Ramai dalam berita, Acara Pengajian Sunnah dengan tema “Manajemen Rumah Tangga Islam” dengan pembicara Ustadz Khalid Basalamah di masjid Sholahuddin Gedangan Sidoarjo Jawa Timur dibubarkan paksa oleh sekelompok massa yang mengatasnamakan ormas tertentu (Banser NU), Sabtu (4/3/2017).

Kesaksian Seorang yang Hadir di Pengajian Ust Khalid Basalamah di Sidoarjo Jawa Timur yang Dibubarkan Paksa oleh Banser NU

Matahari mulai beranjak, panas mulai menyengat. Namun semangat mencari Ilmu sangat kentara di wajah2 mereka. Juga yg tua dgn jenggot2 yg mulai memutih pun santun.

Acara mulai berjalan 20 menit. Ada puluhan orang berseragam ala tentara tentaraan dan seragam jaket hijau.

Perasaan saya mulai khawatir. Sepertinya mereka, punya niat jahat.

Saya lihat wajahnya, tidak memancarkan bekas wudhu. Bahasanya kasar. Tiada santun pada ibu2 dan wanita.

Sampai istri saya hampir menangis, karena mereka teriak2 di depan ibu2.

Na’uzubillah min zalik. Apakah mereka tidak pernah belajar adab.

Semakin lama mereka mereka semakin merangsek ingin masuk masjid.

Saat mereka mulai merangsek maju, sebagian anak muda dengan jenggot2 tipis dan berjubah, meneriakkan Takbir.

Maka Takbir pun mulai bersahutan, pertanda Siap untuk Jihad.

Saya juga dlm hati sudah Niatkan Lillahi Ta‘alaa. Darah muda mulai mendidih.

Secara perhitungan, kami lebih banyak, dan maaf, secara fisik kami lebih Sigap dan lebih sehat dibanding mereka.

Namun, dgn bijaksana Ust. KHALID mengingatkan, agar tidak terpancing emosi. Beliau mengingatkan tujuan utama adalah Tholabul ‘Ilmi

Akhirnya massa yg sudah siap formasi tempur (terhadap perusuh di masjid itu, red), mengalah mundur./ Se Athoillah.

Lecehkan kesucian masjid

Mereka berteriak-teriak di depan masjid dan kemudian berupaya keras masuk di masjid. Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang gaduh di masjid, bahkan melarang baca Qur’an keras-keras ketika di masjid itu ada yang shalat. Karena akan mengganggu. Lha ini malah teriak-teriak, membuat gaduh di masjid, padahal pengajian sedang berlangsung.

Coba kita bandingkan, ketika Umar –radhiyallahu anhu– melihat ada dua orang yang ribut di dalam Masjid Nabawi, maka beliau memarahi mereka.

As-Saa’ib bin Yazid –rahimahullah– menceritakan bahwa Umar bin Khoththob memerintahkannya untuk mendatangkan dua orang yang ada di masjid. Umar berkata kepada keduanya, “Siapa kalian, dan kalian berdua dari mana?” Keduanya menjawab, “Dari Tho’if”. Kemudian beliau berkata,

لَوْ كُنْتُمَا مِنْ أَهْلِ الْبَلَدِ لَأَوْجَعْتُكُمَا تَرْفَعَانِ أَصْوَاتَكُمَا فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Andaikan engkau berdua termasuk penduduk Madinah, maka aku akan menginjak kalian. Engkau berdua telah mengangkat suara di Masjid Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 470)]

Kemarahan Umar itu karena mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melarang orang-orang yang baca Qurannya keras-keras di masjid karena mengganggu yang lain sedang shalat.

Al-Bayadhiy –radhiyallahu anhu– berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى النَّاسِ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَقَدْ عَلَتْ أَصْوَاتُهُمْ بِالْقِرَاءَةِ فَقَالَ إِنَّ الْمُصَلِّي يُنَاجِي رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَلْيَنْظُرْ مَا يُنَاجِيهِ وَلَا يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ بِالْقُرْآنِ

“Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah keluar menemui manusia, sedang mereka melaksanakan sholat, dan sungguh suara mereka tinggi dalam membaca Al-Qur’an. Lantaran itu, beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang sholat sedang bermunajat dengan Robb-nya -Azza wa Jalla-. Karenanya, perhatikanlah sesuatu yang ia munajatkan, dan janganlah sebagian orang diantara kalian mengeraskan suaranya atas yang lain dalam membaca Al-Qur’an”. [HR. Malik, dan Ahmad. Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (no. 856)]

Ketika Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– merapatkan dan meluruskan shaff, maka beliau mengingatkan kepada para sahabat agar ketika mulai mengatur shaff masing-masing, janganlah berbuat gaduh dan ribut, seperti kondisi pasar!! Tapi setiap orang tenang dan tidak ribut sehingga khusyu’ dan ketenangan bisa tercipta dari awal hingga akhir sholat. Beliau bersabda,

وَإِيَّاكُمْ وَهَيْشَاتِ الْأَسْوَاقِ

“Waspadalah kalian dari kegaduhan (seperti yang terjadi) di pasar”. [HR. Muslim (no. 973)]

Gaduh yang dimaksud adalah mengangkat suara, hiruk-pikuk, pertengkaran, canda, dan perbuatan yang sia-sia. [Lihat Syarh Shohih Muslim (4/376)] (lihat Buletin Jum’at At-Tauhid, almakassari.com/ribut-di-masjid).

Menyadari perbuatan gaduh bahkan berteriak-teriak di masjid yang jelas-jelas sangat bertentangan dengan kemuliaan Masjid, dan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta khulafaaur rasyidin radhiyallahu ‘anhum, maka Banser NU itu sangat perlu diajari adab secara Islam. Dan itu tanggung jawab para ulama, kyai, da’i dan tokoh (dalam hal ini tentunya Ormas NU, karena Banser itu adalah anak NU). Agar mereka cara beragamanya tidak terbalik-balik. Acara kekafiran kemusyrikan (natalan dan sebagainya) yang menurut Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu adalah tempat turunnya murka Allah, malah biasanya sebagai tempat “pengabdian” Banser NU. Sedangkan Masjid yang untuk mempelajari ayat-ayat Al-Qur’an dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam malah dikacau oleh Banser NU, bahkan dibubarkan paksa. Itu akhlak macam apa?

Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)