Ulil Bernafsu Jadi Ketua NU

(Bila NU Salah Pilih Pemimpin)

Muktamar Nahdlatul Ulama ke-32 akan berlangsung pada 25-31 Januari 2010 di Makassar. Ulil diusung Tempo.

ulil-bernafsu-jadi-ketua-nu Foto perspektifbaru.com

Ulil Abshar Abdalla

Kini Ulil, dulu Abdurrahman Wahid. Konon, keduanya ada pertalian kekerabatan, seperti paman dan kemenakan. Majalah TEMPO pada masa itu (1970-1980), amat sangat bersemangat mempromosikan Abdurrahman Wahid ke pelataran nasional. Dan berhasil. Goenawan Mohamad dan kawan-kawan berhasil mencetak tokoh nasional kontroversial yang dijuluki cendekiawan muslim penarik lokomotif pembaharuan pemikiran Islam.

Saking berhasilnya, Abdurrahman Wahid tanpa harus berkeringat sama sekali, bisa menduduki kursi RI-1. Sayangnya keberhasilan itu justru antiklimaks. Abdurrahman Wahid justru banyak ditelanjangi, soal perselingkuhannya dengan wanita dan sebagainya. Apalagi terbukti, ketika ia menjabat posisi RI-1, dugaan kasus korupsi yang dilakukan orang-orang di sekitarnya membubung tinggi tanpa bisa ditutup-tutupi lagi. Abdurrahman yang semula dijuluki tokoh demokrasi, justru terlihat tidak demokratis ketika menjabat sebagai RI-1, dengan gayanya yang suka pecat sana-sini.

Sebelum berhasil menduduki kursi RI-1, Abdurrahman Wahid telah berhasil menduduki kursi sebagai Ketua Lajnah Tanfidziyah (Ketua Umum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), di tahun 1984, pasca tragedi Tanjung Priok (dibantainya sejumlah Muslimin). Kini, pamor Gus Dur sudah jauh melorot. Dan, Cak Nur (Nurcholish Madjid) yang juga diorbitkan oleh Tempo bersama-sama Gus Dur telah meninggal dunia. Sementara itu, tokoh-tokoh lainnya selain sudah sangat berumur juga tidak layak untuk didongkrak setinggi-tingginya.

Tampaknya, pilihan Tempo jatuh kepada Ulil yang masih muda dan punya darah biru di NU. Apalagi, kemampuan Ulil meluncurkan topik-topik kontroversial (soal Islam) jauh lebih ‘berbobot’ dibandingkan sang paman. Terlebih lagi, Ulil mendapat dukungan luas dari kalangan muda intelektual termasuk pemuda kiri, agnostik, bahkan atheis. Singkatnya, Ulil telah menjadi icon bagi sejumput kalangan.

Namun sesungguhnya, siapa peduli Ulil? Dia mau balik ke Indonesia –dari “larinya” ke Amerika setelah mengatakan bahwa fatwa MUI 2005 tentang Ahmadiyah itu konyol dan tolol– atau tidak, dia mau mencalonkan diri jadi Ketua NU atau tidak, siapa peduli? Justru di sinilah letak persoalannya. Ketidak pedulian masyarakat luas (terutama kalangan Islam khususnya konstituen NU) terhadap Ulil, justru harus dibangkitkan. Dan seperti biasa, komunitas Tempo dan komunitas Utan Kayu yang punya speaker banyak itu, meledak-ledakkan soal Ulil. Tujuannya jelas, supaya keberadaan Ulil tetap bersemayam di benak sebagian orang, terutama konstituen yang menjadi target sasaran propagandis sepilis (sekulerisme, pluralisme agama –kemusyrikan baru–, dan liberalisme).

Memang, keberadaan Ulil juga akan disegarkan melalui propaganda tadi. Namun sepak terjang Ulil yang selama ini bikin jengkel orang, juga kembali disegarkan. Di tahun 2002, Ulil pernah mengatakan bahwa semua agama sama, semua agama menuju jalan kebenaran. Jadi, Islam bukan yang paling benar. (GATRA, 21 Desember 2002).

Kalau yang mengatakan hal itu bukan Ulil, katakanlah si fulan, pastilah tidak akan diteruskan media massa. Tapi karena Ulil memang telah menjadi semacam ‘alat’ bagi semacam ‘kepentingan’ maka apapun yang disebutkannya, dianggap layak untuk disebarluaskan, meski terkesan ngawur dan asma (asal mangap).

Kalau Ulil pernah menjadi penganut agama A kemudian pindah menjadi penganut agama B dan seterusnya hingga Z, nah berdasarkan pengalamannya itu ia kemudian mengatakan bahwa semua agama sama karena semua agama menuju jalan kebenaran, maka pernyataan itu masih bisa dimengerti meski sama sekali tidak bisa dibenarkan. Lha, selama ini Ulil hanya menganut satu agama. Kalau semua agama sama dan sama-sama menuju jalan kebenaran, mengapa Ulil tidak menjadi penganut multi agama saja?

Bagi umat Kristiani jalan menuju kebenaran adalah mengikuti jalan tuhan Yesus. Bagi umat Islam, Yesus alias Isa bin Maryam sama sekali bukan Tuhan. Mempertuhankan Yesus berarti musyrik, dosa paling besar. Oleh karena itu, jalan menuju kebenaran menurut Islam bertolak belakang dengan jalan kebenaran menurut umat Kristiani. Bahkan sekte Saksi Yehovah, salah satu sekte Kristen, tidak mempertuhankan Yesus yang dianggapnya ‘hanya’sebagai nabi pembawa risalah semata. Bagi orang Hindu, jalan menuju kebenaran adalah empat yoga. Yaitu Karma Yoga, Jnana Yoga, Bhakti Yoga, dan Raja Yoga. Kesemuanya itu hanya ada dalam agama Hindu. Tidak ada dalam agama lain. Dan itulah yang paling benar menurut orang Hindu. Inilah bukti salahnya perkataan Ulil tersebut di atas.

Masih di tahun 2002, Ulil pernah mengatakan:

“…Dalam pandangan saya, apa yang sering kita pahami sebagai politeisme, panteisme, monoteisme, dan deisme adalah cara-cara saja yang dipakai oleh manusia untuk mendekati Tuhan. Bahkan kalau mengikuti gagasan Karen Armstrong (dalam buku History of God), ateisme pun sesungguhnya adalah pendekatan tertentu atas teisme. Karena semuanya itu sekedar pendekatan, maka sesungguhnya tidak ada perbedaan yang prinsipil apapun dalam esensi mengenai ‘Tuhan’ itu sendiri. Dengan kata-kata yang sedikit provokatif, ‘keesaan’ Tuhan tidak akan terganggu sedikit pun, baik didekati dari sudut pandang politeistis, panteistis, monoteistik, atau deistis (bahkan secara ateistis). Kata ‘keesaan’ sengaja saya taruh dalam tanda kutip karena saya tahu bahwa ‘esa’ adalah salah satu cara saja untuk mengatakan tentang Tuhan. Ada cara-cara lain untuk mengatakannya. Karena saya yakin bahwa Tuhan adalah wujud yang tidak bisa diringkus dalam rumus, maka segala ‘ucapan’ kita mengenai-Nya adalah bersifat relatif; dalam bahasa Qur’an, ‘Subhanallahi ‘amma yashifun,’ Maha Suci Allah dari apa-apa yang dikatakan oleh manusia mengenai diri-Nya.”

Pernyataan Ulil di atas dengan jelas menunjukkan bahwa Ulil sudah mengingkari Al-Qur’an, setidaknya surat al-Ikhlaas. Bagi Ulil, sikap mengesakan tuhan hanyalah salah satu cara (manusia) untuk mengatakan tentang (keberadaan) tuhannya. Di situlah Ulil ingkar, karena dalam Islam, keesaan tuhan bukan cara manusia menyikapi tuhannya. Tetapi, keesaan-Nya merupakan pernyataan diri-Nya kepada manusia. (Qul huwallohu ahad; katakanlah, Dia Allah itu satu).

Di tahun 2004, Ulil pernah mengatakan bahwa semua kitab suci itu mukjizat (Jawa Pos, 11 Januari 2004). Dalam pengertian Islam, mukjizat hanya diberikan oleh Allah SWT kepada para nabi dan rasul-Nya. Bagi orang Kristiani, seseorang yang sakit parah, dan dokter sudah angkat tangan, namun berhasil sembuh, itu merupakan suatu mukjizat. Jadi, bagi orang Kristiani, mukjizat itu bisa terjadi kapan saja dan kepada siapa saja. Sedangkan bagi umat Islam, karena keberadaan nabi dan rasul sudah ditutup dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW, maka mukjizat pun sudah tidak diberikan kepada siapa-siapa lagi. Adanya pemaknaan dan peruntukan mukjizat yang berbeda-beda satu sama lain, sudah cukup untuk membuktikan bahwa pernyataan Ulil tersebut di atas itu ngawur dan tergolong asma (asal mangap).

Pada Agustus 2005, Ulil menilai argumen MUI mengeluarkan fatwa –yang salah satunya mengharamkan aliran Ahmadiyah– sebagai hal yang sangat konyol, tidak masuk akal, dan tolol. Ketika itu, MUI dipimpin oleh Sahal Mahfudz, tokoh NU yang pernah membela Ulil pada Munas Ulama NU di Jatim. (Ketika itu, sekitar tahun 2003, ulama dan komunitas NU mempersoalkan segala sepak terjang Ulil, karena banyak pernyataan Ulil yang melecehkan Islam. Saat itu, Sahal Mahfudz melakukan pembelaan, dengan mengajukan alasan, karena Ulil bukan pengurus struktural NU maka ia tidak perlu diapa-apakan. Akhirnya Ulil pun selamat.) Meski akhirnya Ulil mencabut pernyataannya bahwa argumen yang melandasi fatwa MUI sebagai konyol, tidak masuk akal dan konyol, namun akhlak Ulil bisa kita lihat dari pernyataan spontannya tadi, yaitu menganggap fatwa kumpulan ulama Indonesia di MUI itu konyol dan tolol.

Kalau Ulil bisa menerima argumen komunitas sesat Ahmadiyah soal kenabian MGA (Ghulam Ahmad), maka sebagai orang liberal, Ulil seharusnya bisa menerima argumen MUI yang memfatwakan sesatnya Ahmadiyah. Kalau Ulil bisa menerima kekafiran berfikir dan kekafiran akidah orang-orang kafir, maka ia seharusnya bisa menerima hal sebaliknya. Namun tampaknya Ulil hanya bisa menerima yang sesat-sesat dan yang kafir-kafir saja. Pemahaman Islam yang lurus justru dikilahi macam-macam.

Ibarat Pesulap

Ibarat pesulap, atraksi Ulil sangat memukau orang awam. Bahkan orang awam tadi mau saja disuruh keluar uang dalam jumlah besar untuk menyaksikan sang pesulap ‘membodohi’ dirinya namun dengan kemasan yang menghibur. Hanya saja bagi yang sudah tahu trik sang pesulap, atraksi yang menghibur dan mencengangkan tadi sama sekali tidak menarik. Masalahnya, masyarakat kita kebanyakan mudah tertarik dengan atraksi ‘sulap’ model Ulil. Mereka tidak hanya terhibur dan terkagum-kagum, tetapi juga menjadikannya sebagai reality.

Yang harus diseriusi oleh para juru dakwah kita, adalah mencerdaskan umat dari ‘kebodohan’ menerima ‘atraksi sulap’ model Ulil sebagai kebenaran. Pekerjaan ini sangat berat, karena orang awam (agama) yang tertarik dengan ‘atraksi sulap’ model Ulil ini bukan orang sembarangan. Di antara mereka ada intelektual, orang berduit, atau orang-orang yang selama ini dikenal sebagai pegiat (LSM), bahkan orang berstatus sosial tinggi.

Orang awam lainnya, yang jumlahnya lebih banyak dari yang di atas tadi, sebenarnya tidak peduli dan tidak perhatian dengan Ulil. Bahkan Ulil mau jadi Ketua NU sekalipun, mereka tidak peduli. Mereka juga tidak tertarik dengan ‘atraksi sulap’ model Ulil dan kawan-kawannya. Namun di antara mereka, ada yang punya semangat memerangi upaya pembodohan yang dilakukan oleh ‘tukang sulap’ model Ulil ini. Soalnya, dari ‘atraksi sulap’ model Ulil ini, yang untung hanya si tukang sulap dan komplotannya, sedangkan sang penonton yang harus keluar biaya, hanya mendapatkan kenikmatan sesaat. Kelak bila mereka sadar, mereka akan tersedu-sedu dan kecewa karena berhasil dibodohi oleh ‘atraksi sulap’ model Ulil ini.

Bila NU salah pilih pemimpin

Komunitas NU, dan sebagian besar ulama yang berada di ormas tersebut, rasanya tak akan membiarkan ormas NU dikelola oleh pemain ketoprak, ludruk, ledhek atau pesulap macam Ulil. Meski Ulil dipromosikan secara gencar oleh Tempo dan seluruh elemen Utan Kayu, insya Allah ulama NU dan para cendekiawan Islam di NU yang masih punya nalar genap tidak akan pernah menjadikan tukang sulap apalagi ledhek sebagai imam mereka. Tetapi kalau sudah dibilangi masih tetap nekad ya sudah.

Kami yang bukan NU biar sekalian tahu bahwa orang NU ya memang seperti itu. Sehingga orang NU mau pilih Ulil atau bahkan yang lebih miring lagi, kita tidak heran lagi. Karena orang-orang NU terbukti justru berlama-lama pilih diimami oleh Gus Dur. Padahal Kyai terkemuka NU, KH As’ad Syamsul Arifin dari Situbondo mengatakan, Gus Dur itu ibarat imam yang sudah kentut. Maka Kyai Sepuh (As’ad Syamsul Arifin) itu mufaraqah (memisahkan diri) dari kepemimpinan Gus Dur. Tetapi orang NU tenang-tenang saja, tetap makmum ke Gus Dur, bahkan ada tokoh yang menganggap apa pun kata Gus Dur adalah benar belaka. Sikap itu jelas kultus plus membabi buta. (Lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Bila Kyai Dipertuhankan, Membedah Sikap Beragama NU, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta).

Lha sekarang kalau orang NU mau pilih Ulil ya boleh jadi juga. Sekali lagi kami yang bukan NU biar sekalian faham bahwa NU memang seperti itu!

Seperti itu bagaimana?

Yaitu, Ahmadiyah yang jelas-jelas punya nabi palsu tersendiri (Mirza Ghulam Ahmad 1835-1908M), kitab suci palsu tersendiri (Tadzkirah, kumpulan wahyu muqoddas/ suci), dan tempat suci palsu tersendiri (Qadyan, Rabwah, dan Masjidil Aqsho didirikan di Qadyan) pun ramai-ramai dibela oleh kelompok Ulil. Nah, kalau kemudian Ulil dipilih jadi pemimpin NU, berarti para Ulama dan Ummat Islam sedunia ini tinggal berhadapan dengan NU yang telah jelas-jelasan mengangkat pembela agama nabi palsu sebagai pemimpin.

Sebagaimana pula kalau NU memilih Said Agil Siradj yang membela aliran sesat Syi’ah plus pernah dikabarkan blusak-blusuk ke gereja. Dan sebagaimana pula kalau NU memilih Masdar Farid Mas’udi yang mengobarkan pendapat sesatnya yang ingin mengubah syari’at waktu ibadah haji dan pendapat sangat anehnya, menyejajarkan pajak dengan zakat.

Demikian pula kalau NU memilih mertua Ulil yakni A Mustofa Bisri, lebih jelas lagi kiprahnya. Orang dari Rembang ini juga gigih:

n membela Ahmadiyah pengikut nabi palsu,

n mendukung sepilis (sekulerisme, pluralisme agama alias menyamakan semua agama alias kemusyrikan baru, dan liberalisme),

n mengecam MUI yang memfatwakan haramnya faham sepilis,

n membela goyang ngebor Inul dengan membuat lukisan Dzikir Bersama Inul,

n dan masih pula menghalalkan punya gagasan akan menzinahi bintang film. (Lihat Buku Kyai Kok Bergelimang Kemusyrikan, Pustaka Nahi Munkar, 2008). (haji/tede/ nahimunkar.com)