MPU

Ilustrasi

  • Menurut Ibrahim Latif, dalam pertemuan tersebut tim MPU Aceh menyatakan tetap pada prinsipnya dan tidak mencabut Keputusan MPU Aceh Nomor 04 tahun 2004 tanggal 15 Syakban 1425 H/28 September 2004 yang menyatakan aliran LDII bertentangan dengan ajaran Islam dan dilarang mengadakan kegiatan. Kata dia, tim MPU Aceh menjelaskan hasil penelitian pihak MPU Aceh bahwa ajaran LDII masih menyimpang dan menyimpan misteri.

TIM Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh yang datang ke Langsa atas undangan Wali Kota Usman Abdullah untuk mengklarifikasi keberadaan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Alue Dua Bakaran Batee, Langsa Baro, menyatakan aliran LDII bertentangan dengan ajaran Islam dan dilarang mengadakan kegiatan.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Syariat Islam Kota Langsa, H. Ibrahim Latif saat ditemui seusai pertemuan dengan tim MPU Aceh, Senin, 15 April 2013. Kata dia, tim MPU Aceh, Tgk. Abu Daud Zamzami, Tgk. Faisal Ali, Tgk H. Abdullah Rasyid dan Tgk. Ziauddin menghadiri rapat lanjutan pembahasan tentang keberadaan aliran LDII, di Aula Setda Langsa, Senin 15 April 2013.

Rapat khusus tentang LDII itu dibuka Wali Kota Usman Abdullah. Selain tim MPU Aceh, juga hadir seluruh unsur Muspida, instansi terkait, camat, geuchik, imam desa, tokoh masyarakat, pimpinan dayah dan pengurus LDII.

Menurut Ibrahim Latif, dalam pertemuan tersebut tim MPU Aceh menyatakan tetap pada prinsipnya dan tidak mencabut Keputusan MPU Aceh Nomor 04 tahun 2004 tanggal 15 Syakban 1425 H/28 September 2004 yang menyatakan aliran LDII bertentangan dengan ajaran Islam dan dilarang mengadakan kegiatan. Kata dia, tim MPU Aceh menjelaskan hasil penelitian pihak MPU Aceh bahwa ajaran LDII masih menyimpang dan menyimpan misteri.

Ibrahim mengatakan, ajaran keagamaan dinyatakan sesat atau menyimpang dari ajaran Islam apabila memenuhi salah satu dari kriteria berikut: mengingkari salah satu dari rukun iman, mengingkari salah satu dari rukun Islam, meyakini dan atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan i’tiqad Ahlus-Sunnah Waljama’ah.

Selain itu, meyakini turun wahyu setelah AlQuran, mengingkari kemurnian dan kebenaran AlQuran, menafsirkan AlQuran tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir, mengingkari kedudukan hadist nabi sebagai sumber ajaran Islam, melakukan pencerahan hadist tidak berdasarkan kaidah-kaidah ilmu musthalah hadist, menghina atau melecehkan para nabi dan rasul Allah, mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir, menghina atau melecehkan para sahabat Nabi Muhammad SAW, merubah, menambah atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang tetapkan syariat dan mengafirkan sesama muslim.

Menurut tim MPU Aceh, kata Ibrahim, berdasarkan laporan penelitian MPU Aceh, LDII sampai sekarang memiliki hal-hal atau kriteria tersebut. (Pz/Islampos/atjehpost) By Pizaro on April 16, 2013

***

MPU: ‘LDII Dekati Ulama Agar Tidak Diberi Fatwa Sesat’

WAKIL Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh yang juga SekJen Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA), Tengku H. Faisal Ali melakukan pertemuan dengan Sekjen Forum Ruju’ ilal Haq (FRIH) di Banda Aceh guna membahas persoalan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII).

Tengku Faisal mengungkapkan ada upaya dari LDII untuk mendekati tokoh Agama demi mendapatkan sertifikat tidak sesat dari MPU maupun MUI. Namun upaya LDII itu selalu ditolak oleh ulama Aceh itu.

“Mereka selalu berusaha menemui saya.  Mereka datang ke kantor PWNU gak saya terima. Mereka datang ke pesantren gak saya terima. Mereka datang ke MPU gak saya terima. Mereka minta foto bersama, biasanya nantinya itu dimuat di majalah dan pemberitaannya beda dengan acaranya,” papar Tengku, Jum’at lalu.

Menanggapi gencarnya pihak LDII mendekati tokoh Agama dan Masyarakat, sampai ada ulama yang dibawa ke pondok LDII di jawa timur. Hingga ketika balik ke Aceh pandangan sang ulama menjadi berbeda terhadap LDII.

“Mereka menjadi membela LDII, ketemu saya, saya hajar lah (debat argumentasi),” sambungnya.

Sementara itu Sekjen FRIH, Adam Amrullah,  menjelaskan bukti kedustaan paradigma baru LDII seperti transkrip nasehat Ketua Umum DPP LDII Abdullah Syam tahun 2011 yang sangat gamblang menjelaskan bahwa LDII adalah Islam Jamaah, sebuah sekte yang mengkafirkan Umat Islam selainnya.

“LDII adalah Islam Jamaah, negara dalam negar. Mereka terus mendakwahkan paham buatan Nurhasan Alkadzdzab yang sudah dilarang Jaksa Agung dan difatwa sesat oleh MUI ini,” ujarnya.

“LDII bersumpah palsu bahwa sudah tobat dari ajaran Nurhasan, namun bukti valid ini membongkar segala kepalsuan mereka,” lanjut adam.

Adam menambahkan para Ulama yang dibawa ke pondok LDII biasanya dibawa ke Perpustakaan LDII. Hal itu ditempuh guna menyajikan kitab-kitab LDII. Namung sayangnya, kata Adam, upaya itu hanya upaya untuk menutupi ajaran LDII sebenarnya.

“Karena kitab-kitab yang ada di perpustakaan itu mayoritas tidak pernah diajarkan di LDII. Kitab-kitab itu hanya untuk menjebak Ulama, agar percaya bahwa LDII menggunakan kitab-kitab yang sama,” papar Adam.

Adam menegaskan, “LDII hanya dan masih terus mengajarkan Quran dan Kutubusittah dalam pemahaman yang diajarkan oleh Nurhasan.” (Pz/Islampos) By Pizaro on May 29, 2013

(nahimunkar.com)