• Prof Dr Salim Badjri, Ketua Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI)  Cirebon menyesalkan pernyataan Said Agil Siradj. Pasalnya saat ini saat organisasi yang dipimpinnya sedang melakukan upaya pemersatuan ummat, apapun paham fiqih dan organisasinya. Pada saat yang sama, malah pemimpin (NU) ormas Islam terbesar di tanah air, Said Aqil, justru membuat fitnah dan perpecahan. Dia menegaskan supaya Said Aqil berhenti membuat fitnah dan teror kepada sesama Muslim. 
  • Ternyata pernyataan Said Aqil di Park Hotel itu senada benar dengan program yang dikembangkan oleh Jaringan Islam Liberal dan sekutunya…

Inilah beritanya  

***

Ulama Cirebon: Said Aqil, Bicara Benar atau Diam!

 

Jakarta – Sejumlah ulama di kampung halaman Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj, Cirebon, meminta Said Aqil Siradj bicara yang benar atau diam. Seruan sejumlah ulama Cirebon itu sebagai respon atas pernyataan Said dalam Workshop “Deradikalisasi Agama Berbasis Kyai/Nyai dan Pesantren” yang digelar Muslimat NU di Park Hotel, Jakarta, Sabtu (3/12/2011) lalu. Saat itu Said mengatakan bahwa ada sejumlah yayasan dan ulama Cirebon yang bertindak sebagai penebar benih radikal, teror dan mengajarkan doktrin pengeboman.

Ulama Cirebon yang bereaksi itu antara lain KH Ismail, pemimpin Pesantren Benda, Kota Cirebon yang merupakan paman Said Aqil Siradj, Prof Dr Salim Badjri, Ketua Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) dan KH Dabas Hafidz, pimpinan Pesantren Uswatun Hasanah, Setu Wetan, Weru Kabupaten Cirebon, yang juga ketua Rabithotul Ulama Indunisiyya Wilayah III Cirebon.

Salim Badjri menyesalkan pernyataan Said Agil itu. Pasalnya saat ini saat organisasi yang dipimpinnya sedang melakukan upaya pemersatuan ummat, apapun paham fiqih dan organisasinya. Pada saat yang sama, malah pemimpin ormas Islam terbesar di tanah air, Said Aqil, justru membuat fitnah dan perpecahan. Dia menegaskan supaya Said Aqil berhenti membuat fitnah dan teror kepada sesama Muslim.

“Sesama Muslim itu bersaudara, bagaikan satu tubuh, satu sakit yang lainnya ikut demam, kita diperintahkan oleh Allah untuk saling membela sesama Muslim apapun organisasinya, dan kita dilarang saling bermusuhan. Orang-orang kafir itu saling membela satu sama lain apalagi kalau memerangi Islam dan Ummat Islam, mereka sangat kompak, nah justru kenapa Said Aqil malah membantu orang-orang yang menginginkan Islam dan Ummat Islam ini hancur” kata Salim.

Salim menyitir QS Al Hujurat ayat 6, “Hai orang-orang yang beriman, jika seorang fasiq datang kepadamu membawa berita, maka telitilah (tabayyun) kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kecerobohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatan itu.”

Sebenarnya ada kejanggalan dari pernyataan Said Aqil. Rupanya Said sendiri tidak tahu persis nama orang dan posisinya secara tepat. Yayasan yang dituduh Said setidaknya ada 12, di antaranya di Cirebon yakni Yayasan As-Sunnah yang disebutnya dipimpin oleh Salim Badjri, yang menurut Said didirikan Yusuf Utsman Baisa dan didanai oleh Khalid Bawazir. Padahal Salim Badjri adalah ketua Yayasan Ukhuwah Islamiyah yang punya pesantren sendiri disamping Ketua Forum Ukhuwah Islamiyah, tidak pernah berafiliasi dengan Yayasan As-Sunnah yang dipimpin KH Thoharoh.

Said juga salah menyebut nama dan posisi pihak-pihak lain yang dituduhnya, termasuk menyebut pelaku peledakkan bom di Masjid Adz-Dzikra Mapolresta Cirebon dengan nama Syarifuddin, padahal pelakunya bernama Muhammad Syarif. Yayasan yang dituduh (oleh Said Aqil Siradj sebagai) penebar benih radikal dan teror yang mengajarkan doktrin pengeboman antara lain :

  1. Yayasan Al Shofwa di Lenteng Agung Jakarta Selatan, yang dipimpin Maman Abdur Rahman dan Farid Uqbah.
  2. Yayasan Al Fitrah di Surabaya, jalan Arif Rahman Hakim yang dipimpin oleh Ainul Harits.
  3. Yayasan Al Faruq di jalan Danau Toba, Jember.
  4. Yayasan Ulil Albab di Lampung, Sukabumi dan Bogor yang dipimpin oleh Yazid Jawaz.

Para pemimpin Ormas Islam Cirebon juga mengecam pernyataan Said Aqil. Sebab ternyata pernyataan Said itu senada dengan kampanye deradikalisasi BNPT. Secara kebetulan di Islamic Centre Kota Cirebon pada 26 November 2011, digelar seminar “Islam (Jihad), Radikalisme dan Terorisme”, dengan pembicara Dr S Yunanto Msi (anggota Kelompok Ahli BNPT), Kol (Purn) Herman Ibrahim, pengamat militer dan intelijen (lulusan Akademi Militer Nasional 1968, seangkatan dengan Jend TNI Purn Wiranto), dan Abu Rusydan (Pengamat Dunia Islam). Dalam acara itu terungkap bahwa, definisi  radikalisme atau terorisme tidak ada konsensusnya baik secara nasional maupun global.

Artinya siapapun bisa sesukanya membuat definisi atas radikalisme dan terorisme itu, sesuai selera dan kepentingannya. Dan definisi radikalisme dan terorisme yang dikembangkan di Indonesia khususnya oleh BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) itu, sangat dipaksakan dan sangat kental politisnya, yaitu demi menyenangkan Yahudi, Amerika dan Sekutu-sekutunya. Tujuannya jelas, memusuhi Islam dengan mematikan semangat Jihadnya, tidak semata-mata memerangi teroris.

Ternyata pernyataan Said Aqil di Park Hotel itu senada benar dengan program yang dikembangkan oleh Jaringan Islam Liberal dan sekutunya, juga senada dengan apa yang dikembangkan BNPT ini.

Demikian menurut Doddy Faris dari Gerakan Muslim Cirebon (GMC) dan Ustadz Andi Mulya Ketua Gerakan Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat (GAPAS).

Rep: Shodiq Ramadhan/Abu Jundi. | Selasa, 13 Desember 2011 | 21:25:48 WIB (SI ONLINE)

(nahimunkar.com)