Watak Mbulet,

Modal Sukses Orang dan Media di Indonesia

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Apa itu mbulet?

Mbulet adalah lafal dari Bahasa Jawa, artinya (sikap atau perkataan) memutar-mutar, sulit dipegang, sulit dipercaya, (mengandung makna pandai berkelit dan berkilah plus ndableg dan tebal muka atau nekat).

Watak mbulet (berkelit, tidak mudah diusut dan sulit dipercaya) tampaknya sudah mewabah di Indonesia. Siapa yang paling mbulet maka boleh jadi akan mendapatkan tempat di jajaran paling depan.

Ini bukan memukul rata manusia Indonesia ataupun media massa. Tetapi tampaknya sudah sampai mewabah di kalangan manusia Indonesia, bahkan media massa.

Bagaimana media tega sampai membuat judul Royalti “Tak Gendong” Tembus Rp 10 Miliar, padahal media itu media terkemuka, dan mereka tahu bahwa itu hanya pepesan kosong tanpa isi; kalau bukan karena media itu menyadari bahwasanya bermodal mbulet itulah diri media ini dapat meraih barisan terdepan.

Boleh dibilang, watak mbulet yang sebenarnya merugikan orang bahkan masyarakat itu justru jadi modal orang-orang tertentu dan bahkan media-media tertentu untuk meraih sukses.

Oleh karena itu Ummat Islam perlu kembali mengikuti petunjuk dari Allah Ta’ala, dalam hal menghadapi kondisi masyarakat ataupun media yang wataknya mbulet itu. Karena sudah ada peringatan dari Allah Ta’ala yang cukup tegas:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ(6)

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS Al-Hujurat: 6)

Ketika sudah ada peringatan dari Allah Ta’ala seperti itu, maka kita perlu waspada, kritis, dan bijak. Tidak grusa-grusu atau ujas-ujus, hantam kromo (main sabet) saja..

Mengenai urusan sehari-hari pun di Indonesia sudah ada kata-kata buruk lagi aneh yang beredar: Kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah?

Itu benar-benar mendukung lakon mbulet. Sudah buruk, diberi imbauan buruk lagi, ya jadilah apa yang terjadi! Padahal petunjuk dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam, agar memudahkan (urusan) orang dan tidak boleh mempersulitnya. Kenapa kata-kata di Indonesia justru sebailknya?

Tuntunan itu sebagai berikut:

1024 حَدِيثُ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَسَكِّنُوا وَلَا تُنَفِّرُوا *

1024 Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: Permudahkan dan jangan menyulitkan, tenangkan dan jangan menakut-nakuti. (Hadits Muttafaq ‘alaih).

Pembaca yang kami hormati, kami tidak merekomendasikan untuk membaca contoh-contoh berita berikut ini, karena akan menyita waktu Anda, dan tidak ada gunanya. Tetapi berita-berita berikut ini hanya sebagai sebagian dari bukti bahwa manusia Indonesia dan medianya itu memang ada yang bermodal mbulet. Sedang kebanyakan orang justru termakan atau jadi korban dari orang-orang dan media yang mbulet itu.

Inilah contohnya, berita yang mbulet (setelah berita ini di bawah nanti bisa dibuktikan dengan berita yang tidak mbulet)

Royalti “Tak Gendong” Tembus Rp 10 Miliar

Kamis, 6/8/2009

JAKARTA, KOMPAS.COM – Keluarga Mbah Surip memprotes manajemen Kampung Artis yang dianggapnva terlalu banyak meraup keuntungan. Namun, pihak Kampung Artis selaku manajemen Mbah Surip membantahnya.

“Kami tak membuat Mbah Surip sebagai sapi perahan,” ujar Petrus Idi Darmono dari Kampung Artis saat ditemui di kawasan Depok, Rabu (5/8).

Selama Mbah Surip bergabung dengan manajemen Kampung Artis, kata Petrus, pihaknya baru tiga kali memberi pekerjaan kepada pria berambut gimbal tersebut. Tiga pekerjaan itu bernilai Rp 63 juta.

Selebihnya mereka tak bisa mengganggu jadwal promo Mbah Surip. Jadwal pentas Mbah Surip memang padat, tapi itu tak datang dari Kampung Artis. Selain diurusi manajemennya, Mbah Surip juga dimanajeri Farid, anak keduanya. “Di media banyak yang bilang manajemen nggak becus. Padahal kita punya waktu dari 100 persen, hanya 40 persen saja. Mbah itu nggak matrealistis, nggak memikirkan
gepokan uang,” jelas Petrus.

Penyanyi, pencipta lagu, dan produser musik Dharma Oratmangun (50) mempertanyakan kabar tentang royalti yang bakal diperoleh Mbah Surip mencapai Rp 4,5 miliar, yang didapat dari RBT (ring back tone/nada sambung atau nada tunggu) lagu “Tak Gendong”. Menurut dia, hasil royalti Mbah Surip itu bisa mencapai nilai minimal Rp 10 miliar.

Dikatakan Dharma, yang merupakan Ketua Umum Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPRI), sampai saat ini masih tidak ada kejujuran kepada seniman, pencipta lagu, dan penyanyi ketika lagunya dijadikan nada sambung atau nada tunggu. “Menurut data yang saya miliki dari sejumlah penelitian tentang penggunaan hak cipta atas hasil karya seni, penyanyi dan pencipta lagu hanya mendapatkan jatah 2,26 persen dari hasil penggunaan nada tunggu atau nada sambung itu. Justru, yang paling menikmati adalah usaha penyedia jasa telekomunikasi, label, dan perantara kontrak antara seniman atau artis,” ujar pria kelahiran Manado, Sulawesi Utara, itu.

Soal ketidakadilan atas bagi hasil itu, lanjut Dharma, selama ini pihak di luar pencipta dan penyanyi justru menerima lebih besar. Salah satu contohnya, penyedia jasa layanan komunikasi seluler mendapatkan Rp 5.575 atau 63,89 persen dari harga RBT yang senilai Rp 9.000 untuk satu kali mengunduh (download).

Sementara itu, tambah Dharma, label dan perantara kontrak mendapatkan Rp 2.438 atau 27,08 persen. “Apa yang terjadi saat ini bagi artis, penyanyi, pencipta lagu, dan seniman sangat memprihatinkan. Padahal, di undang-undang perlindungan hak cipta sudah jelas. Sesuai UU Hak Cipta No 19 Tahun 2002, Pasa145 Ayat 4, kontrak antara penyanyi maupun pencipta lagu untuk penggunaan hak cipta harus ada kesepakatan antara penyanyi/ pencipta lagu dengan penyedia jasa layanan telekomunikasi seluler serta label, termasuk dengan organisasi profesi,” katanya.

“Mbah Surip itu kan sudah 18 tahun jadi anggota PAPRI. Namun, sampai saat ini berapa jumlah penggunaan hak cipta lagu itu tidak dilaporkan oleh pihak pengguna hak cipta,” tambah Dharma.

Dia mengaku sudah ditanya oleh pihak keluarga dan ahli waris Mbah Surip di sela-sela pemakaman.

Menurut Dharma, kondisi yang memprihatinkan ini sudah diupayakan pembelaannya ke pihak berwenang atau pemerintah. Namun, sampai saat ini belum ada ketegasan dan realisasi. Dan, dari hitung-hitungan yang ada di catatan milik Dharma, penyanyi dan pencipta lagu sebenarnya selama ini hanya dapat Rp 406 atau 4,51 persen.

“Coba saja lihat faktanya, kalau cuma dapat seperti itu kan sama saja tidak ada penghargaan atas karya seni. Hanya dijadikan komoditas bisnis saja atau industri. Fakta yang saya dapat di Amerika Serikat, pencipta lagu dapat 9,34 persen, itu belum termasuk jika penciptanya itu juga penyanyinya. Saya cuma berharap apa yang diberitakan dapat dilacak kebenaranya dan royalti yang seharusnya didapat almarhum dapat diungkap,” kata Dharma. (sab/kin/cel/Warta Kota)

Sumber: http://entertainment.kompas.com/read/xml/2009/08/06/e101423/royalti.tak.gendong.tembus.rp.10.miliar

Berita polos dari orang yang polos, sebagai berikut:

Miliarder, Uang di Dompet Mbah Surip Cuma Rp82 Ribu

Jum’at, 7 Agustus 2009 – 07:50 wib

Tomi Tresnady – Okezone

JAKARTA – Mbah Surip ramai diberitakan mendapat royalti Rp4,5 miliar. Seharusnya penyanyi Tak Gendong itu seorang miliarder. Namun, nyatanya di dompet dia cuma ada Rp82 ribu saja.
“Saya melihat di TV, Mbah Surip sudah punya uang banyak. Saya sempat ingin pinjam uang mulai Rp100 ribu-Rp2 juta. Tapi, Mbah menunjukkan dompet isinya cuma ada Rp82 ribu,” ungkap pemilik kontrakan tempat Mbah Surip tinggal, Nyiman (60), di Jalan SMA 4, No 79, Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (6/8/2009).
Masih kata Nyiman, menurut Mbah Surip, nilai Rp4,5 miliar itu hanya bohong belaka.
“Dia bilang, ‘Itu cuma promosi be (babe, panggilan bapak dalam bahasa Betawi). Bohong be’,” ucap Nyiman menirukan Mbah Surip.
Selama enam tahun Mbah Surip mengontrak rumah, Nyiman menangkap kesan Mbah Surip orang yang baik.
“Dia orangnya enak, ramah sama yang punya kontrakan. Dia enggak pernah pergi nyelonong begitu saja. Pasti pamit dulu sama saya,” kenang Nyiman. (ang)

http://celebrity.okezone.com/read/2009/08/06/33/245732/miliarder-uang-di-dompet-mbah-surip-cuma-rp82-ribu

Berita tentang mbuletnya orang-orang dalam satu kasus:

Kamis, 06/08/2009 16:06 WIB
Misteri Harta Mbah Surip
Royalti Tak Pasti, Rumah dan Mobil Ditarik Lagi
Deden Gunawan
– detikNews

Jakarta – Satu unit rumah di Kampung artis, Cipayung, Depok, Jawa Barat dan mobil Suzuki APV warna biru tahun 2006 bernopol B 8155 GX, batal menjadi milik Mbah Surip. Setelah seniman nyentrik itu meninggal dunia, Manajemen Kampung Artis mengambil kembali rumah dan mobil tersebut. Alasannya, kontrak Mbah Surip belum rampung.
Tentu saja, lepasnya rumah dan mobil dari genggaman Mbah Surip itu mengejutkan. Sebab sebelumnya dikabarkan, rumah dan mobil itu adalah bonus atas moncernya album ‘Tak Gendong’ yang dirilis pria gimbal itu.
Namun hal itu dibantah staf manajemen Kampung Artis, Petrus Idi Darmono. Menurutnya, rumah dan mobil itu memang akan menjadi milik Mbah Surip jika kontrak selama tiga tahun selesai.
“Rumah itu bukan bonus tapi sebagai itikad baik kami kepada Mbah Surip. Dalam perjanjian antara kami dan Mbah Surip tertulis kalau rumah dan mobil itu jadi milik Mbah Surip kalau selesai kontrak,” jelas Petrus saat ditemui detikcom.
Dijelaskan Petrus, kesepakatan kerjasama dengan Mbah Surip dimulai sejak Juni 2009 hingga 2012. Selama rentan waktu itu, setiap kegiatan keartisan Mbah Surip ditangani Manajemen Kampung Artis. Dan setelah tiga tahun, maka rumah berikut mobil itu akan resmi menjadi milik Mbah Surip.
Namun takdir berkata lain. Sebelum kontrak berakhir, Mbah Surip telah menghadap Sang Pencipta. Praktis, mobil yang rencananya untuk pria yang gemar berpenampilan ala rasta itu kembali ditarik Kampung Artis.
“Ya sekarang sudah kami tarik. Karena memang perjanjiannya seperti itu,” ujar Petrus.
Lantas bagaimana dengan pemasukan Mbah Surip dari royalti album ‘Tak Gendong’ serta ring back tone (RBT) yang kabarnya hasilnya mencapai miliaran rupiah? Hingga berita ini diturunkan, Manajeman PT Falcon, sebagai perusahaan label yang menangani album Mbah Surip belum bisa dihubungi.
Alhasil, tidak ada gambaran secara yang pasti berapa keping CD ‘Tak Gendong’ yang telah laku di pasaran. Sedangkan untuk royalti dari RBT, beberapa operator seluler mengaku raihan yang didapat tidak seheboh yang digembar-gemborkan.
Public Relations Manager XL, Febriati Nadira mengatakan, total pelanggan RBT lagu Mbah Surip lewat XL hingga saat ini mencapai 70 ribu orang. Peningkatan jumlah orang yang mendownload lagu Tak Gendong terjadi sejak Juni 2009. Sementara lagu Tak Gendong mulai di jual XL sejak Juni 2008.
Soal pembagian royalti, Nadira menjelaskan, dari pemasukan Rp 2 ribu yang diterima akan dibagi dua, yakni untuk operator 50% dan pihak label 50%. Nah bagian Mbah Surip itu masuk dalam bagian yang diterima pihak label, yakni Falcon.
“Untuk mengetahui berapa royalti Mbah Surip dan RBT tanya ke Falcon. Karena Falcon yang akan membaginya kepada Mbah Surip,” jelas Nadira.
Hal yang sama dikatakan Division Head Content Management PT Indosat Tbk Dhoya Sugarda. Menurutnya, untuk royalti RBT Mbah Surip, Indosat bekerja sama dengan Falcon. Jadi untuk urusan royalti tergantung kesepakatan Falcon dengan Mbah Surip.
Namun diakui Sugarda, lagu Mbah Surip memang lumayan laris dalam tiga bulan terakhir. Bahkan saat pria asal Mojokerto itu diketahui meninggal, orang yang men-download lagu ‘Tak Gendong’ mencapai 10 ribu orang dalam sehari.
Adapun total pen-download lagu ‘Tak Gendong’ lewat operator Indosat, sejak Februari 2009 hingga tanggal 6 Agustus ini, jumlahnya mencapai 210 ribu orang. “Itu jumlah total dari Februari 2009 sampai tadi pagi,” terang Sugarda.
Dengan pembagian sistem bagi hasil, maka hasil yang diperolah Indosat dan Falcon masing-masing Rp 105 juta. Dan lagi-lagi jatah untuk Mbah Surip juga tidak diketahui berapa nilainya. Karena semuanya tergantung kesepakatan antara Falcon dengan Mbah Surip. Dan sayangnya, pihak Falcon hingga kini terus bungkam.
Beberapa kawan dekat Mbah Surip juga mengaku tidak mengetahui persis berapa penghasilan Mbah Surip setelah album ‘Tak Gendong’ meledak. Sebab Mbah Surip memang tidak pernah cerita apa-apa tentang penghasilan yang dia dapat.
“Mbah Surip itu orangnya lugu dan tulus. Dia tidak mau memusingkan berapa bayaran dalam setiap manggung. Bagi dia yang penting semua orang bisa senang,” begitu kata Anto Baret, sahabat Mbah Surip. (ddg/ken)

Sumber: http://www.detiknews.com/read/2009/08/06/160627/1178698/159/royalti-tak-pasti-rumah-dan-mobil-ditarik-lagi

Kalau mau proporsional, berita-berita itu sebenarnya cukup dikemukakan bahwa semestinya orang itu memperoleh royalty sekian ratus juta, tetapi kenyataannya dompet orang itu hanya berisi Rp82 ribu. Tentunya dengan sumber-sumber yang layak dipercaya dan diberi judul yang tidak mengada-ada. Tetapi dasar watak mbulet justru dijadikan modal, ya seperti itu kenyataan beritanya.

Lantas salah siapa?

Salah manusia-manusia yang masih saja mau dibodohi atau salah mereka?

Wallahu a’lam.

Kami megutip berita ini bukan berarti menangisinya. Tidak. Sebagaimana pemahaman kami, bagaimanapun, menurut Islam, musik adalah haram, maka royalty dari yang haram juga haram.

Jadi pengutipan berita-berita ini hanya sekadar sebagai bukti betapa sikap mbulet itu telah mencekoki kita lewat sikap-sikap orang dan media massa.

Dari kenyataan ini maka tak mengherankan, aliran-aliran sesat dan JIL ataupun sepilis (sekulerisme, pluralisme agama –menyamakan semua agama–, dan liberalisme) yang telah diharamkan MUI (Majelis Ulama Indonesia) pun laris dan bahkan nglunjak di Indonesia. Bermodalkan watak dan sikap mbulet itu aliran-aliran sesat dan JIL serta sepilis bertahan dan bahkan berkembang. Bahkan aliran sesat yang paling mbulet, dengan ganti-ganti nama, begitu dilarang lalu ganti nama, dilarang lagi ganti nama lagi, pokoknya mbulet-nya nomor wahid, maka ternyata berhasil menjadi aliran sesat terbesar di Indonesia.

Yang jadi pertanyaan, ada perkataan bahwa pemimpin adalah cerminan dari masyarakat yang dipimpin, apalagi memang cara yang ditempuh adalah memilih pemimpin secara langsung oleh setiap rakyat yang berhak memilih.

Lha, kalau yang dipimpin ini terbukti yang sukses itu di antaranya justru yang sesat dan paling mbulet? Lantas pemimpin yang dipilih seperti apa?

Wallahu a’lam bish-showab. Kalau pemimpin itu berani memberantas yang sesat dan mbulet itu maka tentunya ya tidak seperti yang sesat dan mbulet itu.