Oleh : Yusuf Utsman Baisa

  • Orang luar semakin tertarik datang ke negeri ini – bisa jadi – bukan karena keteraturannya, akan tetapi karena di sini apa saja serba boleh, bisa diatur dan yang penting uang.
  • Jarak antara benar dan salah, baik dan buruk juga manfaat dan bahaya  semestinya sangatlah jauh, akan tetapi karena sikap “permisif” jadi dianggap berdekatan dan tidak berbatas. Hal ini disebabkan oleh hilangnya tolok ukur dan ketidak mampuan dalam mengukur atau bahkan tidak mau mengukur.

 permisif

ilustrasi/ pulsk


Sikap “toleran” pada saat ini sudah semakin hambar rasanya, lama kelamaan kalau terus dibiarkan semua jadi serba boleh dan tidak dianggap masalah. Orang luar semakin tertarik datang ke negeri ini – bisa jadi – bukan karena keteraturannya, akan tetapi karena disini apa saja serba boleh, bisa diatur dan yang penting uang.

Jarak antara benar dan salah, baik dan buruk juga manfaat dan bahaya  semestinya sangatlah jauh, akan tetapi karena sikap “permisif” jadi dianggap berdekatan dan tidak berbatas. Hal ini disebabkan oleh hilangnya tolok ukur dan ketidak mampuan dalam mengukur atau bahkan tidak mau mengukur.

Dengan hikmah Allah yang maha tahu, manusia telah diberinya kemampuan dasar dalam mengukur setiap perbuatan, perlakuan dan sikap yang disebut dengan “fithroh”. Dengannya manusia menera dan mengukur tawaran dan tampilan yang ada di hadapannya untuk diterima sebagai kebenaran, kebaikan dan manfaat, atau ditolak karena dinilainya salah, buruk dan bahaya.

Ketajaman “fithroh” akan semakin kuat jika diasah dengan wahyu Ilahy yang akan membimbing dan mengarahkannya. Hasilnya adalah sikap “taqwa” yang selalu mengiringi seorang mukmin dimanapun dia berada.

Tantangan bagi bangsa ini semakin besar untuk bisa  bertaqwa dalam semua situasi, kondisi dan di hadapan setiap rayuan dan godaan, sementara orang luar terus berusaha untuk membuat Indonesia semakin terbuka untuk menerima semua komoditi, budaya, agama dan konsep interaksi sosial tanpa mempedulikan nilai yang dikandungnya dan akibat buruk yang akan ditimbulkannya.

Banyak iming-iming yang dipaparkan dari mulai bantuan, hibah, hutang, investasi, pertukaran, idol sampai kepada award. Banyak pula tekanan yang diarahkan dan diancamkan, mulai dari pelanggaran HAM, demokrasi, emansipasi, hubungan politik dan ekonomi sampai kepada tekanan militer.

Situasi dan kondisi akan semakin buruk jika yang dikedepankan adalah kepentingan individu ataupun partai dan tidak lagi mempertimbangkan bangsa, negara, agama dan perkembangan generasi muda yang akan menggantikan generasi yang eksis pada saat ini.

Kalau beberapa dekade ke depan, situasi dan kondisinya jadi rumit bahkan gawat karena sikap permisif para pemangku kekuasaan pada saat ini yang telah menggunakan tongkat komando dan palu kebijakan dengan cara yang salah, maka muncul pertanyaan : Siapakah yang harus bertanggung-jawab? Dan apa yang bisa dilakukan dalam perbaikan?

Hampir bisa dipastikan, bahwa semua orang tidak mau dipersalahkan.

Sebelum semua akibat buruk dari sikap “permisif” pada saat ini menjadi kenyataan dan menimbulkan persoalan yang “multidimensi”, maka sebaiknya kita semua menyadari akan salahnya sikap ini dan segera berhati-hati. Jangan sampai ambisi kepada kehormatan, kekuasaan, pujian, kedudukan, syahwat biologis dan nafsu hedonis merajalela dan menghalalkan segala cara.

Pada akhirnya hal yang paling utama dalam menghadapi persoalan adalah kesadaran akan adanya persoalan dan kamauan dalam menyelesaikan.

Written by Gema Islam, 05 Juni 2013

(nahimunkar.com)