Presiden Jokowi (IST)


Sikap pemerintah yang terlihat ketakutan dengan kebangkitan Islam tetapi tidak memperhatikan bahaya kebangkitan komunis di Indonesia.

 “Betapa takutnya Pemerintah @jokowi akan kebangkitan Islam dan cuek dengan kebangkitan gerakan komunis,” wartawan senior Edy A Effendi di akun Twitter @eae18.

Menurut Edy, “ketakutan” Jokowi akan kebangkitan umat Islam dipicu argumen kaum liberal yang menuduh aksi-aksi umat Islam itu aksi kaum radikal.

“Ketakutan presiden @jokowi akan kebangkitan umat Islam, ini dipicu argumen kaum liberal yang menuduh aksi-aksi umat Islam, itu aksi kaum radikal,” tulis @eae18.

Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung pada Mei 2016 sempat mengingatkan penegak hukum agar tidak berlebihan menggunakan kewenangannya membubar paksa acara yang dihelat kelompok tertentu. Negara berlandaskan hukum, tapi masyarakat memiliki hak dalam demokrasi.

Pramono mengatakan Presiden Joko Widodo telah menghubungi Kapolri dan Panglima TNI. Mereka diminta mengingatkan anak buahnya agar tidak semena-mena lagi. Khususnya pembubaran acara yang digelar kelompok tertentu atau sweeping barang yang kerap dikaitkan dengan komunisme atau PKI.

“Jujur kaget. Jokowi minta Polri dan TNI hentikan sweeping isu komunisme. Kok Densus 88 ‘semau gue’ tembak terduga teroris?” tanya @eae18.

‏@eae18 juga menulis: “Pernyataan Pak @jokowi yang disampaikan Mas @pramonoanung terkait intruksi ke Polri dan TNI hentikan sweeping isu komunisme, sungguh aneh.

Permintaan JKW hentikan sweeping isu komunisme dan amat ketakutan dengan gerakan ABI (Aksi Bela Islam), sungguh penuh tanda tanya. Ada apa?”*/http://suaranasional.com 16/12/2016

(nahimunkar.com)