ahlussunnah.info

Memang benar yang antum katakan bahwa di Indonesia tidak ada pengajian Kutubusittah yang seperti di LDII, 2 tahun lebih ana keluar dari LDII namun tidak menemukannya, namun keadaan itu apakah bisa menjadi jaminan atau sebagai ukuran/ tolok ukur kebenaran LDII?

Sebab seperti yang telah antum beserta konco2 antum ketahui dan pahami bahwa dalam menuntut ilmu agama itu harus musnad & mutashil, sehingga dengan dasar inilah kalian mewajibkan adanya sanad.

Sesungguhnya pemahaman ini (harus musnad muthasil) adalah pemahaman yang benar dan para ulama ahli hadits-pun meyakini hal ini, oleh sebab itulah muncul ilmu RIJALUL HADITS (Ilmu yang membahas kedudukan/ keadaan para perawi hadits/ nama2 yang tercantum dalam sanad)

Dengan ilmu RIJALUL HADITS para ulama meneliti satu per-satu orang/ pribadi yang namanya tercantum dalam sanad/ rawi hadits, sehingga dapat dikelompokkan adanya hadits dhoif, maudhu, hasan, shohih dll. yaitu dengan cara melihat keadaan perawinya apakah pendusta, penipu, pembohong, pelupa, baik, terpercaya, dll.

Kesimpulannya :

Apabila ada perawi/ guru/ mubaligh/ ulama yang ber-ahlak buruk (pembohong, penipu, pendusta, ahli maksiyat, ahli bid’ah) maka ilmu-nya tidak bisa dipakai/ tidak bisa diterima, mengenai hal ini ada ucapan ulama “AL ILMU MINADDIN, FANGDHURU MIMMAN TA’KHUDZU DINAKUM” (Ilmu itu termasuk agama, maka lihatlah dari mana engkau mengambil agama kalian).

PERTANYAANNYA :

TOLONG SEBUTKAN 10 ORANG SAJA DARI ULAMA 100 LDII KALIAN YANG TIDAK TERLIBAT PENIPUAN MARIYOSO…???

TOLONG SEBUTKAN 1 ORANG SAJA DARI ULAMA SEPUH LDII KALIAN YANG TIDAK TERLIBAT PENIPUAN MARIYOSO…???

Kalau 1 orang saja dari ulama kalian tidak ada yang selamat dari predikat PENIPU, lantas apa gunanya kalian mengambil ilmu hadits Kutubusittah dari mereka…?????

Padahal dari semua Ijazah/ Sanad Kutubusittah yang diberikan oleh pondok LDII kepada mubaleghnya tercantum nama2 para penipu2 itu, antara lain :

  1. (Gembong pengepul mariyoso ring 1)
  2. (Gembong pengepul mariyoso ring 1)
  3. (Gembong pengepul mariyoso ring 1)

APA GUNANYA KALIAN MENGAJI KUTUBUSITTAH JIKA ILMUNYA DIAMBIL DARI PARA PENIPU INI?????

Justeru salah satu ulama kalian yang dikenal sebagai orang baik, jujur dan hiduo sederhana serta tidak terlibat dengan Mariyoso yaitu Bapak MAULUDIN malah keluar dari LDII.

RENUNGKANLAH….
JANGANLAH KALIAN MENGAMBIL ILMU AGAMA DARI PARA PENIPU DAN PENDUSTA

Dari Abu Hasan

voa-islam.com
Catatan: tentang kasus bisnis Mariyoso yang diawaki oleh para penggede dan punggawa LDII, silakan baca buku HMC Shodiq, Akar Kesesatan LDII dan Penipuan Triliunan Rupiah, terbitan LPPI Jakarta, 2004.
Sedulurs… sedih melihat kenyataan orang2 yang tau kebenaran…tapi terus mencari-cari , mengutak-atik dalil, kasak-kusuk logika supaya dapet pembenaran…menuruti ro’yunya padahal ngakunya melarang ro’yu ( menggunakan akal pikiran untuk menerjemahkan hukum2 agama )

ngakunya mendakwahkan ke jamaahnya supaya mujhid muzhid tapi malah foya-foya , jalan jalan ketempat maksiat pula lagi !

mereka selalu menyerukan : ” jamaah supaya :

  • jujur
  • amanah
  • mujhid muzhid
  • rukun
  • kompak
  • kerjasama yang baik

tapi apa mereka sendiri melakukan apa yang mereka nasehatkan ?

kalo pake uang sendiri pun… ngapain ke pattaya yg jelas pusat maksiat di thailand ?

apalagi pake uang isrun persenan…

menari diatas penderitaan jamaahnya…

padahal kalo ditagih korban2 tipuan maryosonya , bilangnya : “sabar… ini cobaan… jamaah kita jamaah yang benar jadi ya pasti dicoba… “

kenapa gak pake uang nya buat bayar utang2nya kepada korban2 bisnis fiktif mereka ? 

apa gak menangis hati mereka… 
kalo tau.. jamaah dikelompok2nya bela2in sodaqoh infaq persenan / isrun (setoran wajib persepuluhan harta per bulan)…. ada yg jual koran, tukang becak, tukang ojek, jualan kecil2an, mereka menyisihkan dari rezeki mereka yang tidak seberapa…

eh malah dipake jalan2 ke Pusat Maksiat Di Thailand !

Semoga Allah mempercepat pertolongan buat jamaah ini… Ya Allah… Bersihkan jamaah ini dari para pengkhianat, para penjilat yang cuman pengen hidup enak dengan menipu umat , dan ulama yang tau kebenaran tapi berjiwa pengecut persis seperti ulamanya yahudi yang tidak amanah kepada kebenaran…..

Wassalaamu’alaikum
Tim Waspada354

As of 4/29 3:50am. Last new 4/14 4:40am.  Score: 1896

***

Sadarlah wahai sedulur-sedulur yang masih belum mampu menyadari bahwa agama telah dipermainkan untuk meraup duit lalu untuk ke tempat maksiat. Kalau sekarang di dunia ini mau sadar dan tidak lagi mempercayai mereka, maka insya   Allah selamat. Tetapi kalau kesadaran itu terlambat dan jasad telah tak bernyawa, maka gambaran di akherat untuk adanya sikap cuci tangan dari mereka sudah digambarkan dalam Al-Qur’an.

Maaf sebelumnya, perlu kita bertanya pada diri kita sendiri, siapakah yang paling berani mempermainkan agama dan bahkan demi kepentingan syahwatnya? Tentu jawabnya adalah Iblis atau syetan. Nah, orang yang mengikuti langkah syetan pun akan serupa. Di akherat pasti mereka mengelak dari tanggung jawabnya. Karena di dunia saja sudah jelas nyata tipuannya. Maka perkenankanlah kami kemukakan ayat ini sebagai peringatan:

كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلْإِنْسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ ( [الحشر/16]

فَكَانَ عَاقِبَتَهُمَا أَنَّهُمَا فِي النَّارِ خَالِدَيْنِ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ [الحشر/17]

  16. (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) shaitan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam.”

17. Maka adalah kesudahan keduanya, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zalim. (QS Al-Hasyr/ 59: 16-17).

Sama sekali di sini bukan memvonis mereka akan kekal di neraka, tetapi masalah tidak ada tanggung jawabnya itu sudah nyata, di dunia ini saja telah tampak jelas. Sedangkan yang dipermainkan adalah agama, itupun untuk kepentingan syahwatnya. Itulah yang sangat penting untuk disadari dan direnungkan kembali wahai sedulur-sedulur yang belum sadar-sadar juga. Sesal dahulu (di dunia ini dan kembali kepada kebenaran) adalah pendapatan (yang baik), sedang sesal kemudian (tanpa menyadari sebelumnya dan terlanjur mati) tiada berguna, kata pepatah.

Memangnya agama berdasarkan pepatah?

Bukan. Artinya, seharusnya masalah itu sudah difahami benar-benar, dari pada nantinya menyesal yang tak berkesudahan. Sudah di dunia tertipu, di akherat ditinggalkan begitu saja. Apa tidak rugi, wahai sedulur-sedulur?
(nahimunkar.com)