Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Seorang muballigh di Betawi masa lalu pernah berkisah, di padang pasir dulu sering banyak penyamun yang membegal kafilah yang lewat. Suatu malam ada kafilah yang jumlah anggotanya tidak begitu banyak. Di depan sana di tempat rawan sudah tampak ada beberapa penyamun yang mencegat kafilah yang lewat. Maka kafilah mini ini tidak berani bergerak melewati lokasi rawan. Daripada kalau meneruskan perjalanan akan dibegal, lebih baik sementara  mereka berhenti dulu, menunggu kafilah lain atau menunggu siang.

Di kala shubuh, kafilah mini ini orang-orangnya shalat berjama’ah shubuh di tempat mereka berhenti. Ternyata kemudian di depan sana terlihat, orang-orang yang disangka penyamun itu lagi berjama’ah shalat. Dari takbiratul ihram sampai salam pun mereka lakukan dengan tertib.

Dengan gejala yang tampak seperti itu, maka kafilah mini pun mulai bergerak tanpa khawatir. Pelan-pelan mereka mulai berjalan dan akan melewati tempat rawan namun kenyataannya orang-orangnya shalat berjama’ah shubuh itu.

Begitu sampai di tempat rawan, tiba-tiba kafilah itu disergap beramai-ramai oleh orang-orang yang tadinya tampak shalat shubuh berjama’ah itu. Lalu amir kafilah (ketua rombongan kafilah) berakata: Tadi kalian shalat berjama’ah. Kenapa sekarang membegal kami?

Itu shalat untuk kamu, bukan untuk Allah, tahu?! Jawab para penyamun.

Terjadilah apa yang terjadi. Yang ditampakkan adalah perbuatan atau perkataan yang benar, namun tujuannya batil. Maka kita perlu waspada.

***

Di suatu negeri ada dua kelompok yang dari zaman penjajahan selalu berhadapan. Yang satu gigih membela agama secara bersih (sunnah), yang satunya membela mati-matian daki-daki yang nempel di agama (bid’ah). Di zaman penjajahan, pembela dan pengusung daki itu pada pertemuan akbar pertamanya tahun 1927 di antaranya menghasilkan keputusan: menjunjung dengan sepuluh jari pemerintahan Hindia Belanda karena sesuai syari’at. Ketika dibacakan keputusan muktamar pertamanya itu dalam sejarah disebutkan, ada yang nyeletuk, yang tidak setuju agar dibuang ke Digul, satu tempat di selatan Papua yang mengerikan saat itu.

Di zaman sombongnya orang-orang ateis dan nasionalis, pendukung daki itupun bergabung dengan yang anti Tuhan dan nasionalis. Namun ketika yang anti Tuhan bergolak, pembela daki itu pun jadi sasaran utama pembunuhan. Bahasa gaulnya, kacihaan deh… kalian… sudah cape-cape gabung dengan yang anti Tuhan, masih juga jadi sasaran utama untuk dibunuh.

Sikap dan prilaku menyimpang serta mencelakakan diri sendiri itu memang sudah biasa di kalangan mereka.

Di zaman asas satu lima dasar dipaksakan oleh rezim penguasa, maka pendukung daki itupun di barisan nomor wahid untuk mendukungnya. Padahal Ummat lagi resah. Anehnya, mereka berbangga bahwa telah menjadi pendukung nomor wahid pemaksaan asas satu lima dasar. Tahu-tahu anak buahnya yang tergabung dalam barisan pembela serba manfaat mengaku pula bahwa sang anak inilah pendukung nomor wahid dipaksakannya asas satu lima dasar. Antara bapak dan anak yang sama-sama pendukung daki ini berebut sebagai pendukung nomor wahid.

Terakhir di saat dunia tampak mengganyang apa yang mereka sebut radikalisme, maka kelompok ini kabarnya berkumpul dengan tokoh-tokoh sejenisnya sedunia yakni pengusung daki untuk menggalang kekuatan dalam apa yang mereka sebut radikalisme.

Itu apakah memang benar-benar secara makna memang akan menghadapi apa yang mereka sebut radikalisme yang mengandung pengertian terorisme atau ada maksud-maksud lain?

Bila ditilik watak wantu gawan bayinya (karakter dasarnya) adalah pengusung daki, maka lafal radikalisme jangan-jangan yang mereka maksudkan adalah sunnah. Lawan dari bid’ah. Perlu dilihat jejak selanjutnya, apakah untuk melestarikan bid’ahnya, maka sementara mereka membonceng lafal radikalisme. Itung-itung dapat obyekan sedikit, sambil “berjuang”. Apakah memang demikian?

Seandainya memang demikian, maka titip pesan saja, titenono di akherat kelak. Allah Maha Tahu dan keras siksanya!