Pelajaran dari Meletusnya Gunung Merapi

1. Jauh-jauh hari Gunung Merapi di Jawa diyakini ada penunggunya, Kyai Sapu Jagat yang diyakini sebagai roh penunggu Gunung Merapi yang menjaga keselamatan dan ketentraman Kesultanan serta warga Yogyakarta. Keyakinan sangat batil bahkan kemusyrikan (dosa terbesar dan mengakibatkan haramnya masuk surga bila pelakunya sampai mati belum bertaubat) itu dilakukan dengan upacara sesaji (sesajen) yang mereka sebut labuhan hajat dhalem Keraton Kasultanan Yogyakarta di kawasan lereng Gunung Merapi. Upacara sesaji (kemusyrikan) itu dipimpin Juru Kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan.

2. Jauh-jauh hari Mbah Maridjan diperingatkan agar turun dari kediamannya di lereng Gunung Merapi (sekitar 4-6 kilometer) dari puncaknya, namun orang yang biasa memimpin upacara sesaji itu nekad, tak mau turun.

3. Selasa malam, 26/ 10 2010 bertepatan dengan 19 Dzulqa’dah 1431H, Gunung Merapi meletus dengan mengeluarkan awan panas (nahimunkar.com tidak suka apa yang mereka sebut wedus gembel sebagai ganti lafal awan panas, karena penyebutan itu mengandung keyakinan batil. Perlu diketahui, dalam keyakinan sebagian orang Jawa, untuk menghindari bahaya kadang di Jawa menyebut sesuatu yang bahaya dengan sebutan lain karena takut bahaya, seperti tikus malah disebut “den bagus”, maksudnya agar tidak membahayakan. –Nah, kini banyak “den bagus” pada jadi tikus, makanya… ha.. haa…– Jadi itu mengandung keyakinan batil). Awan panas itu membakar hangus rumah Mbah Marijan, sapi-sapi, bahkan manusia-manusia yang setia dengan sikap Marijan yang tidak mau pergi, hingga mereka tewas dalam keadaan melepuh bahkan gosong. Sedang Mbah Marijan kabarnya simpang siur, ada yang memberitakan tewas, ada yang mengabarkan ditemukan dalam keadaan kepayahan.

4. Banyaknya korban letusan Gunung Merapi di Desa Cangkringan, Umbulharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dinilai oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai kesombongan Cangkringan. Sebab tokoh panutan di desa itu (Mbah Marijan) kekeh tidak mau dievakuasi saat status Merapi dinaikkan menjadi Awas, Senin (25/10) pukul 06.00 WIB.

Inilah berita-beritanya, dan di bagian bawah ada keterangan tentang bahaya kemusyrikan.

Gunung Merapi Meletus, di Mana Mbah Maridjan?

SELASA, 26 OKTOBER 2010 | 20:23 WIB

TEMPO Interaktif, Sleman – Gunung Merapi telah meletus namun juru kunci Gunung Merapi Mbah Maridjan sampai saat ini belum diketahui keberadaannya. Sejumlah relawan sempat membujuk Mbah Maridjan untuk turun ke pengungsian sesaat sebelum awan panas muncul. Namun saat awan panas muncul, mereka kehilangan jejak Mbah Maridjan.

”Kami sempat nego dengan si Mbah, tapi tiba-tiba terdengar letusan. Kami lari menyelamatkan diri. Sejak itu kami tidak menemukan si Mbah,” kata salah seorang sumber Tempo yang tidak bersedia disebut namanya saat dihubungi Tempo, Selasa (26/10) malam ini.

Sumber ini menuturkan, para relawan datang ke rumah Mbah Maridjan sebelum awan panas turun. Saat itu para relawan sempat melihat awan panas ke arah barat daya dalam radius sekitar 7 kilometer atau ke arah Magelang. ”Saat itu kami belum lari,” katanya.

Namun usai Maghrib, mereka melihat ada warna merah menyala di puncak Merapi yang mengarah ke selatan. Guguran lava itu tepat mengarah tepat di tempat tinggal Mbah Maridjan, yakni di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Lokasi dusun tersebut berada dalam kawasan rawan bencana III atau 5 kilometer dari puncak Merapi.

”Saat itulah kami lari dan tak lagi melihat si Mbah. Padahal waktu itu sedang negosiasi dengan si Mbah agar mau turun ngungsi,” kata sumber itu.

Beberapa kerabat Mbah Maridjan, menurut sumber itu, sudah turun mengungsi. Namun kerabat lainnya belum terlihat, seperti adik ipar Mbah Maridjan, Udi Sutrisno.

Sementara itu, Kepala Dusun Kinahrego Ramijo belum juga bisa dihubungi. Meski demikian, sumber tersebut belum bersedia memastikan dimana kondisi terakhir Mbah Maridjan. ”Kami akan naik untuk mencari lagi,” kata sumber tersebut.

PITO AGUSTIN RUDIANA

sumber: TEMPO Interaktif, Sleman

Tidak mau pindah, dinilai sombong. Inilah beritanya:

Sultan: Ini Kesombongan Cangkringan

RABU, 27 OKTOBER 2010 | 05:33 WIB

TEMPO Interaktif, Sleman -Banyaknya korban letusan Gunung Merapi di Desa Cangkringan, Umbulharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dinilai oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai kesombongan Cangkringan. Sebab tokoh panutan di desa itu kekeh tidak mau dievakuasi saat status Merapi dinaikkan menjadi Awas, Senin (25/10) pukul 06.00 WIB.

Tokoh panutan di Desa Cangkringan ada dua orang yaitu Mbah Marijan dan Ponimin. Kedua orang yang dianggap paling berpengaruh itu tidak mau dievakuasi ke tempat pengungsian yang telah disediakan. Sehingga banyak warga yang masih “ngeyel” tidak mau mengungsi.

“Ini kesombongan Cangkringan,” kata Sultan yang juga Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta saat berada dalam mobil Alphardnya mengunjungi lokasi pengungsian di Desa Hargobinangun dan Umbulharjo, Selasa malam (26/10).

Imbauan para ahli dengan data-data ilmiah justru ditanggapi warga dengan mengabaikan peringatan dan anjuran petugas yang sudah siap mengevakuasi mereka. Warga lebih memilih mengikuti panutan di desa mereka. Sehingga saat Merapi meletus masih banyak warga yang berada di Kawasan Rawan Bencana III dan II. Akibatnya, banyak korban jiwa yang terkena awan panas atau sering disebut wedus gembel.

Kabar Mbah Marijan saat berita ini ditulis masih simpang siur. Ada yang mengatakan dia selamat dan ditemukan di lereng di dekat rumahnya. Padahal, menurut kesaksian Tri Hartoko salah satu Tim SAR dari Penanggulangan Bencana Pemerintah Kabupaten Sleman rumah Mbah Maridjan rusak berat diterjang awan panas. Sedangkan orang yang berada di sekitar rumahnya sebanyak empat orang tewas tersapu awan panas itu.

“Empat orang ditemukan tewas dan gosong meskipun tubuh utuh,” kata Tri.

Sedangkan rumah-rumah disekitar rumah Mbah Marijan juga hancur, pohon bertumbangan dan menutup jalan akses ke dusun Kinahrejo tempat tinggal Mbah Marijan.

Sedangkan Tukimin dan enam anggota keluarga lainnya yang sempat terjebak awan panas di rumahnya bisa diselamatkan oleh Tim SAR dan dibawa ke RS Panti Nugroho, Pakem, Sleman.

Saat ini jumlah korban tewas yang masuk ke RSUP dr Sardjito sudah 12 orang. Mereka sedang diidentifikasi. Sedangkan korban luka masih belum terdata secara komplit di Posko Pennggulangan Bencana di Pakem, Sleman.

MUH SYAIFULLAH

Sumber: TEMPO Interaktif

Para korban ada wartawan, ada dokter. Inilah beritanya:

Korban tewas di sekitar Mbah Maridjan jadi 16 orang

Sleman– Jumlah korban yang tewas di sekitar Rumah Mbah Maridjan akibat awan panas Gunung Merapi bertambah menjadi 16 orang. Di antaranya seorang wartawan dan seorang dokter polisi (dokpol).

Demikian disampaikan oleh anggota TNI dari Komandan Angkatan Laut (Danlanal), Kolonel Pramono kepada wartawan di Posko Hargobinangun, Jl Kaliurang KM 20, Sleman, Yogyakarta, Rabu (27/10/2010). Tim Danlanal merupakan satu-satunya tim evakuasi yang berhasil mencapai rumah Mbah Maridjan.

“Di sepanjang jalan menuju rumah Mbah Maridjan, anggota menemukan 12 mayat dan langsung dievakuasi, diserahkan ke ambulans. Itu belum termasuk jenazah yang ada di rumah Mbah Maridjan 4 orang,” jelas Pramono.

Pramono menerangkan, timnya yang beranggotakan 37 orang ini melakukan evakuasi bersama-sama dengan tim lainnya, namun hanya timnya yang berhasil mencapai puncak karena menggunakan truk kuat.

Evakuasi pertama sempat tersendat, karena jalan banyak terhalang pohon yang tumbang. Setelah pohon dipindahkan, tim melanjutkan perjalanan ke rumah Mbah Maridjan dan akhirnya berhasil menemukan mayat bergelimpangan di sepanjang jalan.

“Yang meninggal itu satu wartawan, satu dokpol,” tuturnya.

Pramono menceritakan, saat tiba di desa Kinahrejo, situasi sangat mencekam. Banyak pohon yang tumbang dan kering. Sejumlah rumah bahkan masih dalam keadaan terbakar. Halaman rumah Mbah Maridjan sendiri dipenuhi abu setebal 10 cm.

“Di sana ketika anggota saya masuk, ketinggian abu sekitar 10 cm. Jadi begitu kaki menginjak, langsung ‘jlub’ seperti menginjak pasir,” terangnya.

Selain itu, bau belerang juga tercium sangat tajam di lokasi. Atas berbagai pertimbangan, maka Pramono memutuskan untuk menarik timnya.

“Tapi kemudian anggota terpaksa saya tarik pukul 23.00 WIB. Karena ada laporan kondisi di sana sudah tidak memungkinkan dilakukan evakuasi. Hanya tim kami yang sampai ujung sana. Ketika sampai di desa, tercium bau belerang yang kuat makanya segera saya tarik anggota,” jelasnya.

Dtc/.solopos.com

Upacara kemusyrikan. Inilah beritanya:

16-Aug-2007

RAGAM

Mbah Marijan Pimpin Labuhan Jumenengan HB X

indosiar.com, Yogyakarta – Juru Kunci Gunung Merapi Mbah Maridjan Rabu (15/08/07) kemarin, memimpin prosesi labuhan hajat dhalem Keraton Kasultanan Yogyakarta dikawasan lereng Gunung Merapi.

Labuhan tersebut digelar sebagai bentuk penghormatan kepada Kyai Sapu Jagat yang diyakini sebagai roh penunggu Gunung Merapi yang menjaga keselamatan dan ketentraman warga Yogyakarta.

Labuhan yang digelar Rabu kemarin atau bertepatan dengan tanggal 1 Ruwah, Tahun Komariah diawali dari kampung Juru Kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan di Dusun Kinah Rejo, Umbulharjo, Cangkringan.

Para peserta berjalan kaki menyusuri lereng Merapi dengan membawa berbagai perlengkapan sesaji. Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam, Mbah Maridjan beserta rombongan sampai di pos pendakian kedua atau Bukit Kendit sebagai tempat labuhan. Setelah melakukan doa bersama, prosesi dilanjutkan dengan acara selamatan yang kemudian dibagi-bagikan kepada masyarakat.

Ditempat ini mereka disuguhi tari-tarian. Tradisi Labuhan Merapi ini merupakan bentuk penghormatan kepada Kyai Sapu Jagat yang diyakini sebagai roh penunggu Gunung Merapi yang menjaga keselamatan dan ketentraman Kesultanan serta warga Yogyakarta. (Sudaryono/Sup)

Sumber: indosiar.com

Itu Upacara Kemusyrikan

Upacara dengan aneka rangkaiannya untuk menghormnati roh yang dianggap sebagai penjaga keselamatan itu adalah bentuk syirik atau kemusyrikan, dosa paling besar dan dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam. Pelakunya disebut musyrik. Berikut ini penjelasannya:

orang yang menyembah selain Allah adalah orang paling sesat sejagad raya. Allah ta’ala berfirman,


وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّن يَدْعُو مِن دُونِ اللَّهِ مَن لَّا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَومِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَن دُعَائِهِمْ غَافِلُ وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاء وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyeru kepada sesembahan-sesembahan selain Allah, sesuatu yang jelas-jelas tidak dapat mengabulkan doa hingga hari kiamat, dan sesembahan itu juga lalai dari doa yang mereka panjatkan. Dan apabila umat manusia nanti dikumupulkan (pada hari kiamat) maka sesembahan-sesembahan itu justru akan menjadi musuh serta mengingkari peribadatan yang dilakukan oleh para pemujanya.” (QS. Al Ahqaf: 5-6)

dosa kesyirikan akan menghapuskan semua pahala amal shalih, betapapun banyak amal tersebut. Allah ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada para Nabi sebelum engkau, ‘Jika kamu berbuat syirik maka pastilah seluruh amalmu akan lenyap terhapus dan kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar: 65)

Allah mengharamkan surga dimasuki oleh orang yang berbuat syirik. Allah ta’ala berfirman,


إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sesungguhnya Allah telah mengharamkan surga baginya dan tempat kembalinya adalah neraka, dan tiada seorang penolongpun bagi orang-orang zhalim tersebut.” (QS. Al Maa’idah: 72)

Apa Syirik Itu?

Syirik adalah bahaya yang sangat serius, bagaikan virus ganas yang bisa mengganggu kesehatan iman. Imam Ahmad bin Hajar Ali Buthami, seorang ulama dari kalangan madzhab Syafi’iyah, mengingatkan bahwa iman itu bercabang-cabang, demikian juga dengan kekafiran dan kemusyrikan. Orang yang menjalankan cabang-cabang iman sekaligus tersangkut cabang-cabang kemusyrikan, bisa disebut musyrik. Iman seseorang tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila hanya separuh-separuh; separuh iman, separuh kafir. Ia wajib tunduk seraya meyakini terhadap apa yang disebutkan dalam al-Qur’an dan dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mengamalkannya. Orang yang beriman kepada sebagian ajaran al-Qur’an dan tidak beriman kepada sebagian yang lain, termasuk orang kafir. Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan tentang orang-orang seperti ini,

وَيَقُوْلُوْنَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيْدُوْنَ أَنْ يَتَّخِذُوْا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيْلاً

“Orang-orang kafir itu mengatakan, “Kami beriman kepada sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain), serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman dan kafir).” (An-Nisa: 150)

Sekadar mengucapkan dua kalimat syahadat, masih menurut Ahmad bin Hajar, tidak akan berguna hingga mau mengamalkan tuntutan yang terkandung dalam dua kalimat syahadat, yaitu melepaskan diri dari menyembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hanya beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja. Namun, beliau mengingatkan, agar tidak terburu-buru menuduh seseorang yang melakukan tindakan syirik sebagai kafir atau musyrik, sebelum menjelaskan kepadanya tentang kekeliruannya tersebut. Barangkali orang tersebut tidak memahami masalah tersebut karena kebodohannya. Apabila sudah dijelaskan tentang masalah syirik, tetapi tetap menjalankannya, maka barulah bisa disebut sebagai musyrik. (Bayanu al-Syirk wa Wasa-iluhu ‘inda Ulama al-Syafi’iyah karya Dr. Muhammad Abdurrahman al-Khumais)

Syirik bisa dipisahkan menjadi dua, syirik besar (akbar) dan syirik kecil (asghar).

Syirik besar mengeluarkan pelakunya dari agama Islam dan menjadikannya kekal di dalam neraka, jika hingga meninggal dunia belum juga bertaubat. Syirik besar adalah memalingkan sesuatu bentuk ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, mendekatkan diri dengan penyembelihan kurban atau nadzar untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik untuk kuburan, jin atau setan, atau mengaharap sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang tidak kuasa memberikan manfaat maupun mudharat.

Di antara batasan syirik akbar adalah”

1. Syirik dalam rububiyah, seperti keyakinan bahwa arwah orang yang sudah meninggal mampu memberikan manfaat atau mudharat, memenuhi kebutuhan orang yang hidup, atau keyakinan bahwa ada orang yang ikut mengatur alam raya ini bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala , dan seterusnya.

2. Syirik dalam asma’ wa shifat, seperti keyakinan bahwa ada orang yang mengetahui hal ghaib selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, misalnya dukun, peramal, dan semacamnya, syirik dengan menyerupakan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sifat makhluk, dan lain-lain.

3. Syirik dalam uluhiyah (ibadah), seperti syirik dalam ibadah, doa, takut, cinta. Harap, taat, dan sebagainya.

Konsekuensi pelaku syirik akbar ini adalah:

a. Yang tidak diampuni (apabila pelakunya mati dan belum bertaubat).

b. Pelakunya diharamkan masuk surga.

c. Kekal di dalam neraka.

d. Membatalkan semua amalan, termasuk amalan yang lampau.

Sementara di antara batasan syirik ashghar adalah:

1. Qauli (berupa ucapan), seperti bersumpah dengan menyebut selain nama Allah Subhanahu wa Ta’ala , dan sejenisnya.

2. Fi’li (berupa perilaku dan perbuatan), seperti tathayyur, datang ke dukun, memakai jimat dan rajah dan sejenisnya.

3. Qalbi (berupa amal hati/batin), seperti riya, sum’ah, dan sejenisnya.

Syirik kecil tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, tetapi mengurangi tauhid dan menjadi perantara terjerumus dalam syirik besar. Syirik ini meliputi empat macam, yaitu syirik niat: dari semula meniatkan ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala , syirik doa: berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala atau selain berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berdoa kepada selain-Nya, syirik taat: menaati selain Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana menaati-Nya, syirik mahabbah: mencintai selain Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana mencintai-Nya.

Syirik ini terdiri dari dua, yaitu syirik yang jelas dan samar/tersembunyi:

a. Dosanya di bawah kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalau Allah Subhanahu wa Ta’ala ampuni pelakunya tidak diadzab dan kalau tidak diampuni, pelakunya masuk terlebih dahulu di neraka meskipun setelah itu dimasukkan ke dalam surga.

b. Tidak kekal dalam neraka (kalau dia dimasukkan ke dalam neraka)

c. Tidak membatalkan semua amalan, tetapi sebatas yang dilakukan dengan syirik.

d. Pelakunya tidak diharamkan dari surga.

(Lihat Majalah Fatawa Vol. V/No. 03, Jogjakarta, Rabi’ul Awwal 1430, Maret 2009 hal. 8-11).

Marilah kita jadikan peristiwa-peristiwa itu sebagai ‘ibrah (pelajaran), sehingga semoga kita terhindar dari adzab, baik di dunia maupun di akherat kelak. (nahimunkar.com)