Wabah Kolusi ke Agama

(Bahan khutbah, ceramah, dan nasehat)

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ أَتَى رَجُلٌ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَصَابَنِى الْجَهْدُ فَأَرْسَلَ إِلَى نِسَائِهِ فَلَمْ يَجِدْ عِنْدَهُنَّ شَيْئًا ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « أَلاَ رَجُلٌ يُضَيِّفُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ يَرْحَمُهُ اللَّهُ » . فَقَامَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَقَالَ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ . فَذَهَبَ إِلَى أَهْلِهِ فَقَالَ لاِمْرَأَتِهِ ضَيْفُ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – لاَ تَدَّخِرِيهِ شَيْئًا . قَالَتْ وَاللَّهِ مَا عِنْدِى إِلاَّ قُوتُ الصِّبْيَةِ . قَالَ فَإِذَا أَرَادَ الصِّبْيَةُ الْعَشَاءَ فَنَوِّمِيهِمْ ، وَتَعَالَىْ فَأَطْفِئِى السِّرَاجَ وَنَطْوِى بُطُونَنَا اللَّيْلَةَ . فَفَعَلَتْ ثُمَّ غَدَا الرَّجُلُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « لَقَدْ عَجِبَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ – أَوْ ضَحِكَ – مِنْ فُلاَنٍ وَفُلاَنَةَ » . فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ( وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ) صحيح البخارى – (ج 16 / ص 229)

Seorang laki-laki telah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata, “Aku lapar.” Maka Rasulullah kepada isteri-isterinya menanyakan makanan, tapi tidak ada, beliau bersabda: “Apakah tidak ada seorang yang mau menerima orang ini sebagai tamu malam ini? Ketahuilah bahwa orang yang mau menerima laki-laki ini sebagai tamu (dan memberi makan) malam ini, akan diberi rahmat oleh Allah.”

Berkata Abu Thalhah seorang dari golongan Anshar: “Saya ya Rasulullah”. Maka ia pergi menemui isterinya dan berkata, “Hormatilah tamu Rasulullah”.

Isterinya menjawab: “Demi Allah, tidak ada makanan kecuali makanan untuk anak-anak”.

Suaminya berkata: “Apabila anak-anak hendak makan malam, tidurkanlah mereka, padamkanlah lampu biarlah kita menahan lapar pada malam ini, agar kita dapat menerima tamu Rasulullah.” Maka hal itu dilakukan isterinya.

Pagi-pagi besoknya Abu Thalhah menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan peristiwa malam itu dan beliau bersabda, “Allah Subhanahu wa Ta’ala benar-benar kagum malam itu terhadap perbuatan suami-isteri tersebut .” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi dan An-Nasaai dari Abu Hurairah) [1]

Peristiwa itu merupakan salah satu sebab turunnya ayat 9 Surat Al-Hasyr/59:

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [الحشر/9]

Artinya:

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) di atas diri mereka sendiri, sekaligus mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung   .” (QS Al-Hasyr: 9)

Diriwayatkan pula oleh Al-Wahidi dari Muharib bin Ditsar dari Ibnu Umar bahwa seorang sahabat Rasulullah dari golongan Anshar diberi kepala kambing. Timbul pikirannya, “mungkin orang lain lebih memerlukan dari aku.” Seketika itu juga kepala kambing itu dikirimkan kepada kawannya, tetapi oleh kawannya itu dikirim pula kepada kawannya yang lain, sehingga kepala kambing itu berpindah-pindah pada tujuh rumah dan akhirnya kembali ke rumah orang yang pertama.

Sebegitu besar kesetiaan para sahabat Nabi kepada sesamanya dalam ukhuwah Islamiyah yang benar-benar terjalin antara hati dengan hati. Hingga mereka mendahulukan kepentingan kawannya dibanding kepentingan diri sendiri, sekalipun dirinya sendiri butuh dan bahkan dalam keadaan sempit.

Dalam kondisi ukhuwah Islamiyah yang sangat bertenggang rasa itu tidak ada pula yang menggunakan kesempatan, mumpung orang lagi mau berbaik-baik pada orang lain. Tidak. Mereka yang  sangat membutuhkan pertolongan orang lain pun tidak merengek-rengek, hingga tidak nampak bahwa mereka itu butuh. Sikap itu pun dihargai oleh Allah, sehingga langsung Allah membela mereka dengan firman-Nya:

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ [البقرة/273]

Artinya:

“(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah. Mereka tidak dapat (berusaha) di bumi. Orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya, karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifat mereka. Mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui”. (Al Baqarah: 273).

Gejala Masa Kini dan jalan keluarnya

Betapa indahnya jalinan ukhuwah Islamiyah di kalangan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, contoh yang baik itu kini tidak tampak di masyarakat Muslim. Mereka yang berkecukupan saat ini berhadapan sikap dengan yang miskin. Yang kaya boleh jadi serakah dan kikir, sedang yang miskin boleh jadi tama’ dan loba. Hingga tak ketemu antara keduanya.

Pada gilirannya, yang ketemu bahkan ikan di laut luas, di sela-sela karang, bahkan di sela-sela kaki buaya tetap dikejar-kejar dan ditangkap, dimasukkan di aquarium dan dipajang di etalase, diberi makan dengan menu khusus. Itulah ikan Arwana yang ditangkap dari sela-sela perut buaya di laut luas sana. Namun, rintihan dan jeritan orang miskin yang lapar dan sakit-sakitan di seberang rumah, mungkin tak ketangkap oleh hati kita. Ada pula perkutut di pucuk pohon di hutan belantara. Ia dikejar, ditangkap dan dimasukkan ke kurungan emas di rumah gedung indah, dipiara dengan pelayanan khusus. Tapi anak-anak yatim yang terlantar di seberang jalan tak tertangkap oleh mata dan matahati kita. (Lebih buruk lagi, bahkan ada penguasa yang sengaja membubarkan lembaga yang mengurusi panti-panti anak-anak yatim. Akibatnya panti-panti asuhan terutama yang Islam tidak mendapatkan jatah dana lagi setiap bulannya. Akibatnya lagi, pihak Nasrani yang punya dana kuat dan kemungkinan besar mendapatkan dana internasional lebih berleluasa untuk “menjarah” anak-anak yatim untuk dinasranikan. Jadi, diam-diam pembubaran lembaga tersebut oleh seorang penguasa yang diduga pro Yahudi dan Nasrani itu merupakan program besar nasranisasi di Indonesia yang penduduknya 210 juta mayoritas Islam ini). Ketidak pedulian kita terhadap orang lemah juga ditunjukkan dengan memelihara anjing-anjing dari seberang negeri, sengaja didatangkan untuk “menghiasi” rumah. Dilayani dan dimanjakan dengan penuh perhatian. Tapi, janda tua renta di belakang rumah yang menjerit kelaparan dan dililit utang, tak tertangkap aduhannya.

Astaghafirullahal ‘Adhiem, binatang-binatang di laut, di hutan, dan di seberang negeri itu makin langka karena banyak ditangkap, dan otomatis kemudian harganya mahal, namun tetap dikejar. Sedang orang-orang terlantar, anak-anak yatim dan miskin itu makin banyak dan berserakan, namun mereka tidak “tertangkap” oleh hati nurani insani yang telah “mati”. Lebih buruk lagi, bahkan anak-anak yatim dan orang-orang lemah itu sengaja dibiarkan bahkan diprogramkan agar “dimangsa” oleh para pemurtad-pemurtad yang siap sedia setiap saat untuk memurtadkan Muslimin yang lemah-lemah ekonomi dan imannya. Wabah apa ini?

Penyakit hati tak punya iba semacam itu di dalam Al-Quran dikecam sebagai tingkah mendustakan addien (agama, hari pembalasan/ akherat). Namun kini penyakit itu justru bisa bergabung dengan penyakit menjual agama, menjual Muslimin sebagai “mangsa” pemurtadan. Terjadilah kolusi antara pendusta agama dengan penjual agama, satu bentuk kolusi yang benar-benar gawat. Bagaimana bisa terjadi? Mudah saja. Pintu-pintu yang mengarah kepada kekuatan Muslimin ditutup erat-erat, sedang pintu-pintu yang menjurus kepada lalu lalangnya para pemangsa Muslimin untuk dimurtadkan maka dibuka lebar-lebar.

Dari sisi lain, ada model yang unik pula. Misalnya, (sekadar ilustrasi) di saat-saat peringatan 1000 hari matinya tokoh (peringatan kematian itu sendiri sebenarnya suatu bid’ah, karena tidak diajarkan dalam Islam) seorang penjual agama berpidato, misalnya:

Saudara-saudara yang kami muliakan. Jasa almarhum Tuan Anu yang kita peringati 1000 harinya ini tidak banyak orang tahu. Padahal, jasa itu cukup menonjol dalam agama. Beliau telah memberi jaminan makan terhadap anjingnya selama 10 tahun dengan daging rata-rata 0,5 kg per hari. Padahal, sekali memberi minum anjing yang kehausan saja, seorang pelacur telah diampuni dosanya, gara-gara menyayangi anjing yang kehausan itu. Lantas, kalau diukur, berapa kali lipat nilai pahala almarhum ini yang telah 10 tahun menyayangi anjingnya dengan aneka pelayanan. Maka cukuplah jasanya terhadap anjing itu akan menghantarkannya ke surga.

(Gambaran pidato itu sekadar suatu analogi dengan adanya seorang ahli tafsir lulusan Mesir yang pernah berpidato dalam upacara peringatan 40 hari / atau entah 100 hari meninggalnya isteri seorang petinggi. Di antara isi pidatonya adalah memuji-muji jasa mendiang, memprakarsai pembangunan museum yang disebut Baitul Qur’an di Taman Mini Indonesia Indah. Sedemikian drastisnya pemujian itu hingga dikaitkan dengan surga, seakan yang berpidato itu memberikan katabelece untuk masuk surga. Pidato itupun disiarkan langsung oleh televisi saat itu. –Sementara itu di kampung penulis ada berita yang beredar, tukang memandikan mayat di kampung penulis yang memandikan mayat Nyonya itu dijanjikan untuk naik haji gratis, namun ditunggu-tunggu sampai kini tidak pernah janji itu terwujudkan–. Sebaliknya, ternyata profesor yang pidato itu kemudian diangkat menjadi  menteri agama, namun baru 70 hari menduduki kursi tahu-tahu bossnya yakni sang presiden dilengserkan/ diturunkan ramai-ramai oleh demonstran secara massal yang terdiri dari puluhan ribu mahasiswa selama berhari-hari, akhirnya turun dari jabatan presiden, sedang yang pidato tadipun otomatis habis masa lakunya sebagai menteri/ pembantu presiden 1998).

Penjual agama dan pendusta agama (bukan mayat yang diperingati itu, tetapi orang yang masih hidup) telah berkolusi, diumumkan di depan khalayak ramai. Seolah penjual agama memberikan katabelece kepada mayat keluarga pendusta agama untuk masuk surga. Padahal masalah surga dan diterimanya amal adalah masalah ghaib, hanya Allah sajalah yang tahu. Namun karena adanya pidato seorang profesor yang seperti itu, maka orang awam agama (walau mungkin intelek) pun manggut-manggut, tidak faham bahwa itu semua adalah kata-kata dan tingkah dusta. Atau paling kurang adalah melangkahi hak dan wewenang Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Coba kita bandingkan dengan peristiwa di masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

“Bahwa Utsman bin Madh’un radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat pilihan, ketika wafat, sedang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam hadir di sisinya dan mendengar seorang sahabat besar perempuan (shahabiyah)  Ummu Al-‘Ala’, berkata: “Kesaksianku atasmu Abu As-Saib (Utsman bin Madh’un), bahwa Allah sungguh telah memuliakanmu.” Maka Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam membantahnya dengan berkata:

« وَمَا يُدْرِيكِ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَكْرَمَهُ » ؟

“Wa maa yudriika annallooha qod akromahu?”

“Bagaimana kamu tahu bahwa Allah sungguh telah memuliakannya?”

Ini adalah peringatan yang besar dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat wanita ini karena dia telah menetapkan hukum dengan hukum yang menyangkut kegaiban. Ini tidak boleh, karena tidak ada yang menjangkau hal gaib kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tetapi Shahabiyyah (sahabat wanita) ini membalas dengan berkata:

“Subhanallah, ya Rasulallah! Siapa (lagi) kah yang akan Allah muliakan kalau Dia tidak memuliakannya?”

Artinya, jika Utsman bin Madh’un ra tidak termasuk orang yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka siapa lagi yang masih tersisa pada kita yang akan dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini jawaban yang sangat mengena dan signifikan/ cukup bermakna. Tetapi Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menolaknya dengan ucapan yang lebih mengena dari itu, di mana beliau bersabda:

وَاللَّهِ مَا أَدْرِى – وَأَنَا رَسُولُ اللَّهِ – مَا يُفْعَلُ بِى

“ Demi Allah, saya tidak tahu –dan saya adalah Rasul Allah–, (tetapi) saya tidak tahu apa yang akan Dia perbuat padaku.”

Ini adalah puncak perkara. Rasul sendiri yang dia itu orang yang dirahmati dan disalami oleh Allah, beliau wajib berhati-hati dan mengharap rahmat Allah. Dan di sinilah Ummu Al-‘Ala’ sampai pada hakekat syara’ yang besar, maka dia berkata:

فَوَاللَّهِ لاَ أُزَكِّى أَحَدًا بَعْدَهُ أَبَدًا

“Demi Allah, setelah ini saya tidak akan menganggap suci terhadap seorang pun selama-lamanya.” [2]

Jelaslah bagi kita, betapa masalah ghaib adalah perkara besar, dan tidak diketahui oleh siapapun, sampai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sekalipun, kecuali hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lantas sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diberi keterangan demikian, dia terus berjanji untuk sangat bersikap hati-hati sekali.

Demikianlah di antara rambu-rambu yang ada di dalam Islam. Dalam berbagai hal, para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengamalkan perintah dan menjauhi larangan secara ikhlas, sesuai dengan aturan yang ada. Sedang apabila berkaitan dengan hubungan sesama manusia maka berbentuk ukhuwah Islamiyah yang saling menyayangi (ruhamaa’u bainahum), dan asyiddaa’u ‘alal kuffaar (bersikap tegas terhadap orang-orang kafir). Apabila bersalah atau keliru maka cepat-cepat bertobat dan kembali kepada kebenaran, serta tidak akan mengulanginya. Bukan malah ngotot.

Kalau dibandingkan dengan kondisi kita sekarang, kita temukan pemandangan yang kontras sekali. Kisah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut (di alenia awal tentang solidaritas Islam  yang sangat tinggi, dan juga pada riwayat Shahabiyyah Ummu Al-‘Ala’ tentang keharusan berhati-hati mengenai bicara agama terutama hal ghaib), mereka adalah jelas menegakkan dan mengamalkan agama dengan sangat teguh, sedang kisah kolusi dalam kehidupan masa kini itu adalah menyepelekan agama, sembrono, bahkan ada yang sampai merusak agama dengan sangat liciknya.

Sadarlah kita, beginilah keadaannya. Mari kita perbaiki diri kita dengan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman dan pengamalan generasi terbaik, yaitu tiga generasi awal Islam (Shahabat, Tabi’ien, dan Tabi’it Tabi’ien) secara konsisten, konsekuen, dan istiqomah. Itu secara pribadi-pribadi. Sedang secara tanggung jawab bersama, perlu kita sadari bahwa gejala rusak yang melanda sekarang ini akan menumbuhkan satu generasi rusak agamanya yang parah. Bila satu generasi telah rusak parah agamanya, maka kemungkinan besar akan mewariskan generasi yang lebih parah, atau paling kurang adalah sama parahnya dengan sebelumnya. Maka, sebelum kerusakan ini menumbuhkan satu generasi yang rusak parah, hendaknya Muslimin yang sadar akan pentingnya manhaj shahih dalam Islam mengadakan musyawarah, bagaimana menghadapi masalah amat gawat ini.

Pertama, perlu dimusyawarahkan langkah-langkah untuk memasyarakatkan kesadaran bahwa sekarang ini Ummat Islam dilanda kerusakan dari aneka seginya. Jadi Ummat Islam secara keseluruhan perlu disadarkan masalah bahaya yang melanda diri mereka selama ini.

Kedua, perlu dimusyawarahkan langkah-langkah untuk memasyarakatkan atau menda’wahkan Islam dengan manhaj yang shahih secara sistematis, terencana rapi, dan tidak menyimpang dari  pola yang telah ditempuh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diwarisi oleh generasi awal Islam yang bisa mengubur adat jahiliyah berganti dengan Islam. Di sini peran muballigh, khothib, imam masjid, para guru agama/ ustadz dan tokoh Islam pada umumnya, bahkan Ummat Islam secara umum sangat diperlukan untuk digalang maju bersama di atas jalan yang benar. Dan di situ pula masih tetap harus merujuk kepada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا [النساء/59]

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan  hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An-Nisaa’/ 4:59).

Perlu disadari, tidak ada lain yang mau mendandani, memperbaiki atau memulihkan kembali Ummat Islam ini kecuali diri Muslimin sendiri. Sementara itu sebagian orang yang mengaku dirinya Muslim ternyata telah banyak yang secara terang-terangan merusak Islam dan Ummat Islam. Bahkan kadang mereka bergabung –secara sengaja atau tidak– dengan musuh-musuh Islam. Sedangkan kondisi Ummat Islam sendiri rawan dari berbagai seginya terutama rawan ilmu agamanya dan keteguhannya. Dari sinilah tampak benar bahwa syari’at jihad itu wajib diamalkan/ dipraktekkan, baik secara fisik maupun secara mental dan pemikiran. Dan di situlah lahan luas untuk memperjuangkan agama Allah itu tersedia kapan saja. Jangan sampai disia-siakan. Karena tegaknya agama itu di antaranya adalah dengan jihad. Hal itu diakui dan disadari sama sekali oleh musuh-musuh Islam, maka syari’at jihad itu pula yang menjadi bidikan utama dan pertama untuk mereka rusak. Maka marilah kita kembalikan dan fungsikan lagi syari’at jihad itu pada proporsinya, kita kembalikan Islam ini pada aslinya, dan kita amalkan semuanya itu lillahi Ta’ala. Insya Allah perusakan yang telah segencar-gencarnya ini akan bisa kita tanggulangi, dengan idzin dan pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.  Ingatlah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan, sehebat-hebatnya upadaya syetan itu adalah lemah.

الَّذِينَ آَمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا [النساء/76]

“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syetan itu, karena sesungguhnya tipu daya syetan itu adalah lemah.” (QS An-Nisaa’/ 4:76).

Di samping Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan lemahnya tipu daya syetan, masih pula Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa posisi Muslimin itu adalah paling tinggi derajatnya, tidak boleh merasa hina dan bersedih hati.

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ [آل عمران/139]

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali ‘Imran/ 3:139).

Jaminan Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa tipu daya syetan itu lemah, sedang derajat orang-orang yang beriman itu paling tinggi asal memang benar-benar beriman adalah modal dasar yang amat tinggi dan besar nilainya bagi orang-orang yang mempertahankan keimanan dan melawan kebatilan yang ditawarkan antek-antek syetan. Oleh karena itu marilah kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Ummat Islam diberi kekuatan untuk mempertahankan keimanan dan melawan kebatilan yang ditawarkan oleh syetan dan konco-konconya itu, sehingga Ummat Islam mampu menegakkan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala di bumi-Nya ini dengan mengalahkan hukum-hukum Thaghut bikinan syetan yang tipudayanya lemah itu. Sehingga terwujud masyarakat Islami yang istiqomah dalam mengamalkan Islam, tegar menghadapi musuh, dan ikhlas dalam beramal, serta bersemangat untuk mewariskan generasi yang konsisten dengan Islam.

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberkahi Ummat Islam yang konsisten/ istiqomah, hingga menepati jalan-Nya sampai akhir hayat. Amien, ya Rabbal ‘aalamien.

——————————————————————————–

[1] (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi dan An-Nasaai dari Abu Hurairah/ Al-Quran dan Tafsirnya Depag RI: X, 6.)

[2] صحيح البخارى – (ج 5 / ص 85)

عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِى خَارِجَةُ بْنُ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ أَنَّ أُمَّ الْعَلاَءِ – امْرَأَةً مِنَ الأَنْصَارِ – بَايَعَتِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – أَخْبَرَتْهُ أَنَّهُ اقْتُسِمَ الْمُهَاجِرُونَ قُرْعَةً فَطَارَ لَنَا عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ ، فَأَنْزَلْنَاهُ فِى أَبْيَاتِنَا ، فَوَجِعَ وَجَعَهُ الَّذِى تُوُفِّىَ فِيهِ ، فَلَمَّا تُوُفِّىَ وَغُسِّلَ وَكُفِّنَ فِى أَثْوَابِهِ ، دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقُلْتُ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْكَ أَبَا السَّائِبِ ، فَشَهَادَتِى عَلَيْكَ لَقَدْ أَكْرَمَكَ اللَّهُ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « وَمَا يُدْرِيكِ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَكْرَمَهُ » . فَقُلْتُ بِأَبِى أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَنْ يُكْرِمُهُ اللَّهُ فَقَالَ « أَمَّا هُوَ فَقَدْ جَاءَهُ الْيَقِينُ ، وَاللَّهِ إِنِّى لأَرْجُو لَهُ الْخَيْرَ ، وَاللَّهِ مَا أَدْرِى – وَأَنَا رَسُولُ اللَّهِ – مَا يُفْعَلُ بِى » . قَالَتْ فَوَاللَّهِ لاَ أُزَكِّى أَحَدًا بَعْدَهُ أَبَدًا .

Dari Ibnu Syihab berkata, telah mengabarkan kepada saya Kharijah bin Zaid bin Tsabit bahwa Ummu Al ‘Ala’ seorang wanita Kaum Anshar yang pernah berbai’at kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkannya bahwa; Ketika Beliau sedang mengundi pembagian sahabat Muhajirin (untuk tinggal di rumah-rumah sahabat Anshar sesampainya mereka di Madinah), maka ‘Utsman bin Mazh’un mendapatkan bagiannya untuk tinggal bersama kami. Akhirnya dia kami bawa ke rumah-rumah kami. Namun kemudian dia menderita sakit yang membawa kepada kematianya. Setelah dia wafat, maka dia dimandikan dan dikafani dengan baju yang dikenakannya. Tak lama kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang lalu aku berkata, kepada Beliau: “Semoga rahmat Allah tercurah atasmu wahai Abu As-Sa’ib (‘Utsman bin Mazh’un). Dan persaksianku atasmu bahwa Allah telah memuliakanmu”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Dari mana kamu tahu bahwa Allah telah memuliakannya?” Aku jawab: “Demi bapakku, wahai Rasulullah, siapakah seharusnya orang yang dimuliakan Allah itu?” Beliau menjawab: “Adapun dia, telah datang kepadanya Al Yaqin (kematian) dan aku berharap dia berada diatas kebaikan. Demi Allah meskipun aku ini Rasulullah, aku tidak tahu apa yang akan dilakukan-Nya terhadapku”. Dia (Ummu Al ‘Ala’) berkata: “Demi Allah, tidak seorangpun yang aku anggap suci setelah peristiwa itu selamanya”. (HR Al-Bukhari – 1166) 3/385, 6/223 dan 224, 8/266 dalam Fathul Bari, dan Ahmad 6/436 dari Ummu al-‘Ala’ Al-Anshariyah binahwihi, lihat buku H Hartono Ahmad Jaiz, Rukun Iman Diguncang, Pustaka An-Naba’, Jakarta, cetakan II, 2000, halaman 73-74, dan buku Gus Dur wali? Mendudukkan Tasawuf, Darul Falah, Jakarta, 1999/ 2000, halaman 7-8).

Dikutip dari buku Tasawuf, Pluralisme, & Pemurtadan, Jakarta 2001.
karya Hartono Ahmad Jaiz dengan sedikit editing, dilengkapi haditsnya oleh nahimunkar.com

(nahimunkar.com)