stop free sexStop seks bebas.    Republika/Tahta Aidilla

REPUBLIKA.CO.ID, Sebuah penelitian yang dilakukan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), mengungkap sebanyak 85 persen remaja usia 13-15 tahun mengaku pertama kali melakukan hubungan seks dengan pacar mereka di rumah. Itu penelitian atas 2.488 remaja di Tasikmalaya, Cirebon, Singkawang, Palembang, dan Kupang pada 2005. Apa yang salah?

Menurut psikolog Vera Itabiliana, kecenderungan remaja melakukan hubungan seks di rumah sendiri sudah terjadi sejak lama. ”Tapi, dengan adanya penelitian PKBI temuan itu semakin mencuat ke masyarakat,” katanya.

Rumah, kata Vera, merupakan tempat paling aman baik dari sudut pandang anak-anak maupun orang tua. Orang tua terlalu percaya dan menganggap selama anak-anak di rumah akan aman. Sebab, mereka lebih mudah diawasi ketimbang saat di luar rumah. ”Lagi pula, dengan ruang yang terbatas tidak memungkinkan anak-anak berani berbuat aneh-aneh,” katanya.

Sebaliknya, lanjut Vera, versi anak-anak, rumah tempat paling aman untuk melakukan apa pun. Anak-anak sangat memahami mulai dari situasi, suasana sampai kondisi kapan saja rumah itu dalam keadaan aman atau tidak. ”Anak-anak sudah hafal betul bagaimana gerak-gerik, bahkan seluk-beluk orang-orang di rumah, termasuk jam-jam berapa suasana rumah sepi. Makanya, anak-anak memilih rumah sebagai tempat aman untuk melakukan apa pun, termasuk kemungkinan melakukan perbuatan seks,” papar Vera.

Kekhawatiran anak melakukan hal-hal terlarang, menurut Vera, sebenarnya sudah bisa diantisipasi sejak awal. Sejak dini orang tua harus sudah berkomunikasi terbuka dengan anak, termasuk juga masalah seks.

Misalkan, ketika anak bertanya, ”Mamah, temanku si A, kok sudah ciuman? Emang boleh ya anak-anak ciuman?”, orang tua harus siap memberi jawaban yang benar.

Lebih jauh lagi, kini ada ‘isu’ yang beredar di kalangan anak-anak, kalau hanya sekali melakukan seks, tidak akan hamil. Agar tidak hamil, setelah melakukan hubungan seks harus meloncat-loncat. Bila anak paham tentang seks dan segala risikonya –mulai moral agama hingga yang bersifat fisik–, kata Vera, mereka tidak akan berani melakukan perbuatan yang penuh risiko itu.

REPUBLIKA.CO.ID, Tuesday, 28 May 2013, 10:13 WIB

***

Mahasiswi Hamil Akibat Zina

Jogjakarta bukan hanya dahsyat kemusyrikannya –sampai ketika ada bencana letusan Merapi bukannya bertaubat malah menyembelih kerbau, kepalanya untuk sesaji ke Merapi–, namun lebih dari itu dahsyat pula kebejatan moralnya. Hingga mencapai derajat paling banyak untuk tingkat tingkat Indonesia tentang kasus mahasiswi yang hamil akibat zina.

Di Indonesia, kasus perzinaan paling dahsyat terjadi di Yogyakarta. Tercatat sebanyak 37 persen dari 1.160 mahasiswi sudah hamil karena berzina. Na’udzubillahi min dzalik! (Sumber: Voaislam, Senin, 29 Nov 2010).

Bejatnya moral itu jauh-jauh hari telah diancam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللَّهِ .

Apabila zina dan riba telah tampak nyata di suatu negeri maka sungguh mereka telah menghalalkan adzab Allah untuk diri-diri mereka. (Hadits Riwayat Al-Hakim dengan menshahihkannya dan lafadh olehnya, At-Thabrani, dan Al-Baihaqi).

Ancaman adzab sudah nyata, namun bejatnya akhlaq manusia telah menunjukkan angka yang sangat memprihatinkan di berbagai tempat di Indonesia.

Ancaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ فَيُعْلِنُوا بِهَا إلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا

Tidaklah merajalela kekejian di suatu kaum sama sekali, lantas mereka melakukan kemaksiatan secara terang-terangan kecuali mereka akan dilanda penyakit (wabah) tho’un dan penyakit yang belum pernah terjadi pada umat dahulu-dahulunya yang telah lalu. (HR Ibnu Majah, Abu Nu’aim, Al-Hakim, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan Ibnu ‘Asakir, hasan-shahih menurut Syaikh Al-Albani).

(nahimunkar.com)