiah. Kemenag menjelaskan, mobil ini untuk staf di Arab Saudi. “Setelah kami cek, ternyata nganggur, karena tidak ada staf yang berani pake. Mobil Mercy terlalu tinggi untuk staf hingga Konjen, mobil itu untuk ukuran Menteri,” katanya sambil menyatakan, hal itu jangan terulang.

Lagi pula, pejabat tidak selayaknya menggunakan mobil yang dibeli dari dana jemaah haji. “Menurut pandangan kami, menteri pun tidak selayaknya memakai mobil mewah dari uang jemaah. Kalau menteri ya harus memakai uang APBN,” katanya.

GANJALAN PENGINAPAN

Di sisi lain, soal pemondokan masih mengganjal bagi Komisi VIII DPR. Kemenag mengusulkan 3041 real, Komisi VIII DPR menginginkan turun jadi 2500 real.

Menurut Baghowi, kalau memang masih dibutuhkan dana bisa mengambil bunga bank dari setoran awal. Logikanya, setoran awal Rp 25 juta dari calon jemaah, bunganya sudah cukup besar, apalagi kalau berangkatnya sampai menunggu lima tahun. Total dalam setahun bisa Rp1,17 triliun.

“Tapi, dana ini oleh Kemenag malah digunakan untuk pembayaran Siskohat, gaji ke-13 petugas haji, sewa rumah petugas, gaji petugas, beli mobil, dan lainnya,” katanya. “Padahal, untuk Siskohat itu sudah masuk APBN dan APBD. Tetapi tahun 2010 ini malah mengambil dari BPIH sebanyak RP 100 miliar lebih.”(winoto/us/o)

Sumber: poskota.co.id

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا [النساء/29]

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS An-Nisaa’: 29). (nahimunkar.com).