Ulama, Muspida, dan IDI Sepakat

Praktek Dukun Cilik Ponari Tak Boleh Dibuka Lagi

Ulama, Muspida, dan IDI (Ikatan Dokter Indonesia) bersepakat bahwa praktek dukun cilik Ponari di Jombang Jawa Timur ditutup dan tidak boleh dibuka lagi, karena mudhorotnya lebih besar dibanding manfaatnya. Sampai Gus Dur pun berkomentar, praktek dukun cilik Ponari pakai batu petir itu jelas kemusyrikan dan hanya demi kepentingan keluarganya saja. Gus Dur menegaskan, “mempercayai batu milik dukun cilik itu adalah musyrik. Lagi pula itu hanya untuk persambungan pendapatan keluarga saja,” katanya

Mengenai letak kemusyrikan praktik dukun cilik Ponari sudah dibahas di sini, di antaranya karena mempercayai batu sebagai penyembuh, padahal bukan karena bukti-bukti ilmiyah yang menunjukkan kandungan obat padanya. Mempercayai batu semacam itu adalah bentuk kemusyrikan, menyekutukan Allah Ta’ala, dosa terbesar menurut keyakinan Islam, sebagaimana mempercaya pohon dan lainnya yang dianggap keramat, bertuah dan semacamnya.

Untuk memperjelas duduk soal tentang kemusyrikannya, mari kita simak kembali uraian berikut ini:

Batu dan Kemusyrikan

Yang primitif, misalnya bisa dilihat dari kasus Ponari dan Dewi, dukun cilik yang dianggap sakti karena dipercaya bisa menyembuhkan segala macam penyakit, berkat batu petir yang dimilikinya. Itu sisa-sisa keyakinan primitive yang bersumber pada ajaran dynamisme, yang dalam Islam disebut syirik, menyekutukan Allah Ta’ala dengan lainnya. Karena menganggap batu itu sebagai batu sakti yang memiliki kekuatan untuk penyembuhan. Kecuali kalau khasiat untuk obat itu ada landasan dalilnya yang shahih, misalnya air zamzam, madu, dan habbatus sauda’ (jinten hitam). Ternyata barang-barang yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu memang bisa dibuktikan secara ilmiyah lantaran memiliki kandungan yang berunsur obat. Demikian pula barang-barang yang bisa dibuktikan secara ilmiyah memang bisa untuk obat, dengan hukum sebab akibat, maka boleh-boleh saja untuk berobat. Namun ketika batu dipercaya sebagai barang ajaib dan menyembuhkan aneka penyakit, tanpa bukti-bukti ilmiyah dan juga tanpa dalil syar’i, maka ini termasuk yang digolongkan mempercayai kekuatan sakti pada selain Allah. Dalam keyakinan Islam digolongkan syirik, menyekutukan Allah Ta’ala. Itu dosa terbesar.

Oleh karena itu ketika Al-Lajnah Al-Daaimah di Saudi Arabia (terdiri dari kibar ulama/ ulama-ulama besar) ditanya tentang sepotong kain atau sepotong kulit dan sejenisnya diletakkan di atas perut anak laki-laki dan perempuan pada usia menyusu dan juga sesudah besar, maka jawabnya:

Jika meletakkan sepotong kain atau kulit yang diniatkan sebagai tamimah (jimat) untuk mengambil manfaat atau menolak bahaya, maka ini diharamkan, bahkan bisa menjadi kesyirikan. Jika itu untuk tujuan yang benar seperti menahan pusar bayi agar tidak menyembul atau meluruskan punggung, maka ini tidak apa-apa.” (Al-Lajnah Ad-Daaimah, Fatawa al-‘Ilaj bi Al-Qur’an wa Assunnah, ar-Ruqo wamaa yata’allaqu biha, halaman 93).

Mencari berkah kepada pohon, batu dan lainnya termasuk dilarang dalam Islam, bahkan bila dilakukan maka termasuk kemusyrikan. Karena telah jelas dalam Hadits:

عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ قَالَ خَرَجَنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِبَلَ حُنَيْنٍ فَمَرَرْنَا بِسِدْرَةٍ فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا هَذِهِ ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لِلْكُفَّارِ ذَاتُ أَنْوَاطٍ وَكَانَ الْكُفَّارُ يَنُوطُونَ بِسِلَاحِهِمْ بِسِدْرَةٍ وَيَعْكُفُونَ حَوْلَهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا كَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ لِمُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةً إِنَّكُمْ تَرْكَبُونَ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

Riwayat dari Abi Waqid Al Laitsi, ia berkata: “Kami keluar kota Madinah bersama Rasulullah menuju perang Hunain, maka kami melalui sebatang pohon bidara, aku berkata: “Ya Rasulullah jadikanlah bagi kami pohon “dzatu anwaath” (pohon yang dianggap keramat) sebagaimana orang kafir mempunyai “dzatu anwaath”. Dan adalah orang-orang kafir menggantungkan senjata mereka di pohon bidara dan beri’tikaf di sekitarnya. Maka Rasulullah menjawab: “Allah Maha Besar, permintaanmu ini seperti permintaan Bani Israil kepada Nabi Musa: (`Jadikanlah bagi kami suatu sembahan, sebagaimana mereka mempunyainya`), sesungguhnya kamu mengikuti kepercayaan orang sebelum kamu.” (HR Ahmad dan Al-Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, hadits no 267, juga riwayat At-Tirmidzi, ia berkata: hadits hasan shahih).

Tafsir Al-Qur’an keluaran Departemen Agama RI mengulas sebagai berikut:

Kenyataan tentang adanya kepercayaan itu diisyaratkan hadits di atas pada masa dahulu dan masa sekarang hendaknya merupakan peringatan bagi kaum muslimin agar berusaha sekuat tenaga untuk memberi pengertian dan penerangan, sehingga seluruh kaum muslimin mempunyai akidah dan kepercayaan sesuai dengan yang diajarkan agama Islam. Masih banyak di antara kaum muslimin yang masih memuja kuburan, mempercayai adanya kekuatan gaib pada batu-batu, pohon-pohon, gua-gua, dan sebagainya. Karena itu mereka memuja dan menyembahnya dengan ketundukan dan kekhusyukan, yang kadang-kadang melebihi ketundukan dan kekhusyukan menyembah Allah sendiri. Banyak juga di antara kaum muslimin yang menggunakan perantara (wasilah) dalam beribadah, seakan-akan mereka tidak percaya bahwa Allah Maha Dekat kepada hamba-Nya dan bahwa ibadah yang ditujukan kepada-Nya itu akan sampai tanpa perantara. Kepercayaan seperti ini tidak berbeda dengan kepercayaan syirik yang dianut oleh orang-orang Arab Jahiliyyah dahulu, kemungkinan yang berbeda hanyalah namanya saja. (Al-Qur’an dan Tafsirnya, Departemen Agama RI, Jakarta, 1985/ 1986, jilid 3, halaman 573-574). (nahimunkar.com dalam judul News Maker from Jombang February 20, 2009 8:25 pm)

Dari penjelasan tersebut di atas, kalau batu dipakai untuk menggosok daki-daki di badan agar hilang dan bersih, misalnya, maka boleh saja. Karena sesuai dengan sifatnya, batu itu memang bisa untuk menggosoki badan, menghilangi daki. Tetapi kalau batu itu dicelupkan ke air lalu airnya diminum kemudian diyakini akan memberikan kesembuhan, padahal tidak ada dalil syar’i tentang itu atau tidak ada bukti ilmiah bahwa batu itu tadi ada unsur-unsur obat, maka berarti menjadikan batu itu sebagai tamiimah alias jimat. Itu termasuk kemusyrikan. Jadinya dukun cilik Ponari atau lainnya dengan batu yang diyakini sakti itu jelas bentuk kemusyrikan.

Dalilnya:

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : { إنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتُّوَلَةَ شِرْكٌ } رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد وَابْنُ مَاجَهْ .

Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya mantra-mantra, jimat-jimat, dan pelet (aji pengasihan, mantra ataupun jimat untuk menjadikan cinta atau pisahnya lelaki-perempuan) adalah syirik.? (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

Larangan menganggap benda sebagai barang yang sakti:

عن عمران بن حصين رض{ : أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَبْصَرَ عَلَى عَضُدِ رَجُلٍ حَلْقَةً – أَرَاهُ قَالَ مِنْ صُفْرٍ – فَقَالَ : وَيْحَك مَا هَذِهِ ؟ قَالَ : مِنْ الْوَاهِنَةِ . قَالَ أَمَّا إنَّهَا لَا تَزِيدُك إلَّا وَهْنًا , انْبِذْهَا عَنْك فَإِنَّك لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْك مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا } . (رواه أحمد بسند لا بأس به).

“Dari Imran bin Hushain ra dinyatakan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki memakai gelang kuningan di tangannya. Beliau bertanya, celaka kamu, apa ini?? Orang itu menjawab: menolak lemah (wahinah)?. Maka Nabi berkata kepada orang itu, ‘Adapun sesungguhnya ia tidak akan menambah kamu kecuali kelemahan, maka lepaskanlah gelang itu darimu, karena sesungguhnya apabila kamu mati sedangkan ia masih ada padamu, tentulah engkau tidak akan beruntung selama-lamanya.’ (HR Ahmad dan Al-Hakim dengan sanad laa ba’sa bih). (Lihat nahimunkar.com, Kemusyrikan Terbentang Luas Dari Ponari Hingga Hasyim Muzadi, February 24, 2009 4:33 am admin Artikel)

Berita-berita berikut ini menegaskan keharusan ditutupnya praktek dukun cilik yang telah mengakibatkan tewasnya beberapa orang itu.

Ulama dan Tokoh Masyarakat Turun Tangan

Tadi Malam Berdialog dengan Warga Desa Balongsari
[ Sabtu, 14 Maret 2009 ]

JOMBANG – Jajaran Muspida beserta tokoh agama dan insan kedokteran, kali ini benar-benar merapatkan barisan untuk membendung rencana pembukaan praktik Ponari, Si Dukun Cilik. Hal itu merupakan penegas bahwa pembukaan kembali praktik Ponari bukanlah jalan keluar. Untuk meredam kengototan keluarga dan orang dekat Ponari, tokoh agama Jombang turun tangan. Para tokoh masyarakat siap terjun langsung ke Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, untuk berdialog dengan masyarakat. ”Malam ini (tadi malam, red) kami (tokoh agama) dan Muspika akan mendatangi Desa Balongsari,” ujar KH Mukhid Djaelani, Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Jombang, seusai mengikuti rapat Muspida di Pendapa Pemkab Jombang, Jumat (13/3) kemarin.

Dalam agenda rapat tertutup itu, Muspida, tokoh agama, dan insan kedokteran, sebenarnya mengundang keluarga Ponari. Maksudnya untuk berdialog, terkait selisih paham yang kembali memanas. Pasalnya, keluarga Ponari mendadak ingin buka praktik lagi. Mereka mengingkari kesepakatan yang pernah dibuat dengan jajaran Muspida, beberapa waktu lalu. Dalam kesepakatan yang antara lain ditandatangani oleh Mukaromah dan Paeno itu, keluarga Ponari menyatakan menutup tempat praktik itu. Mengingat massa yang datang membuat mereka kerepotan. Bahkan mereka juga meminta perlindungan dan pengamanan polisi di depan rumah yang ditinggali Ponari. Namun beberapa hari terakhir, keluarga Ponari malah menyewa pengacara untuk melobi Muspida agar bisa buka praktik lagi.

Sejumlah tokoh agama yang berencana hadir antara lain Ketua PC Nahdlatul Ulama (NU) Jombang, KH Isrofil Ammar; Ketua FKUB KH Mukhid Djaelani; Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jombang KH Cholil Dahlan, Ketua PD Muhammadiyah Jombang dr Rachmat Hadi Santosa Sp A, dan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jombang, dr Puji Umbaran. ”Intinya kami akan berupaya keras untuk memberi pengertian kepada masyarakat, bahwa keputusan Muspida sudah melalui berbagai pertimbangan yang matang,” ungkap dr Puji Umbaran.

KH Mukhid juga menambahkan, yang terpenting adalah membuat masyarakat mengerti tujuan Muspida, terkait penutupan ini. Muspida dan tokoh agama sama sekali tidak ingin bertindak arogan. Tetapi, justru untuk melindungi masyarakat (pengunjung Ponari, Red), yang sedang dalam kesusahan. Dalam kondisi sakit dan memerlukan pertolongan, seharusnya mereka mendapat pelayanan yang baik. Bukan malah bersusah-susah mencari kupon dan antre, hanya untuk mendapatkan air dicelup batu Ponari. ”Kami datang langsung agar penjelasan kami lebih dekat dan mengena, sehingga masyarakat bisa memahami mana jalan yang terbaik,” tegas KH Mukhid. (doy/lal) (Radar Mojokerto)

Muspida Sepakat Melarang

Rencana Buka Praktik Ponari Dukun Cilik
[ Jum’at, 13 Maret 2009 ]

JOMBANG – Usaha pengacara Ponari, si dukun cilik untuk membuka lagi praktik pengobatan tak berjalan mulus. Dalam rapat koordinasi antara Muspida, tokoh agama, dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), di Pendapa Kabupaten Jombang, kemarin (12/3), sepakat melarang praktik di Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh itu, dibuka lagi.

Karena selain dianggap memanfaatkan Ponari, praktik pengobatan tak lazim itu juga dapat memicu kerawanan sosial. Padahal, Achmad Rifai, pengacara Ponari, sudah percaya diri bisa membuka lagi tempat praktik itu. Dengan adanya kesepakatan ini, untuk sementara, Ponari tetap bisa menikmati masa kanak-kanaknya dengan bebas.

Rapat yang berlangsung tertutup itu antara lain dihadiri Wakil Bupati, Kapolres, Kajari, Dandim, Ketua MUI, Ketua FKUB, hingga Ketua IDI. Setelah kurang lebih dua jam, kesepakatan yang sudah diambil pada hari pertama bertugas Kapolres Jombang yang baru itu, tetap bulat. Artinya, orang-orang dibalik Ponari harus menahan keinginannya untuk membuka praktik pengobatan itu.

Wakil Bupati Jombang, Widjono Soeparno menegaskan, pihaknya tetap konsisten pada keputusan awal, yakni menutup praktik Ponari. Keputusan itu diambil dengan berbagai pertimbangan yang matang. ”Kami sudah sepakat, untuk tetap konsisten pada keputusan awal,” tegas Wabup.

Dukungan diungkapkan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jombang, KH Cholil Dahlan. Pengasuh di Ponpes Darul Ulum Peterongan ini mengatakan, dikaji dari berbagai aspek, tempat praktik Ponari tetap lebih banyak mudharat (akibat buruk) daripada manfaatnya. Mudharat yang dimaksud meliputi faktor keamanan dan faktor sosial.

Karena praktik ini setiap harinya mendatangkan puluhan ribu orang. Dalam kondisi sakit, mereka harus menempuh medan yang berat, antre berlama-lama dan berdesakan, serta menguras biaya akomodasi.

Padahal di sisi lain, tingkat kesembuhannya juga belum jelas. Belum lagi banyaknya orang yang mencoba mencari keuntungan di tengah-tengah kesusahan pengunjung yang sakit dan mencari kesembuhan. Bagi MUI sendiri, hal-hal yang lebih banyak membawa mudharat atau dampak buruk haruslah dihindari. ”Karena lebih baik mencegah, dari pada harus menanggung efek negatif setelah tempat praktik itu dibuka lagi,” tegas Cholil Dahlan.

Keputusan Muspida ini juga didukung oleh dr Puji Umbaran, ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jombang. Ia tidak memungkiri, banyak orang sakit yang lebih memilih datang ke “klinik” Ponari. Mereka tidak peduli meski proses untuk mendapatkan pengobatan itu tidak mudah.

Semisal harus mencari kupon lebih dulu, yang biasanya dijual di kantor desa setempat. Tak jarang, mencari pengobatan di Ponari membutuhkan waktu berhari-hari.

Menurut dr Puji, ini mengakibatkan pasien seringkali kehilangan golden period (masa terbaik untuk sembuh jika diobati). Kesempatan itu hilang karena sibuk meminta air yang dicelup batu di tempat praktik Ponari. Dengan banyaknya orang yang mengaku sembuh, semakin banyak pula pasien yang lebih mendahulukan mencari air Ponari. ”Setelah tidak sembuh, baru pergi ke rumah sakit. Sehingga mereka kehilangan golden period dan malah semakin parah,” paparnya.

Wabup kembali menegaskan, bahwa keputusan ini merupakan jalan yang terbaik bagi masyarakat. Jika seandainya keluarga Ponari memang ingin membuka praktik lagi, lanjut Wabup, Muspida akan mengajak mereka berdialog. Artinya, Muspida tidak ingin bertindak semena-mena. Dengan memberi pengertian kepada keluarga dan orang-orang di sekitar Ponari, diharapkan mereka dapat menerima keputusan ini. ”Rencananya besok (hari ini, Red), mereka akan kami ajak berdialog,” ujar Wabup.

Menanggapi keputusan tegas Muspida, tokoh agama, dan kedokteran ini, pengacara Ponari, Achmad Rifai tetap ngotot. Dikonfirmasi seusai rapat Muspida, Rifai menyatakan tetap akan membuka tempat praktik itu. Karena menurutnya, keluarga Ponari tetap memiliki hak untuk buka praktik.

Begitu pula dengan Ponari sendiri. Bahkan Ponari sendiri mengancam mogok sekolah, jika tetap tidak diizinkan praktik. ”Kami tetap pada keputusan kami, untuk segera membuka kembali tempat praktik pengobatan ini,” ujar Rifai saat dihubungi via ponselnya kemarin petang. (doy/yr) (Radar Mojokerto)

Ponari Tak Boleh Praktik Lagi

[ Jum’at, 13 Maret 2009 ]

JOMBANG – Usaha pengacara Ponari, si dukun cilik asal Jombang, untuk membuka lagi praktik pengobatan membentur tebok tebal. Dalam rapat koordinasi antara muspida, tokoh agama, dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) di Pendapa Kabupaten Jombang kemarin (12/3), praktik dukun cilik di Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, itu disepakati untuk dilarang dibuka lagi.

Sebab, selain dianggap memanfaatkan Ponari, praktik pengobatan tak lazim tersebut dapat memicu kerawanan sosial. Padahal, Achmad Rifai, pengacara Ponari, sudah percaya diri bisa membuka lagi tempat praktik itu. Dengan adanya kesepakatan tersebut, untuk sementara Ponari tetap bisa menikmati masa kanak-kanaknya dengan bebas.

Rapat yang berlangsung tertutup itu, antara lain, dihadiri wakil bupati Jombang, Kapolres, Kajari, dandim, ketua MUI, ketua FKUB, dan ketua IDI. Setelah kurang lebih dua jam berdiskusi, kesepakatan yang sudah diambil pada hari pertama bertugas Kapolres Jombang yang baru itu tetap bulat. Artinya, orang-orang di balik Ponari harus menahan keinginannya untuk membuka praktik pengobatan tersebut.

Wakil Bupati Jombang Widjono Soeparno menegaskan, pihaknya tetap konsisten pada keputusan awal, yakni menutup praktik Ponari. Keputusan itu diambil dengan berbagai pertimbangan yang matang. “Kami sudah sepakat untuk tetap konsisten pada keputusan awal,” tegas Widjono.

Dukungan ditandaskan Ketua MUI Jombang KH Cholil Dahlan. Pengasuh Ponpes Darul Ulum, Peterongan, Jombang, tersebut mengatakan, dikaji dari berbagai aspek, mudarat (akibat buruk) praktik Ponari tetap lebih banyak daripada manfaatnya. Mudarat yang dimaksud meliputi faktor keamanan dan faktor sosial. (doy/jpnn/zen) (Radar Mojokerto)

Tanggapan dari tokoh kelahiran Jombang pun menilai bahwa praktik dukun cilik Ponari itu kemusyrikan. Berikut ini beritanya:

Gus Dur: “Mempercayai Batu Itu Musyrik”

Jombang adalah kotanya para kyai. KH Abdurrahman Wahid, yang biasa disapa Gus Dur, adalah kyai yang lahir dan berasal dari Jombang. Di Jombang pula berdiri beberapa pesantren dan menjadi basis NU (Nahdlatul Ulama).

Merebaknya kisah Ponari, tentu menghentakkan masyarakat yang selama ini mengetahui Jombang sebagai kota kyai dan santri.

Bagaimana tanggapan Gus Dur atas fenomena batu Ponari?

Ketika dimintai komentar mengenai dukun cilik Ponari dari Jombang yang mempunyai batu ajaib, Gus Dur mengatakan, dari sudut psikologi, hal itu hanya merupakan pelarian dari kesusahan yang dialami masyarakat.

“Hal itu jangan dipercaya, menurut agama musyrik. Lagi pula itu hanya untuk persambungan pendapatan keluarga saja,” katanya ketika ditemui Info Kecantikan di Radio Utan Kayu 68H Jakarta.

Menurut Presiden RI ke-4 ini, fenomena Ponari tersebut membingungkan masyarakat. Dan lagi-lagi Gus Dur menegaskan, mempercayai batu milik dukun cilik itu adalah musyrik.

“Lagi pula kok ada-ada saja, itu hanya godaan yang ada di dunia,” papar Gus Dur yang juga dilahirkan di Jombang.

“Ponari itu sama saja dengan ramalan dan kepercayaan lainnya. Jika memang sembuh itu hanya kebetulan saja,” tambah Gus Dur.

Berbondong-bondongnya orang yang berobat ke Ponari, menurut Gus Dur, terjadi karena Departemen Kesehatan tidak dapat mengantisipasi pengobatan yang baik bagi masyarakat.

Untuk itu, kita harus mendekatkan diri kepada Allah SWT, memang di dunia ini sudah banyak kejadian yang menyesatkan manusia,” paparnya. (Fariana). Sumber: Info Kecantikan, Edisi 13, Th III, 09-22 Maret 2009, halaman 34).

Apa itu musyrik?

Musyrik adalah orang yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu selain-Nya, baik dalam keyakinan, ucapan, atau perbuatannya. Jamaknya musyrikun (orang-orang yang mempersekutukan Allah). Sedang perbuatannya disebut syirik, menyekutukan Allah.

Orang musyrik, yang sampai matinya belum bertaubat dengan taubatan nashuha (taubat yang sebenar-benarnya), maka haram masuk surga.

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ اْلجّنَّةُ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِيْنَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al-Maaidah: 72). (haji).