Ulil dan Shalat Jum’at

 

Harus diakui, Ulil Abshar-Abdalla memang sosok yang cerdas. Menantu A Mustofa Bisri yang lahir 11 Januari 1967 ini, ‘kecerdasannya’ bisa dilihat dari tulisan-tulisannya, antara lain sebagaimana dipublikasikan di situs pribadinya di http://ulil.net.

Salah satu tulisan Ulil yang dipublikasikan di situs pribadinya itu berjudul Beberapa Pengalaman Salat Jumat di Jakarta (23 Agustus 2008). Melalui tulisannya itu antara lain Ulil mengatakan, bahwa ia selalu datang menjelang shalat dimulai, dengan maksud agar tak tersiksa mendengarkan khotbah yang menurutnya membosankan.

Meski cerdas ternyata kecerdasan Ulil itu tidak bisa memahami apalagi menerima ‘ketidakcerdasan’ orang lain yang berada pada posisi khatib. Ia sepertinya hanya ingin menikmati khotbah yang sesuai dengan selera ‘kecerdasannya’ semata. Sehingga bila ia berada dalam forum Shalat Jum’at –yang mestinya adalah harus mendengarkan khotbah– namun bila khatib dan isi khotbahnya tidak sesuai dengan selera ‘kecerdasan’ Ulil, maka ia pun tak sungkan-sungkan meninggalkan masjid tempat Jum’atannya itu, pulang ke kantornya lagi, tidak jadi berjum’atan, dan menggantinya dengan shalat dzuhur di kantornya.

Kombinasi antara ‘kecerdasan’ dan keliberalan Ulil boleh jadi telah mendasari keberaniannya membuat aturan sendiri dalam hal shalat Jum’at. Pertama, ia selalu datang menjelang shalat dimulai, berarti tidak mengikuti khotbah. Kedua, ia tak sungkan mengurungkan shalat Jum’at tanpa alasan yang syar’i yaitu hanya karena khatib dan isi khotbahnya kurang berkenan di hatinya, maka dia langsung berdiri dan walk out dari tempat duduknya di barisan orang berjum’atan, pulang alias bolos. Jum’atan kok bolos he! Bahkan sama sekali meninggalkan shalat Jum’at (sengaja –?– tidak hadir) pernah dilakukan Ulil, hanya karena ia seminar, membahas tentang Tuhan dari jam 10 hingga 13, bersama-sama kaum kafirin, sebagaimana diberitakan MBM (Majalah Berita Mingguan) GATRA edisi 26 Februari 2005.

Itu semua sebenarnya telah menyelisihi adab-adab Jum’atan yang diatur oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, bahkan memberi contoh buruk yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena justru diperintahkannya adalah untuk bersegera Jum’atan, dan ada pahala besar bagi yang datang awal-awal. Bahkan ada ancaman bagi yang meninggalkan Jum’atan tanpa udzur syar’i.

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ(9)

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum`at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS Al-Jumu’ah: 9).

 

474 حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتِ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ * 

474 Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa mandi pada hari Jum’at seperti mandi hadas besar, kemudian berangkat ke masjid, maka seolah-olah dia mengorbankan seekor unta, dan siapa yang berangkat pada kesempatan kedua,  maka dia seolah-olah telah mengorbankan seekor lembu. Siapa yang berangkat pada kesempatan ketiga, maka seolah-olah dia telah mengorbankan seekor kambing kibas. Siapa yang berangkat pada kesempatan keempat, seolah-olah telah menyembelih seekor ayam, dan siapa yang  berangkat pada kesempatan kelima, seakan-akan dia memberikan sedekah sebutir telur. Apabila imam yaitu khatib telah keluar, Malaikat-malaikat pun hadir mendengar zikir/ nasihat khutbah. (Artinya: mereka tidak lagi mencatat siapa yang termasuk awal datang ke masjid). (Muttafaq ‘alaih).

Dalam hal meninggalkan Jum’at, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam:

{ لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمْ الْجُمُعَاتِ ، أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ، ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنْ الْغَافِلِينَ } .

رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Hendaklah kaum-kaum berhenti dari meninggalkan jum’at-jum’at, atau Allah akan menutup hati mereka sehingga mereka benar-benar menjadi orang-orang yang lalai. (HR Muslim nomor 856, dan An-Nasaai 3/ 88).

 

Orang lain saja yang agar memahami

Mengapa Ulil tidak bisa memahami dan menerima khotbah yang disampaikan dengan gaya yang –menurut Ulil– provokatif? Padahal, Ulil sendiri melalui tulisan-tulisannya sebagaimana dipublikasikan media massa seperti Kompas dan lain-lain termasuk tulisan-tulisannya di situs pribadinya, bergaya provokasi. Menurut pengakuannya sendiri, ia memang sengaja menurunkan tulisan yang provokatif, dengan alasan-alasan tertentu. Lalu mengapa ia tidak bisa menerima ‘provokasi’ yang dilakukan orang lain? Ini jelas tidak fair.

Suatu ketika, menurut tulisan Ulil sendiri, Ulil pernah shalat Jum’at di masjid yang lokasinya berada di luar kompleks perumahannya (di wilayah Bekasi, sebelah timur Jakarta?). Sebelum melanjutkan studi ke Boston (Amerika Serikat), Ulil tinggal di kompleks perumahan yang terletak di kawasan Jatikramat, Bekasi. Menurut Ulil, saat itu khatib shalat Jum’at dengan menggebu-gebu membahas tentang berbagai aliran-aliran sesat yang terkait dengan Islam, termasuk Islam Liberal. Selain membahas dan mengkritisi kesesatan Islam Liberal, sang khatib juga menyebut-nyebut nama Ulil berkali-kali, dengan perasaan ‘kebencian’ yang sama sekali tak tersembunyikan.”

Menurut Ulil pula, sang khatib tidak tahu bahwa si empunya nama (Ulil) yang disebut-sebutnya seraya mengkritisi kesesatan Islam Liberal itu, berada di antara jama’ah masjid tersebut, dan terus hadir hingga khotbah dan shalat Jum’at selesai.

Dari peristiwa itu seharusnya Ulil menyadari, bila dirinya dan konco-konconya bisa menyebarluaskan kesesatan dan ‘kebencian’ yang tak tersembunyikan kepada ummat Islam, maka orang lain pun bisa melakukan hal yang sama terhadap Ulil dan konco-konconya. Bila Ulil dan konco-konconya memanfaatkan media massa seperti Kompas, Jawa Pos, dan jaringan radio 68H, maka jangan heran bila orang lain pun melakukan hal yang sama dengan memanfaatkan media yang berbeda dengan Ulil dan konco-konconya. Kalau memang ngajak perang, jangan cengeng, jangan menuduh-nuduh ‘tidak cerdas’ dan ‘provokatif’ segala.

Bila Ulil dan konco-konconya (di antaranya yang sms ke Ulil, orang dari CSIS, mengenai khotbah yang tak nyaman pula bagi perasaan model liberal mereka) memendam keinginan untuk memprotes sang khatib yang dinilainya provokatif, maka tak perlu heran bila ada orang lain yang berseberangan pandangan dengan Ulil memendam keinginan serupa, bahkan memendam keinginan membunuh Ulil yang menurutnya secara syar’i layak dibunuh? Bukankah orang itu juga bebas mengekspresikan sikap keberagamaannya melalui bentuk-bentuk yang tidak terbayangkan oleh Ulil dan konco-konconya? Ulil sendiri pernah mengkhawatirkan masalah itu, dengan ungkapan, jangan-jangan menjadi bola liar yang akan melenting ke sana ke mari. Bahkan Dawam Rahardjo yang gigih membela berbagai aliran sesat terutama Ahmadiyah, pernah pula mengkhawatirkan Ulil, jangan-jangan model pembunuhan terhadap tokoh sekuler di Mesir, Farag Fauda tahun 1992, akan ditiru orang pula di Indonesia, dalam kasus tulisan Ulil di Kompas berjudul Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam (Koran Kompas 18 November 2002M/ Ramadhan 1423H).

Jika pada hari Jum’at Ulil sedang berada di kantor JIL, menurut tulisan Ulil sendiri, maka ia menunaikan shalat Jum’at di Masjid Al-Taqwa yang terletak tak jauh dari tempat komunitas Utan Kayu (termasuk JIL) berada. Masjid itu, menurut penilaian Ulil adalah sebuah Masjid tradisional khas Betawi, yang khatib-khatibnya tidak pernah berkhotbah dengan ‘menggebu-gebu’ atau ‘provokatif’. Dan Ulil merasa nyaman setiap kali menunaikan shalat Jum’at di Masjid itu, karena khatib selalu dan hanya membawakan pesan bertemakan kesalehan individual kepada jama’ahnya. Nah, kepada khatib seperti itu Ulil tidak menyebutnya dengan sebutan ‘kurang cerdas’. Seorang khatib dinilai ‘kurang cerdas’ oleh Ulil bila dalam khotbahnya membahas dan mengkritisi kesesatan Islam Liberal yang dijajakan Ulil.

 

Apa di balik tulisan itu

Pesan apa yang ingin disampaikan oleh Ulil melalui tulisannya berjudul Beberapa Pengalaman Salat Jumat di Jakarta itu?

Dapat  diduga sebagai berikut:

Pertama, ia ingin menginformasikan kepada kita, bahwa seorang Ulil Abshar-Abdalla yang dikenal sebagai dedengkot JIL (Jaringan Islam Liberal) itu selalu berusaha menunaikan shalat Jum’at. Boleh jadi, gara-gara pemberitaan GATRA beberapa waktu lalu, tertanam kesan bahwa Ulil seolah-olah suka mengabaikan shalat Jum’at.

Kedua, Ulil sedang memberikan informasi yang menggugah dan humanistis kepada penyokong dananya selama ini, bahwa komunitas JIL belum punya Masjid sendiri yang khotibnya ‘cerdas’ dan materi khotbahnya menyejukkan. Melalui tulisannya itu, Ulil mengatakan, hingga sekarang, saya belum menemukan masjid yang isi-isi ceramahnya sesuai dengan pandangan Islam liberal yang saya anut, masjid yang ‘cerdas’ dan menyejukkan. Saya berpikir, mungkin suatu saat jamaah Islam liberal harus membuat masjid sendiri yang dapat menampung ceramah-ceramah dan khutbah yang cerdas dan menyejukkan.”

Bukan mustahil sebentar lagi di kawasan Utan Kayu, Jakarta, khususnya di tempat komunitas JIL berada, akan berdiri sebuah Masjid yang ‘cerdas’ dan menyejukkan versi Islam Liberal. Bukan hanya itu, boleh jadi, di Masjid itu kelak juga akan dilaksanakan pelatihan bagi khatib-khatib yang disiapkan menjadi misionaris gagasan sesat Islam Liberal, dengan mendapat dukungan dana dari The Asia Foundation dan sebagainya. Ini tersirat dari pernyataan Ulil sebagai berikut: “boleh jadi, memang diperlukan pendidikan dan ‘training’ yang lebih baik bagi para khatib. Memang ada kecenderungan di banyak negara-negara Islam di mana masjid menjadi ajang kaum Muslim konservatif atau fundamentalis untuk melancarkan ‘kampanye kebencian’ melawan tokoh atau pemikir Muslim yang mereka anggap ‘sesat’. Sebagian jamaah boleh jadi akan dengan mudah terpengaruh oleh provokasi semacam itu”.

Kalau dugaan ini benar, maka sesungguhnya Ulil sedang merancang sebuah ‘proyek’ yang menggiurkan tentunya. Ulil dengan ‘cerdas’ sudah melakukan semacam teaser-ad yang sejuk dan humanistis kepada calon penyandang dananya, sehingga kelak ia bisa punya Masjid sendiri, punya sejumlah kegiatan pelatihan yang berkelanjutan, sepulangnya dari Boston nanti.

 

Kenapa perlu masjid sendiri untuk komunitas liberal ini?

Di samping akan menjadikan tenangnya hati mereka lantaran tidak lagi mendengar khutbah-khutbah yang mengajak kepada aturan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, dari masjid mereka itu sekaligus dapat mendoktrinkan dan mengkomunikasikan serta mengkordinasikan penghalangannya terhadap aturan-aturan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Maka benarlah firman Allah Ta’ala:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا(61)

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (QS An-Nisaa’: 61).

 

Ungkapan Ulil: “Memang ada kecenderungan di banyak negara-negara Islam di mana masjid menjadi ajang kaum Muslim konservatif atau fundamentalis untuk melancarkan ‘kampanye kebencian’ melawan tokoh atau pemikir Muslim yang mereka anggap ‘sesat’. Sebagian jamaah boleh jadi akan dengan mudah terpengaruh oleh provokasi semacam itu” Itu adalah bentuk rintihan Ulil, bagaimanapun caranya, agar tidak mendekati masjid yang menyuruh manusia untuk tunduk kepada  hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul. Jadi, rintihan Ulil itu, nilainya adalah Menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu  seperti diingatkan dalam Al-Qur’an Surat An-Nisaa’ ayat 61 tersebut di atas.

Sekarang kira-kira kekuatannya baru tingkat nyadong dana, maka ditempuhlah jalan ke arah itu, dengan cara merintih. Dan itu dengan konsekuensi, kalau rintihannya itu kemudian dikabulkan, maka mereka akan melakukan pembantahan terhadap ayat-ayat Allah Ta’ala, sebagaimana yang selama ini telah diupayakan.

Semua yang ditempuh itu hanya akan menambah derita belaka, dan tidak akan sampai kepada apa yang diidam-idamkan. Karena Allah Ta’ala telah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي ءَايَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ(56)

Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS Ghafir/ 40: 56). 

 

وقوله: { إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ } أي: يدفعون الحق بالباطل، ويردون الحجج الصحيحة بالشبه الفاسدة بلا برهان ولا حجة من الله، { إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ }

تفسير ابن كثير – (ج 7 / ص 152)

أي: ما في صدورهم إلا كبر على اتباع الحق، واحتقار لمن جاءهم به، وليس ما يرومونه من إخمال الحق وإعلاء الباطل بحاصل لهم، بل الحق هو المرفوع، وقولهم وقصدهم هو الموضوع، { فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ } أي: من حال مثل هؤلاء، { إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ } أى من شر مثل هؤلاء المجادلين في آيات الله بغير سلطان. هذا تفسير ابن جرير.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam Tafsirnya, firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka, yaitu menolak kebenaran dengan kebatilan dan menolak hujjah-hujjah yang benar dengan syubhat-syubhat yang rusak tanpa alasan dan bukti dari Allah.

{ إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ }

tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, yaitu tidak ada di dalam dada mereka selain kesombongan (penolakan) untuk mengikuti kebenaran, serta menganggap rendah orang yang membawanya kepada mereka. Apa yang mereka lakukan tersebut dengan mematikan kebenaran dan meninggikan kebatilan pasti tidak akan membuahkan hasil untuk mereka. Karena kebenaran pasti akan tetap tinggi, sedangkan perkataan dan tujuan mereka akan kalah.

{ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ }

maka mintalah perlindungan kepada Allah , dari sikap seperti mereka.

{ إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ }

Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat, yaitu dari keburukan orang-orang yang berdebat tentang ayat-ayat Allah tanpa bukti. Ini adalah tafsiran Ibnu Jarir. (Tafsir Ibnu Katsir, juz 7 halaman 152).

 

Apa-apa yang telah diderita dalam hati berupa tidak nyamannya berjum’atan dan apa-apa yang akan diraih di masa mendatang tidak ada gambaran yang enak. Semuanya menyesakkan dada. Itulah di antara benarnya firman Allah Ta’ala:

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ(125)

125.  Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya[503], niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (QS Al-An’am: 125).

 

[503]  disesatkan Allah berarti: bahwa orang itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. dalam ayat ini, Karena mereka itu ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allah menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan, Maka mereka itu menjadi sesat.

 

Kalau dalam pernyataan Ulil adalah ungkapan bahwa tidak ada hukum Tuhan. “Menurut saya, tidak ada yang disebut hukum Tuhan dalam pengertian seperti dipahami kebanyakan orang Islam.  Misalnya hukum Tuhan tentang pencurian, jual-beli, pernikahan, pemerintahan, dan lain-lain,” tulis Ulil (Harian Kompas Jakarta, berjudul “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam” pada terbitan Senin 18 November 2002M/ 13 Ramadhan 1423H.).

“Ini penghinaan luar biasa pada Tuhan,” kata Athian Ali Dai dari FUUI (Forum Ulama Ummat Islam) Bandung, ketika melaporkan Ulil ke Mabes Polri atas tulisan Ulil itu, Syawal 1423H/ Desember 2002M.  (haji/tede)